Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 449 Mimpi Buruk


__ADS_3

Kepatihan Kerajaan Logandheng


Chakra Ashanka terduduk dan segera mengambil kendi, kemudian anak muda itu minum langsung dari dalam kendinya. Kesegaran terasa mengalir di kerongkongannya, kemudian menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Nafas anak muda itu masih terengah-engah, tiba-tiba saja di tengah malam ini, Chakra Ashanka mengalami mimpi buruk, sampai tubuhnya mengalami seperti tindhihan.


"Apa yang akan terjadi dengan diriku atau keluargaku... rasanya mimpi yang aku alami baru saja, merupakan sesuatu yang nyata.." anak muda itu berbicara pada dirinya sendiri. Di tengah malah seperti ini, tidak mungkin dirinya akan mencari tempat untuk diajaknya berbicara.


"Ayahnda.. ibunda.. Nimas Parvati.. apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Firasatku kenapa menjadi seburuk ini, tidak biasanya akan menjadi hal yang menakutkan seperti ini. Dalam mimpiku tadi.. seperti terlihat ayahnda Wisanggeni, dan ibunda Rengganis menggapai-gapaikan tangan meminta pertolongan. Tidak ada siapapun di sekitarnya yang mampu memberikan bantuan kepada mereka." Chakra Ashanka terus teringat pada mimpi buruknya itu.


Laki-laki itu kemudian berdiri, kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Perlahan anak muda itu menggeser pintu, kemudian keluar dari dalam ruangan dan berjalan menuju ke tritisan. Angin malam yang dingin menerpa wajah anak muda itu, tetapi tidak dirasakan oleh Chakra Ashanka. Pandangan mata Chakra Ashanka melihat ke atas, terlihat rembulan yang sebagian tertutup awan di langit.


"Sepertinya aku harus segera mengambil waktu jeda, aku membutuhkan waktu untuk menjelajah alam, menghilangkan  kepenatan dan tubuh pegalku untuk melihat langsung ke wilayah kerajaan Logandheng." anak muda itu tiba-tiba memiliki gagasan.


"Ashan putraku.. selamatkan kami nak..." sayup-sayup, Chakra Ashanka seperti mendengar suara ibundanya Rengganis merintih meminta tolong kepadanya. Anak muda itu terperanjat, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Namun tidak ada yang dapat ditemukan oleh anak muda itu,


"Putraku.. salurkan tenaga dalammu nak.. Salurkan melalui punggung ayahnda.." terdengar lagi suara ayahnda nya WIsanggeni. Kedua suara rintihan dan permintaan pertolongan itu terus terdengar di telinga anak muda itu.


Kembali anak muda itu mengelilingi tempat itu, namun kembali tidak ada yang bisa ditemukannya. Melihat samsak tergantung di tengah halaman, anak muda itu bergegas menuju ke tempat tersebut.

__ADS_1


"Buk.. buk.. buk.." pukulan bertubi-tubi diarahkan anak muda itu, untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Hal itu dilakukan secara terus menerus, dan seperti tidak mengenal kelelahan. Namun beberapa saat, anak muda itu menghilangkan kegundahan dengan memukuli samsak di depannya, suara rintihan ayahnda dan ibundanya belum juga hilang dari pikirannya.


Chakra Ashanka jatuh terduduk dan berjongkok di atas tanah. Kedua tangan anak muda itu ditangkupkan di atas wajahnya, Beberapa saat anak muda itu berada dalam posisinya, sampai tidak menyadari ada sepasang kaki yang melangkah ke tempat tersebut.


Sebuah telapak tangan tanpa disadari oleh anak muda itu memegang pundak kanannya, namun tetap tidak ada reaksi dari Chakra Ashanka. Merasa tidak ada tanggapan, telapak tangan itu menepuk perlahan pundaknya sebanyak tiga kali. Sontak anak muda itu mengangkat wajahnya, kemudian menengadahkan wajahnya, dan matanya beradu pandang dengan sepasang mata jernih yang mengandung pertanyaan ingin tahu.


"Apa yang terjadi kakang... untuk apa malam-malam seperti ini kakang berlatih di halaman." dengan lembut, Sekar Ratih bertanya pada anak muda di depannya. Tangan gadis muda itu terulur, dan anak muda itu segera meraih tangannya. Dengan menggunakan tenaganya, anak muda itu berdiri dengan dibantu oleh gadis muda di depannya itu. Setelah Chakra Ashanka berdiri, Sekar Ratih mengajak anak muda itu kembali masuk ke dalam ruangan.


Di kursi panjang, Sekar Ratih mengajak anak muda itu untuk duduk. Chakra Ashanka menyandarkan kepala di atas sandaran kursi..


Satu cangkir kayu berisi air putih diserahkan Sekar Ratih pada anak muda itu, dan Chakra Ashanka langsung menghabiskannya. Beberapa saat kemudian... anak muda itu sudah terlihat mulai bisa menenangkan pikirannya.


"Kakang kenapa, apakah ada sesuatu hal yang menghantui pikiran kakang. Hingga tengah malam seperti ini, di kala semua orang terlelap dalam peraduan, kakang meninju sansak di halaman wisma ini. Kebetulan Nimas terbangun, sehingga mengetahui apa yang kakang lakukan." dengan ucapan lirih, Sekar Ratih bertanya pada Chakra Ashanka.


"Kakang mengalami mimpi buruk Nimas... tetapi sebenarnya bukan hanya sekedar mimpi buruk. Kakang seperti mendengar rintihan ibunda Rengganis, dan disusul oleh ayahnda Wisanggeni yang berteriak meminta pertololongan. Hal itu terdengar secara terus menerus Nimas.. dan kakang jadi teringat dengan kedua orang tuaku." sambil tersenyum kecut, Chakra Ashanka menceritakan apa yang sedang dialaminya.


"Ada kekhawatiran dalam diriku, jika mereka berdua dengan Nimas Parvati sedang dalam bahaya.." lanjut laki-laki muda itu.

__ADS_1


Sekar Ratih terdiam, tidak biasanya anak muda di sampingnya ini mengalami hal-hal seperti ini. Meskipun kedua orang tuanya sedang berada dalam sebuah pertarungan, tidak pernah ada hal yang terjadi seperti saat ini. Tetapi.. untuk hanya menganggapnya sebagai sebuah bunga tidur, dan sebuah ilusi, rasanya juga tidak dapat diterima oleh nalarnya.


"Hmm.. Nimas tidak bisa mengartikan makna dari mimpi buruk kakang.. Dalam mimpi tersebut, kira-kira.. apakah ada pesan atau latar belakang yang tersembunyi kakang? Melalui hal itu mungkin kita bisa membuat sebuah rekayasa kejadian." Sekar Ratih akhirnya memberikan tanggapan.


"Tidak jelas Nimas... hanya di depan ayahnda dan ibunda seperti terlihat banyak orang yang sedang berteriak kesakitan, namun tangan dan kaki mereka dirantai. Seakan-akan ada kekuatan jahat yang menahan mereka.." ucap Chakra Ashanka dengan tatapan kosong.


"Menurutku kakang... sepertinya hal ini harus segera kita utarakan pada Kanjeng Sinuhun. Sebagai orang asli dari kerajaan ini, mungkin Kanjeng Sinuhun mengetahui apakah ada tempat seperti yang ada di dalam gambaran mimpi kakang. Selain itu, kakang juga akan bisa mengajukan rehat untuk menempuh perjalanan menghilangkan perasaan gundah ini." kembali gagasan diusulkan oleh gadis muda itu.


Chakra Ashanka terdiam, anak muda itu kemudian menatap mata gadis yang duduk di sampingnya itu. Gadis muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala, ketika mata mereka bertatapan. Chakra Ashanka merasakan ada air yang menenangkan muncul dalam hatinya, melihat dukungan tulus dari gadis yang ada di sebelahnya itu.


"Baik Nimas... apa yang kamu katakan sepertinya ada benarnya. Bagaimanapun, kakang tidak akan bisa menutupi rasa khawatir di hati ini, sebelum mengetahui bagaimana keadaan ayahnda, ibunda dan juga Nimas Parvati." sahut anak muda itu perlahan.


"Besok Nimas akan menemani kakang, untuk saat ini ada baiknya kakang Ashan untuk kembali beristirahat. Hanya dengan cukup istirahat, pikiran kita akan dapat bekerja dan berpikir dengan sebenarnya. Kembalilah ke kamar kakang, Nimas juga akan kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahat." sahut Sekar Ratih.


Chakra Ashanka tersenyum, kemudian tanpa diduga anak muda itu meraih tengkuk Sekar Ratih dengan menggunakan salah satu tangannya. Belum habis rasa kebingungan pada gadis muda itu, tiba-tiba anak muda itu memajukan kepala Sekar Ratih dan sebuah ciuman diberikan Chakra Ashanka di kening gadis muda itu. Mata Sekar Ratih terbelalak, dan dengan muka merah gadis muda itu mendorong dada anak muda itu, kemudian berlari keluar dari kamar anak muda itu.


*******

__ADS_1


__ADS_2