Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 353 Kiriman Pesan


__ADS_3

Sekar Ratih sedang menyapu halaman pondhok dalam di pagi hari, dan terlihat beberapa murid sedang melakukan peregangan. Mata gadis kecil itu melihat ada seekor merpati putih yang terbang rendah, dan terlihat sangat lemah seperti kecapaian. Melihat burung itu, muncul rasa iba di hati gadis kecil itu. Perlahan Sekar Ratih mendatangi burung itu, kemudian mengangkat di tangannya. Tiba-tiba tangan gadis kecil itu menyentuh gulungan daun lontar yang diikat di bawah kaki burung tersebut. Sekar Ratih melepaskan  ikatan itu, kemudian menyimpan daun lontar tersebut di dalam lipatan bajunya.


"Kamu pasti capai merpati.., sepertinya kamu sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh." sambil mengusap kepala merpati itu, Sekar Ratih membawa burung itu ke dalam. Di bawah padasan, gadis kecil itu mengambil bathok dari tempurung kelapa, dan mengisi dengan air yang diambilnya dari padasan. Setelah bathok itu berisi air, perlahan Sekar Ratih melepaskan burung di sekitar bathok tersebut. Persis dengan apa yang diduganya, burung itu langsung memasukkan paruh ke dalam bathok tersebut.


"Kamu pasti lapar juga merpati, tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan biji-bijian untukmu.." setelah sekali lagi mengusap kepala burung merpati itu, Sekar Ratih segera berlari menuju lumbung penyimpanan bahan pangan mentah perguruan. Setelah meminta ijin pada penjaga lumbung, Sekar Ratih berhasil membawa biji-biji jagung di tangannya. Gadis kecil itu segera kembali ke tempat burung merpati itu ditinggalkan.


"Ratih.., apa yang kamu lakukan..?" tiba-tiba terdengar suara Chakra Ashanka bertanya padanya. Gadis kecil itu menoleh, dan senyum cerah menghiasi bibir gadis kecil itu.


"Ratih dari lumbung kang Ashan.., meminta biji jagung ini pada penjaga." Sekar Ratih menunjukkan satu buah jagung mentah di tangannya pada anak muda itu. Chakra Ashanka berjalan mendekat padanya,


"Jangan bilang, sejak aku tinggal ke kerajaan Logandheng selera makanmu menjadi berubah Ratih. Apalagi cukup lama kamu dan beberapa perempuan disini tinggal di pengungsian yang ada di balik bukit." Chakra Ashanka bertanya dengan pandangan menyelidik.


"Kenapa begitu kang Ashan bilangnya, sama saja Kang Ashan merendahkan perguruan ini. Seolah-olah perguruan ini membiarkanku kelaparan.." tiba-tiba bibir Sekar Ratih berubah menjadi cemberut. Melihatnya seperti itu, Chakra Ashanka tersenyum dan menjadi gemas melihat gadis kecil itu. Tanpa sadar tangannya Chakra Ashanka mengusap kepala Sekar ratih sambil tersenyum.


"Waduh..., masak begitu saja ngambek Ratih.. Maafkan aku ya, jika tanpa sadar perkataanku telah menyinggung perasaanmu." dengan tatapan bersalah, Chakra Ashanka meminta maaf pada gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ha.., ha.., ha.. ternyata kang Ashan bisa melucu juga. Jagung ini akan Ratih berikan pada burung merpati putih kang.. Tanpa sengaja, saat Ratih sedang menyapu, burung itu tampak kelelahan dan kelaparan. AKhirnya Ratih dekati, kemudian Ratih rawat juga di belakang pondhok sana.." Ratih mengarahkan jari telunjuknya ke belakang pondhok.


"Burung merpati putih..., jangan.., jangan..." tiba-tiba muncul kecurigaan Chakra Ashanka pada burung yang diceritakan Sekar Ratih. Anak muda itu menatap Sekar Ratih dengan penuh tanda tanya. Tanpa menjawab gadis kecil itu menarik tangan Chakra Ashanka kemudian membawa anak muda itu ke belakang pondhok.


Di belakang pondhok, mata Chakra Ashanka terbelalak melihat burung merpati putih peliharaan kakeknya Ki Mahesa berada disini. Anak muda itu kemudian berjongkok dan mengusap punggung burung merpati itu dengan rasa penasaran.


"Kang Ashan mengenal burung ini...? Jangan-jangan daun lontar ini untuk kang Ashan.." tiba-tiba Sekar Ratih mengeluarkan gulungan daun lontar dari lipatan bajunya, kemudian menyerahkan pada anak muda itu.


Melihat gulungan daun lontar itu, mata Chakra Ashanka berbinar. Anak muda itu langsung menerima gulungan daun lontar itu dari tangan Sekar Ratih.


"Kota Laksa.., dimana itu kang? Apakah suatu saat kang Ashan akan membawa Ratih untuk mengunjungi kota itu. Ratih ingin mengetahui ada dimana kota itu kang Ashan.." gadis kecil itu banyak bertanya pada anak muda itu.


"Satu-satu tanyanya Ratih. Berlatihlah dulu, bekali dirimu dengan kanuragan. Jika ada waktu dan kesempatan, aku pasti akan membawamu kesana. Di kota Laksa, keluarga ayahnda Wisanggeni banyak  berkumpul disana. Ada Eyang Mahesa, paman Lindhu Aji, paman Widjanarko dan juga putra putri mereka." Chakra Ashanka menceritakan sedikit tentang keberadaan keluarganya di kota Laksa. Dengan mata berbinar, Sekar Ratih mendengarkannya tanpa berkedip mata.


"Baik Kang Ashan.., Ratih akan rajin berlatih. Bagaimana Ratih akan bisa memberi pelayanan kepadamu, jika Ratih tidak menguasai kanuragan juga." Sekar ratih menjawab perkataan Chakra Ashanka dengan bergumam.

__ADS_1


"Uhuk.., uhuk.., pagi-pagi ternyata sudah ada yang berkencan di belakang pondhok ini." tiba-tiba kedua anak muda itu dikejutkan dengan suara Bhadra Arsyanendra yang sudah berada di belakang mereka. Chakra Ashanka menoleh dan memberi tatapan tajam pada bocah laki-laki itu.


"Ha.., ha.., ha... Ashan.., Ashan.. jangan terlalu serius. Siapapun pasti akan curiga Ashan, melihat kalian berdua pagi-pagi sudah berada di belakang pondhok, sedang asyik berbincang-bincang. Memang tidak ada tempat yang lain untuk kalian berdua saling berbicara." Bhadra Arsyanendra malah mentertawakan mereka. Tetapi rupanya bocah itu hanya bercanda, karena begitu matanya menatap merpati putih yang sedang memakan biji jagung, matanya langsung bersinar cerah.


"Merpati putih siapakah ini, cantik sekali. Bulu-bulunya putih bersih, menandakan jika burung ini sangat terawat. Jika belum memiliki majikan, aku mau menjadikan merpati putih ini sebagai binatang peliharaanku." bocah laki-laki itu kemudian berjongkok, tetapi begitu tangannya terulur untuk memegang merpati itu, binatang itu malah terbang menjauh.


"Kenapa bisa begini Ratih.., Ashan.. Burung siapakah itu..?" Bhadra Arsyanendra berteriak, dan menanyakan burung itu pada kedua temannya itu.


Chakra Ashanka dan Sekar Ratih saling berpandangan, dan senyuman muncul di bibir mereka. Bhadra Arsyanendra melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.


"Raden Bhadra.., Raden sudah menakuti burung merpati peliharaan Eyang kang Ashan. Burung itu baru saja datang, setelah menempuh perjalanan jauh. Baru saja dapat menikmati biji jagung, dan minuman, kedatangan Raden Bhadra tanpa sadar sudah mengusirnya pergi." melihat kebingungan bocah kecil itu, Sekar Ratih tidak tega akhirnya gadis itu menjelaskannya.


"Begitu ya.., maafkan sikapku Ashan. AKu tidak mengetahuinya, bagaimana cara menangkap burung itu kembali." dengan tatapan bersalah, Bhadra Arsyanendra menatap Chakra Ashanka.


Putra Wisanggeni dan Rengganis hanya tersenyum, kemudian anak muda itu bertepuk tangan. Beberapa saat kemudian, burung merpati putih itu terbang menukik turun dan hinggap di bahu kanan Chakra Ashanka.

__ADS_1


***********


__ADS_2