Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 211 Kebenaran


__ADS_3

Setelah mengarahkan murid-murid berlatih, Niken Kinanthi mengelilingi pondhok. Tetapi perempuan muda itu merasakan ada sesuatu yang berbeda di pondhok pagi ini. Beberapa tempat yang biasa ramai oleh beberapa orang di pagi hari, kali ini terlihat berbeda. Untuk memastikan keyakinannya, Niken Kinanthi berjalan mendekati dapur umum. Telihat beberapa murid perempuan tampak membantu pelayan yang bertugas menyiapkan makanan di padhepokan ini.


"Ada Nimas Niken Kinanthi, apakah ada hal yang bisa kami bantu Nimas..?" dengan ramah dan sopan, pelayan bertanya pada perempuan muda itu. Niken Kinanthi berjalan lebih mendekati arah menuju dapur, dan berdiri di depan pelayan tersebut.


"Tidak mbok, hanya ingin bertanya sesuatu. Tadi saya berkeliling padhepokan, tapi menurutku pagi ini terlihat lebih sepi dibandingkan dengan hari-hari lain." Niken Kinanthi langsung bertanya ke titik pokok masalah tanpa berputar-putar.


"Bukannya beberapa puluh orang-orang dari padhepokan ini dibawah kepemimpinan Asoka, tadi malam berangkat menuju kerajaan Laksa Nimas dengan mengendarao kuda. Den Bagus Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka dengan ditemani empat orang lainnya, termasuk pengawal kerajaan mengikuti mereka dengan mengendarai Singa Ulung dan Singa Resti." perkataan yang diutarakan pelayan itu sangat mengagetkan perempuan muda itu. Sejak tadi malam, Niken Kinanthi tidur terlalu pulas, dan tidak mendengar apapun. Bahkan kejadian sepenting ini, dia sampai terlambat untuk mengetahuinya.


"Apakah kamu tahu.., untuk alasan apa, beramai-ramai orang-orang dari padhepokan ini berangkat menuju kerajaan? Kenapa tidak ada orang yang membangunkanku, apakah orang-orang di padhepokan ini menganggapku tidak mampu untuk membantu." dengan sikap protes, Niken Kinanthi berbicara dengan nada sedikit tinggi. Kepergian mendadak beberapa orang penting di padhepokan, tanpa sepengetahuannya, membuat perempuan muda itu merasa tidak berharga di tempat ini.


"Maaf Nimas..., untuk masalah itu, mohon maaf kami tidak tahu. Semalam saya dibangunkan oleh beberapa murid, untuk menyiapkan sedikit perbekalan sebagai bekal mereka melakukan perjalanan. Mungkin karena mendadaknya tadi malam, Nimas Niken jadi terlupakan. Atau lebih jelasnya, kenapa Nimas tidak bertanya pada Den Ayu Nimas Rengganis." dengan jelas, pelayan yang bertindak sebagai juru masak di dapur itu, menjawab kebingungan Niken Kinanthi.


Mendengar perkataan itu, tanpa pamit Niken Kinanthi bergegas mencari keberadaan Rengganis. Baru beberapa langkah perempuan muda itu berjalan, di ujung pendhopo Niken Kinanthi berpapasan dengan Chakra Ashanka. Dengan sikap sopan, anak laki-laki itu memberi hormat pada Niken Kinanthi.

__ADS_1


"Sugeng enjing Bibi..., ada acara kemana pagi-pagi seperti ini, Bibi berjalan dengan cepat?" anak laki-laki putra Wisanggeni dan Rengganis itu menyapa Niken Kinanthi dengan sikap hormat.


"Bibi mencari ibundamu Ashan.., ada beberapa hal yang ingin Bibi tanyakan pada Ibundamu. Bisakan Ashan memberi tahu Bibi, ada dimana posisi ibundamu saat ini. Jika diperkenankan, Bibi ingin bertemu dengan ibundamu saat ini." secara blak-blakan, Niken Kinanthi tidak menutupi niatnya. Perempuan itu langsung menanyakan keberadaan Rengganis pada putranya.


"Boleh Bibi.., sepertinya ibunda saat ini masih berada di halaman belakang. Tadi saat Ashan berpamitan, Ibunda sedang menjemur kain di halaman belakang." Chakra Ashanka segera memberi tahu keberadaan ibundanya.


"Baik Ashan.., terima kasig informasinya. Bibi akan menemui ibundamu di halaman belakang pondhok." mendengar jawaban dari anak laki-laki itu, Niken Kinanthi langsung memberi tahu padanya. Setelah tersenyum dan menganggukkan kepala, Niken Kinanthi segera berjalan meninggalkan Chakra Ashanka yang terlihat bingung menatap perempuan muda itu.


************


"Ada apa Nimas Niken Kinanthi, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatimu pagi ini?? Semua terlihat jelas dari pandangan mata dan raut wajahmu." masih dengan tersenyum, Rengganis menyapa dan sekaligus menegur Niken Kinanthi. Perempuan yang dipanggil namanya itu berjalan lebih mendekat ke Rengganis, kemudian berhenti dan berdiri di depan istri dari Wisanggeni itu.


"Aku tadi bertanya pada Chakra Ashanka dimana keberadaanmu Nimas. Ashan menjawab jika saat ini Nimas sedang berada di halaman belakang. Maka dari itu, aku menyusulmu kesini Nimas.." dengan suara lirih, Niken Kinanthi menjawab pertanyaan Rengganis, Terlihat kesedihan dalam sinar matanya.

__ADS_1


Merasa ada yang aneh dan berbeda dengan sikap perempuan muda itu, Rengganis menghentikan sementara pekerjaannya. Perempuan itu menghampiri Niken Kinanthi, kemudian memegang bahu dengan tangan kiri, kemudian membawa perempuan itu menuju ke pendhopo.


Sesampainya di pendhopo, Rengganis meminta Niken Kinanthi untuk duduk. Perempuan muda itu menuangkan air putih dari dalam kendi yang terbuat dari tanah liat, kemudian memberikannya pada Niken kinanthi. Meskipun terkadang hati Rengganis juga sering mengalami kegundahan, tetapi dia lebih bisa memendam perasaannya jika dibandingkan dengan Niken Kinanthi. Perempuan muda itu menerima uluran cangkir tanah liat dari Rengganis, kemudian menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Rasa dingin yang membasahi kerongkongannya, menimbulkan sensasi rasa dingin yang perlahan turun ke perut perempuan muda itu.


"Kamu kecewa Nimas Niken Kinanthi..., apakah kamu merasakan kekecewaan jika tidak melihat keberadaan kang Wisang dan Pangeran Abhiseka di pagi hari ini?" tiba-tiba seperti petir menyambar, Rengganis menanyakan perasaan perempuan muda itu. Niken Kinanthi mengangkat wajahnya, kemudian memberanikan diri menatap Rengganis. Perempuan muda yang selalu setia mendampingi Wisanggeni sejak masih kecil, dan tetap bertahan di sampingnya ketika laki-laki itu kehilangan kekuatannya. Rengganis memang lebih layak untuk dipilih dan dicintai daripada dirinya.


"Maafkan aku Nimas Rengganis, semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri, ada masalah sebesar ini tadi malam, tetapi sedikitpun aku tidak mengetahuinya. Sebenarnya ada apa ini Nimas.., apakah aku diijinkan untuk mengetahui permasalahannya?" dengan suara lirih, Niken kinanthi berusaha mencari tahu dari Rengganis.


Di luar dugaan, istri pertama dari Wisanggeni itu tersenyum. Tidak terlihat ada kesedihan atau kekecewaan di matanya, sepertinya resiko apapun dalam kehidupan rumah tangga mereka, bukan merupakan hal baru baginya.


"Kerajaan Laksa saat ini membutuhkan bantuan Nimas. Terjadi pemberontakan di kerajaan tersebut, dengan memanfaatkan tidak adanya Pangeran Abhiseka di istana. Putra dari selir kerajaan menangkap dan menyekap raja dan permaisuri di dalam penjara bawah tanah. Tadi malam, secara mendadak, kang Wisang membentuk pasukan berkuda dengan dipimpin oleh Asoka. Mereka kemudian bertolak menuju kerajaan tadi malam." dengan runtut, Rengganis bercerita tentang kejadian tadi malam.


Mendengar hal tersebut, mulut Niken Kinanthi ternganga. Gadis itu terkejut dan bereaksi dengan menutup mulutnya yang terbuka dengan menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


******


__ADS_2