
Di Padhepokan Perbukitan Gunung Jambu
Rengganis baru selesai mempelajari kitab kuno dari trah Jagadklana yang sudah lama ditinggalkannya. Sambil duduk bersila diĀ dalam kamar, perempuan muda itu sudah beberapa hari mempelajari ilmu kesaktian baru. Hembusan udara dingin keluar dari mulut perempuan itu, beberapa saat tarikan nafas akan dilakukan lagi secara berulang-ulang. Paru-paru Rengganis terasa terbuka menghirup aliran udara dari semesta alam di pegunungan tersebut. Beberapa saat gerakan angin di sekitar pergunungan terasa berhenti, semuanya mengikuti alur pernafasan yang dilakukan perempuan mudah Trah Jagadklana tersebut. Kedua tangannya terangkat ke depan dadanya, kemudian perlahan berputar seperti orang menari dengan menggerakkan tangan mengikuti airan angin.
"Tok.., tok..., tok.." tiba-tiba mata Rengganis yang semula terpejam, dibukanya secara perlahan. Proses mempelajari kitab kuno tersebut terhenti sejenak, karena terganggu dengan suara ketukan di pintu ruang pelatihan. Setelah menyesuaikan diri beberapa saat,..
"Masuklah..." suara lirih Rengganis meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke ruang pelatihan. Perlahan pintu didorong dari luar ruangan, dan terlihat dengan gagah, Chakra Ashanka berjalan masuk. Senyuman Rengganis perlahan mengembang mengikuti langkah Chakra Ashanka yang memasuki ruangan tersebut.
"Ada apa putraku Ashan.., tidak biasanya kamu mengganggu ibunda yang sedang berlatih?" suara lirih kembali keluar dari Rengganis, bertanya pada Chakra Ashanka yang sudah mulai bertambah besar.
"Maaf ibunda.., Ashan sudah lancang mengganggu fokus dan konsentrasi dari Ibunda. Hal ini terjadi, karena Ashan tidak mampu menahan rasa penasaran bunda.." Chakra Ashanka tersenyum malu, menatap wajah ibundanya. Laki-laki muda itu kemudian duduk di depan Rengganis.
"Hmm.., katakan putraku, ada perihal penting apa yang ingin kamu beritahukan pada ibunda?" perlahan, Rengganis kembali mengajukan pertanyaan.
"Singa Ulung bunda.., tiba-tiba di halaman belakang padhepokan, Singa Ulung tiba di perguruan ini. Tetapi yang membuat Ashan heran, binatang itu datang sendiri tanpa ada keberadaan ayahnda bunda.." dengan muka penasaran, dan rasa khawatir yang tiba-tiba menyeruak, Chakra Ashanka menceritakan perihal kkedatangan Singa Ulung.
"Benarkah Ashan..?? Jika begitu, temani ibunda. Kita akan melihatnya bersama-sama." merasa khawatir dengan keadaan Wisanggeni, dengan segera Rengganis berdiri dan mengajak Chakra Ashanka untuk menemui Singa Ulung. Tanpa menjawab, Chakra Ashanka segera berdiri dan mengikuti ibundanya keluar dari ruang pelatihan.
__ADS_1
Kedua orang itu, ibunda dan putranya berjalan tergesa menuju halaman belakang padhepokan. Bahkan, sapaan dari orang-orang yang tinggal di pondhok tersebut hanya dijawab dengan senyuman. Setelah beberapa saat mereka berjalan, mereka melihat Singa Ulung yang langsung berjalan menghampiri mereka.
"Iya Ulung.., apakah ada sesuatu hal yang ingin kamu beritahukan padaku..?" Rengganis langsung mengusap kepala dan leher binatang itu. Singa Ulung menggesek-gesekkan kepalang di perut Rengganis, dan seperti bisa memahami hal yang ingin dikatakan binatang itu, tiba-tiba Rengganis..
"Ashan.., bantu ibunda! Segera persiapkan diri, dan beberapa helai pakaian. Jangan lupa, beri tahu pada sesepuh yang akan mengambil alih tugas kita di padhepokan ini. Kita akan menyusul ayahnda sekarang juga." dengan segera, perempuan muda itu mengarahkan persiapan. Mendengar perkataan dari ibundanya yang diliputi rasa khawatir, Chakra Ashanka segera membalikkan badan, kemudian berlari meninggalkan Singa Ulung dan Rengganis.
"Tunggulah sebentar Ulung..., aku akan bersiap-siap untuk mempersiapkan keberangkatanku. Istirahatlah dulu sebentar..!" setelah mengusap perlahan kepala Singa Ulung, Rengganis bergegas kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri.
************
"Ibunda.., tempat mana yang akan kita datangi saat ini bunda..?" perlahan, Chakra Ashanka memberanikan diri untuk bertanya pada Renggani. Perempuan muda itu mengambil nafas, kemudian..
"Kita akan berangkan menuju Trah Bhirawa putraku.., kita akan menemui kakek, dan kedua pamanmu disana. Ibunda yakin, saat ini tempat itulah yang akan menjadi tujuan dari Singa Ulung.." Rengganis menjawab pertanyaan Chakra Ashanka. Perempuan muda itu sangat yakin jika Singa Ulung akan membawanya untuk menemui Wisanggeni, dan dia juga merasakan jika sesuatu tengah terjadi pada suaminya itu.
"Baik bunda.., Ashan juga akan menghaturkan sembah sungkem untuk kakek, dan paman Lindhu Aji serta paman Widjanarko. Semoga dengan kepergian kita, padhepokan Gunung Jambu akan tetap bisa berjalan sesuai dengan yang kita kehendaki bunda.." mendengar jawaban Rengganis, Chakra Ashanka tersenyum. AKhirnya setelah sekian warsa, dia bisa keluar juga dari perbukitan ini juga.
***********
__ADS_1
Di tempat lain, kegelisahan kembali menjangkiti Widjanarko ketika berada di dalam kamar tempat untuk beristirahat Wisanggeni. Berbagai tabib sudah didatangkan olehnya, tetapi tidak tampak perubahan pada laki-laki muda itu. Bahkan menggunakanĀ kemampuan hubungan yang dimiliki istrinya Kinara, Widjanarko juga belum berhasil menemukan ramuan untuk membangunkan Wisanggeni dari tidur panjangnya. Namun..., masih adanya denyut jantung di tubuh Wisanggeni, akhirnya membuat Widjanarko kembali berharap untuk kesembuhan adik bungsunya itu.
"Kangmas.., istirahatlah..! Sejak tadi pagi, kang Janar hanya berada di kamar ini saja." tiba-tiba suara Kinara istrinya, mengingatkan Widjanarko. Perlahan putra pertama Ki Mahesa itu mengangkat wajahnya kemudian melihat pada Kinara yang berdiri di belakangnya.
"Iya Nimas.., aku hanya ingin melihat rayi bungsuku, dan membersihkan tubuhnya dari keringat. Lihatlah Nimas.., betapa nyamannya rayi Wisang beristirahat, seperti tidak memiliki beban berat akan dunia.." Widjanarko meraih tangan Kinara, kemudian mendudukkan perempuan muda itu di sampingnya. Keduanya mengamati wajah dan tubuh Wisanggeni dari atas sampai ke ujung kaki.
"Wajah rayi Wisang sangat jernih kangmas. Aku yakin, jika rayi saat ini bukan menjalani pingsan karena cidera, melainkan menjalani meditasi dengan tidur panjang. Lihatlah, tarikan nafas rayi Wisanggeni teratur, tidak ada ganjalan saat mengambil maupun mengeluarkan nafas. Semuanya terjadi secara alami.." Kinara berbicara lirih pada suaminya Widjanarko.
"Semoga apa yang Nimas pikirkan menjadi benar adanya. Kakangmas juga menghibur hati dengan berpikir demikian," ucap lirih Widjanarko sambil tersenyum lembut. Keduanya terdiam kembali mengamati Wisanggeni.
"Oh ya kangmas.., jika Kinar boleh tahu, rencana kita selanjutnya bagaimana? Apakah kita akan kembali ke trah Gumilang ataukah masih akan bertahan disini untuk beberapa waktu..?" tiba-tiba KInara bertanya tentang rencana mereka. Widjanarko menatap wajah Kinara, kemudian..
"Kangmas memiliki sebuah pemikiran Nimas. Tetapi itupun jika Nimas setuju. Kangmas ingin menggabungkan kekuatan Trah Gumilang menjadi satu dengan Trah Bhirawa.., sehingga kita tetap berkumpul disini dalam satu keluarga. Bagaimana menurutmu Nimas..., tetapi jika kamu tidak menyetujuinya, Kangmas akan membatalkan niat tersebut." Widjanarko menyampaikan keinginan dari hati kecilnya. Kinara terdiam beberapa saat.
"Hmmm..., Kinara akan siap berada disamping kang Janar kapanpun, dan dimanapun. Asalkan Kang Janar jangan pernah meninggalkan Kinara saja." terdengar jawaban lembut dari bibir Kinara.
*************
__ADS_1