Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 327 Serangan Balik


__ADS_3

Tubuh Senopati Wiroyudho ambruk berlumuran darah, tetapi rupanya kondisi yang dialaminya tidak membuyarkan semangatnya. Dengan memegang dada yang mengalir darah segar ke bawah, laki-laki itu berusaha untuk bangun kembali. Dengan tatapan marah, Senopati Wiroyudho menggerakkan tangannya seperti memberi perintah pada anak buahnya.


"Trap.., trap..." puluhan panah api meluncur dari udara, dengan mengarah pada Rengganis. Perempuan itu tersenyum kecut, dengan tangan kanannya mengibaskan selendang hijau di tangannya, mencoba untuk menghalau puluhan anak panah berapi tersebut.


Tetapi bukannya semakin berhenti, tetapi hujan anak panah itu semakin deras meluncur ke arah perempuan itu. Satu anak panah berhasil lolos dari halauan selendang di tangan perempuan itu, dan meluncur deras ke arah dada Rengganis. Di satu sisi, serangan dari senopati Wiroyudho tidak berhenti, meskipun tubuhnya sudah terluka parah, laki-laki itu terus menyerang pada perempuan itu.


"Srueettt trang... brakk..." tiba-tiba sesosok bayangan muncul dan menghadang serangan yang meluncur ke arah Rengganis. Sebuah ledakan keluar dari tangan sosok bayangan itu, menghempas menyerang ke arah pasukan yang meluncurkan anak panah.


Tatapan Senopati Wiroyudho dengan nanar menatap keheranan pada laki-laki muda itu. Melihat tubuhnya yang masih muda, anak laki-laki itu sudah dapat memporak porandakan pasukannya dalam satu serangan. Tiba-tiba senopati Wiroyudho merasa gemetar, karena tatapan anak muda itu tiba-tiba terarah padanya,


"Suingg... srett..." dari atas, tiba-tiba meluncur binatang, dan tanpa ijin binatang itu mengangkat tubuh Rengganis, kemudian membawanya pergi meninggalkan tempat itu.


"Lepaskan Ulung..., aku akan membantu Ashan putraku.." terdengar teriakan Rengganis meminta Singa Ulung yang terbang membawanya ke atas untuk menurunkannya. Tetapi dengan kencang, ke empat kaki binatang itu memegang erat tubuh ibunda Chakra Ashanka.


"Bibi..., siapakah bibi. Apakah bibi ini ibunda Kang Ashan..?" tiba-tiba Rengganis dikejutkan dengan suara seorang gadis kecil di atas punggung binatang itu. Dengan sopan, gadis kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepala, menyapa Rengganis.

__ADS_1


Rengganis membalas senyuman gadis kecil itu, kemudian menepuk kaki Singa Ulung untuk melepaskannya. Merasa jika majikan perempuannya sudah bisa mengendalikan dirinya, akhirnya binatang itu menuruti keinginan Renggani. Begitu cengkeraman Singa Ulung di tubuhnya lepas, Rengganis melompat dengan gesit ke arah punggung Singa Ulung, dan duduk di belakang Sekar Ratih.


Mengamati gadis kecil yang duduk di depannya, muncul pertanyaan Rengganis tentang identitas perempuan itu. Mengetahui bagaimana karakter putranya, tidak mungkin jika Chakra Ashanka akan membawa pulang seorang gadis kecil, tanpa alasan yang jelas. Menghargai putra laki-lakinya, Rengganis tidak banyak bertanya dengan gadis kecil itu, perempuan itu akan menunggu putranya untuk menjelaskan sendiri kepadanya.


"Benar apa yang kamu katakan dhenok.. Aku adalah ibunda dari putraku Chakra Ashanka.., namaku Rengganis." akhirnya Rengganis mengenalkan dirinya pada gadis kecil itu sambil tersenyum.


"Ijin menyampaikan rasa hormat saya Den Ayu,. Maafkan saya yang hina ini, yang terlambat mengenali keberadaan Den Ayu.. Nama saya Sekar Ratih, Den Ayu bisa memanggil saya dengan panggilan Ratih." dengan nada ketakutan, Sekar ratih mengenalkan dirinya pada Rengganis.


"Sudah.. tidak perlu menjadi tidak enak seperti itu. Panggil aku dengan sebutan Ibunda.., sama dengan Ashan memanggilku." untuk menghindari perasaan tidak enak di diri Sekar Ratih akhirnya, Rengganis menenangkan perasaan gadis kecil itu.


***********


Pertarungan Chakra Ashanka dan Senopati Wiroyudho


Melihat kedatangan anak muda, Senopati Wiroyudho menjadi pucat. Memperhatikan tubuhnya yang banyak mengalami luka-luka, karena bertarung melawan Rengganis, saat ini dia masih harus menghadapi anak muda tangguh itu. Tanpa senyum, Chakra Ashanka menghancurkan pasukan kerajaan Logandheng, dan beberapa orang dari kerajaan itu berserakan menahan rasa sakit di atas tanah. Melihat kondisi pasukan dan dirinya sendiri, yang tidak begitu baik.. senopati Wiroyudho terlihat sedih dan pucat.

__ADS_1


"Siapa kamu..., berani-beraninya kamu mengirimkan pasukan ke tlatah perguruan Gunung Jambu. Apakah hal ini cara licik yang ditempuh kerajaanmu, untuk memperluas daerah kekuasaan. Menindas kaum perempuan yang kalian anggap mereka lemah.." dengan suara keras, Chakra Ashanka berbicara pada senopati Wiroyudho.


"Huh.. anak kemarin sore. Apa yang kamu ketahui tentang semua ini, keberadaan kami di perguruan Gunung Jambu ini, bukan kami yang menghendaki. Tetapi orang-orang disini, yang tanpa tahu malu sudah mencoba untuk memancing emosi kami." dengan senyum melecehkan, senopati Wiroyudho menjawab pertanyaan yang diucapkan Chakra Ashanka.


"Apakah kalian tidak pernah belajar tentang kata klarifikasi. Sebagai seorang ksatria, ada baiknya untuk melakukan klarifikasi tentang suatu masalah yang ditemukan, bukannya langsung membawa pasukan dan menyerang kami dengan membabi buta. Lihatlah di sekelilingmu..., pagar batas wilayah perguruan Gunung Jambu, dan beberapa bangunan pondok murid hancur akibat pertarungan ini." Chakra Ashanka terus mengeluarkan isi hatinya.


"Jangan banyak bacot.. terlalu banyak kata-katamu. Sebelum Raden Bhadra Arsyanendra berada di tangan kami kembali, kami akan terus mengirimkan serangan dan menantang pertarungan dengan orang-orang di perguruan ini. Bahkan raja Logandheng, yang saat ini bertahta saja, tidak akan dapat melaring kami. Ha..., ha.., ha..." senopati Wiroyudho malah tertawa keras, sambil melihat ke arah Chakra Ashanka.


Melihat sikap kasar laki-laki yang berdiri di depannya dengan darah yang masih menetes dari dadanya, membuat rasa empati di hati Chakra Ashanka tiba-tiba menguap, Tanpa menjawab perkataan yang diucapkan oleh laki-laki di depannya itu, kedua tangan anak muda itu sudah membuat sebuah simbol-simbol baru, Tidak lama kemudian, sebuah kabut berwarna merah kehitaman, berkeliling di kedua tangan anak muda itu, kemudian..


"Terimalah serangan baruku... Sekilan Ngampar........byuarrr... jueglarr...." tanpa menatap, sebuah ledakan besar terjadi di tempat Senopati Wiroyudho berdiri, begitu Chakra Ashanka mengirimkan serangan ke arah laki-laki itu. Tubuh Senopati Wiroyudho terbang tinggi ke atas,.. dan dengan mata sipit, Chakra Ashanka membalikkan badan, sedikitpun tidak tertarik untuk menyaksikan kejadian yang terjadi selanjutnya.


Baru beberapa langkah, anak muda itu berjalan, tiba-tiba Chakra Ashanka menghentikan langkahnya. Terdengar suara gedebuk di belakangnya, dan masih dengan tatapan sinism anak muda itu menengok ke belakangnya.


"Krek.. pyarr...." tiba-tiba tulang-tulang yang remuk dengan anggota tubuh berhamburan, turun dari atas langit. Tubuh Senopati Wiroyudho, hancur berkeping-keping terkena gabungan ilmu baru anak muda itu. Pangeran Wiroyudho langsung meninggal di tempat, dengan bola mata yang masih melotot, dan kepala yang terpisah dari lehernya. Tidak bermaksud untuk memberi pertolongan, anak muda itu menatap ke arah pasukan kerajaan, yang masih selamat. Orang-orang itu berlarian, mencoba untuk menyelamatkan diri meninggalkan tlalah tapal batas perguruan Gunung Jambu.

__ADS_1


***********


__ADS_2