
Di lereng bukit..
Bhadra Arsyanendra dan Ayodya Putri sedang membersihkan ikan yang baru saja mereka tangkap di kali. Beberapa ekor ikan dengan ukuran besar, sudah terlihat bersih dan diletakkan di atas lembaran daun pisang. Tampak darah ikan masih mengotori tangan Bhadra Arsyanendra, yang jika hal itu disaksikan oleh warga masyarakat kerajaan Logandheng akan menjadi sebuah masalah besar. Beratnya gelar sebagai seorang raja yang harus disandangnya, membatasi ruang gerak dari laki-laki itu,
"Kenapa kamu melihatku sambil senyum-senyum sendiri Nimas Putri.. apakah ada hal lucu terkait dengan diriku.." melihat beberapa kali Ayodya Putri tersenyum ketika melihatnya, Bhadra Arsyanendra bertanya langsung pada gadis muda itu.
"Ampun.. ampun.. jangan salah sangka padaku raden Bhadra.. Nimas hanya berpikir, betapa salah dan kurang ajarnya diriku Raden. Bisa menyuruh seorang raja dari kerajaan Logandheng untuk melakukan hal kotor seperti ini. Nimas tidak membayangkan, jika ada warga masyarakat yang mengetahui akan hal ini.. he.. he..." dengan tertawa kecil, Ayodya Putri menjawab pertanyaan anak muda itu.
"Tidak ada raja dan rakyat jelata di hutan ini Nimas.. abaikan pikiran ngawurmu itu. cepat bawakan kayu kecil dan tusukkan di ikan yang sudah aku bersihkan ini. Jadi.. kita tinggal membakarnya setelah sampai di puncak bukit nantinya.." ucap Bhadra Arsyanendra.
Dengan cekatan, Ayodya Putri melaksanakan perintah dari laki-laki muda itu. Dirinya juga demikian, ketika masih tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, jangankan membersihkan ikan. Untuk makan ikan saja, pelayan rumah harus membersihkan duri baru disajikan untuknya makan siang. Ayodya Putri tersenyum kecut, membandingkan apa yang dilakukannya di masa lalu, dengan masa sekarang.
"Jangan terlalu banyak melamun Nimas.. nanti kamu bisa kangslupan. Ingat di tengah hutan ini, bukan hanya kita manusia saja yang menghuninya. Tetapi banyak pula dari dimensi lain yang hidup di tempat ini.." melihat Ayodya Putri kembali melamun, muncul keusilan Bhadra Arsyanendra menggoda gadis muda itu.
"Bukan melamun hal yang tidak penting Raden.. hanya saja Nimas membandingkan kehidupan saat dulu, dengan kehidupan di saat sekarang. Ternyata Nimas bisa menjalani dan menyesuaikannya.." ucap Ayodya Putri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benar ucapanmu Nimas.. akupun juga demikian. Kepergianku ke perguruan Gunung Jambu sudah membuka mata dan hatiku. Ternyata dunia ini luas, tidak hanya kita berada di dalam rumah dengan keberadaan pelayan yang siap untuk membantu kita.." ucap Bhadra Arsyanendra lirih.
"Sudah.. kita tidak perlu lagi menghabiskan waktu kita disini. Kita harus segera kembali ke puncak bukit, khawatir Nimas Ratih dan kang Ashan mencari kita lagi.." akhirnya Bhadra Arsyanendra segera mengajak Ayodya Putri untuk berjalan kembali menuju bukit.
Kedua anak muda itu segera berdiri, kemudian merapikan ikan-ikan yang sudah dibersihkan. Ayodya Putri membawa buah-buahan yang sudah mereka petik. Keduanya segera bergegas berjalan meninggalkan tempat itu. Tapi baru saja mereka belum jauh melangkah, Bhadra Arsyanendra menghentikan langkahnya. Dengan tidak percaya, laki-laki muda itu melihat ke arah depan. Seorang gadis muda yang selalu dirindukannya, saat ini sedang berjalan dengan diapit oleh dua laki-laki tampan bersamanya.
"Raden.. apa yang terjadi Raden.. Kenapa kamu jadi berhenti dan berdiri mematung di tempat ini.." Ayodya Putri yang tidak mengetahui apa yang terjadi bertanya pada anak muda itu.
"Nimas.. katakan jika saat ini aku sedang berhalusinasi Nimas.. Katakanlah.." ucap Bhadra Arsyanendra yang terlihat bingung.
"Nimas Parvati.. benarkah itu kamu Nimas.." Ayodya Putri tidak kalah terkejutnya. Perempuan muda itu seperti tidak percaya dapat bertemu dengan Parvati di tempat itu, dan membawa dua laki-laki muda tampan bersamanya.
"Raden Bhadra.. Nimas Putri.. ini benar diriku Nimas.. Parvati. Firasatku ternyata tidak salah untuk menunjukkan arah, keberadaan kalian semua di bukit ini benar adanya. Bagaimana kang Arya.. kang Dananjaya.. benar bukan firasatku.." mendengar dengan akrabnya lidah Parvati menyebut nama-nama laki-laki muda yang sedang bersamanya, Bhadra Arsyanendra menjadi tidak nyaman. Senyuman tiba-tiba saja hilang dan lenyap dari bibir laki-laki muda itu,
Arya dan Dananjaya saling berpandangan, kemudian menganggukkan kepala secara bersamaan dan melihat ke arah Parvati. Kedua laki-laki muda itu sama sekali mengabaikan keberadaan Ayodya Putri dan Bhadra Arsyanendra di tempat itu. Seakan-akan menganggap keduanya tidak berada di situ.
__ADS_1
"Jika begitu.. mari kita segera ke puncak bukit Nimas.. Disana kakangmas Chakra Ashanka dan Nimas Sekar Ratih juga berada disana." Ayodya Putri segera mengajak mereka untuk menuju ke puncak bukit.
"Apakah hanya mereka berdua Nimas Putri.. tidakkah kedua orang tuaku juga berada disana. Karena jika ayahnda dan ibunda tidak berada disana, maka lebih baik aku kembali pergi dengan kedua temanku ini. Ada hal lain yang lebih penting, dari pada hanya berkumpul dengan kalian semua." tidak bermaksud untuk menolak ajakan mereka, karena hatinya dipenuhi oleh perasaan khawatir akan keadaan kedua orang tuanya, Parvati menanggapi perkataan Ayodya Putri.
"Tidak perlu terburu-buru untuk menyanggupinya Nimas.. Lihatlah dulu, paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis juga ada disana, Mereka berdua membutuhkanmu, putrinya.." ucap Ayodya Putri dengan lirih akhirnya. Bhadra Arsyanendra seperti tidak mampu mengeluarkan suara.
"Baiklah.. kang Arya.. kang Danan.. sebentar lagi kalian berdua akan bertemu dengan keluarga besarku. Itu jika kalian mengikutiku. Namun.. jika kang Arya dan kang Danan, masih memiliki urusan yang lebih penting, maka aku tidak akan melarang kalian berdua untuk pergi dan berpisah denganku di tempat ini.." sebelum mengikuti AYodya Putri, Parvati mengajak bicara kedua anak muda itu.
"Kami tentu akan sangat senang dapat mengenal langsung kedua orang tuamu Nimas.. Mari kita segera menuju ke puncak bukit, tempat yang sejak dalam perjalanan selalu kamu bicarakan." Dananjaya dengan cepat menanggapi perkataan Parvati. Arya juga mengiyakannya.
Akhirnya ke lima anak muda itu berjalan beriringan. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Bhadra Arsyanendra, dan karena saking semangatnya ingin berjumpa dengan kedua orang tuanya, Parvati lupa dan mengabaikan keberadaan anak muda itu.
Beberapa saat dalam perjalanan, Ayodya Putri baru menyadari apa yang dirasakan oleh anak muda yang ada di sampingnya itu. Karena beberapa kali, dirinya juga mengalami hal yang sama, karena merasa diabaikan oleh Chakra Ashanka. Tetapi setelah menghibur kembali dirinya, dan kedua anak muda itu sudah menjalin kedekatan sebelum mengenal dirinya, perlahan gadis itu mulai bisa mengobati rasa kecewanya.
********
__ADS_1