Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 217 Pengaturan Penyerangan


__ADS_3

Wisanggeni dan Senopati kerajaan Laksa menghancurkan segel pengunci semua bilik yang ada di penjara bawah tanah. Tidak peduli penjahat atau bukan, semua diberi kesempatan untuk bebas. Dari arah atas beberapa penjaga menhadang perjalanan mereka menuju ke arah pintu keluar. Wisanggeni bertindak siaga, dan memberi isyarat pada senopati kerajaan.


"Kejar dan habisi telik sandi di bawah..! Laki-laki itu menyamar sebagai penjaga, habisi dia..!" terdengar teriakan keras dari beberapa orang yang langsung merangsek masuk dan menggunakan pedang untuk menyerang para tawanan yang melarikan diri.


Bau amis darah menyeruak masuk ke dalam penjara, dan tidak dapat diketahui asal dari darah tersebut. Wisanggeni juga  menggunakan pisau kecil mustika nabau untuk melawan orang-orang yang mengirim serangan pada mereka. Melihat penjaga yang berlari ke arahnya, dengan sigap Wisanggeni melempar pisau ke arah depan.


"Clap.., jlebb.." pisau itu  dengan tepat menancap di perut penjaga tersebut.


"Kurang ajar..., kamu berani menyerangku anak muda. Terimalah ini..., akh..." perut penjaga yang akan mengayunkan pedang ke arah Wisanggeni, tiba-tiba sudah mengalir  darah. Laki-laki itu terbelalak, dan sambil memegang perutnya matanya melotot menatap Wisanggeni dengan marah.


"Senopati.., bawa keluar tawanan dan selamatkan mereka! Jangan pedulikan aku, aku akan bisa mengatasi sendiri situasi disini." Wisanggeni berteriak memberi tahu Senopati, dan setelah memberi isyarat tentang jalan keluar yang bisa digunakan, Senopati segera maju menerjang menggunakan pedang hasil rampasan.


Memastikan jika semua tawanan sudah berada diluar, dan puluhan penjaga menyeruak masuk ke dalam penjaga bawah tanah, Wisanggeni menyipitkan mata. Tidak lama kemudian, simbol jari di tangan laki-laki itu sudah membawa bulatan besar bara api di kedua tangannya. Melihat lawan yang memiliki kesaktian tinggi, para penjaga saling berpandangan, mereka tiba-tiba merasa tertindas kekuatan mereka oleh aura yang dimiliki Wisanggeni.


"Menyingkirlah kalian dari hadapanku...., oops... jeglar..." Wisanggeni tidak berpikir lagi untuk bernegosiasi dengan para penjaga itu. Bola api besar ditangannya, dilemparkan sedemikian kerasnya sehingga menyapu para penjaga disitu,


"Brakk..., grubyak.." beberapa bilik penjara bawah tanah, hancur terkena percikan bola api besar itu. Ketika para penjaga kerepotan menghalau api yang akan menjilat tubuh mereka, Wisanggeni menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, Tidak mau bermain dengan keberuntungan, tangan kanan Wisanggeni dimasukkan ke dalam kepis, dan menarik keluar Singa Resti.

__ADS_1


"Auuummm..." suara auman Singa Resti terdengar membahana di ruang bawah tanah, dan segera melesat terbang keluar dari dalam penjara tersebut. Para penjaga berlarian keluar, tetapi Wisanggeni tidak memberi kesempatan mereka untuk melarikan diri.


"Kekuatan Pasupati..., bluarr..., bluarr..." serangan mematikan dikirimkan Wisanggeni mengarah pada lantai atas penjara bawah tanah tersebut, dan tiba-tiba...


"Brakk..." atap penjara bawah tanah ambruk ke bawah, dan menutup alur untuk keluar dari dalam penjara tersebut. Dari kejauhan, penjara yang biasanya gelap, saat ini terlhat terang benderang diselimuti kobaran api. Tidak mau berurusan dengan keributan, saat banyak orang berlarian menuju ke penjara tersebut, Wisanggeni sudah meninggalkan tempat tersebut dengan Singa Resti.


"Bawa aku kembali ke pondhok di tengah hutan Resti.., aku akan mengistirahatkan tubuhku sebentar. Aku yakin, besok pagi, Prakosa akan mengirimkan para pengawalnya untuk melakukan penyisiran ke rumah-rumah penduduk, Kita harus mempersiapkan dengan baik." sambil mengelus kepala Singa Resti, Wisanggeni mengajak bicara binatang itu.


"Auuummm..." dengan satu auman panjang, Singa Resti segera terbang membubung tinggi di angkasa, Binatang itu membawa Wisanggeni ke tempat yang diinginkannya.


**********


Pangeran Abhiseka bersimpuh di depan raja dan permaisuri kerajaan Laksa. Duduk di samping raja, senopati kerajaan juga berada di tempat itu. Setelah menelan pil yang diberikan Wisanggeni, orang-orang itu terlihat sudah bisa mengembalikan kondisinya seperti semula. Dengan muka penuh penyesalan, Pangeran Abhiseka bersimpuh di depan Raja Achala.


"Tidak perlu bersikap seperti itu Abhiseka. Semua terjadi karena kehendak Hyang Widhi, romo juga tidak menyangka jika adikmu Prakosa akan memiliki niat jahat seperti itu." laki-laki tua itu mengusap kepala Pangeran Abhiseka. Tampak di sampingnya, ratu Pitaloka menatapnya dengan tatapan seorang ibu yang merindukan putranya.


"Iya romo.., sepertinya dengan tidak adanya Abhiseka di istana, menimbulkan niat yang tidak baik bagi rayi Prakosa. Atau mungkin rayi Prakosa berniat untuk membalas dendam romo, karena ibunda selir kita masukkan ke dalam penjara karena kasus perselingkuhannya." Abhiseka menanggapi perkataan Raja Achala.

__ADS_1


"Senopati.., siapkan penyerangan kembali ke istana. Tetapi untuk saat-saat ini kita harus mengendalikan diri dulu. Aku yakin Prakosa mengetatkan penjagaan, mengingat kekacauan yang ditimbulkan Wisanggeni di penjara bawah tanah." raja Achala memberi titah pada Senopati.


"Baik Gusti Prabu..., beberapa pengawal yang masih setia, saat ini sedang menyusun sebuah formasi untuk melakukan penyerangan. Kita masih kalah dari sisi jumlah pasukan untuk saat ini." Senopati melaporkan persiapannya dengan beberapa pengawal yang sudah mereka lakukan.


"Tidak perlu terlalu khawatir dengan hal tersebut Paman Senopati. Orang-orang dari Trah Bhirawa dan Trah Gumilang sudah menuju ke tempat ini, untuk menambah jumlah pasukan kerajaan Laksa. Saya memiliki keyakinan, jika orang-orang dari perguruan Tapak Geni tidak akan memiliki kesetiaan terhadap Pangeran Prakosa, seperti orang-orang yang berada disini. Kejadian tadi malam, akan menimbulkan trauma di hati para murid-murid perguruan tersebut." Wisanggeni menimpali perkataan yang diutarakan oleh Senopati kerajaan.


"Baiklah jika seperti itu.., kita harus berbagi tugas untuk siang ini. Aku yakin, Prakosa sudah melakukan penyisiran ke rumah-rumah penduduk. Kita harus berhati-hati, dan mengawasi penyisiran mereka. Jika kita lihat ada hal yang membahayakan bagi penduduk, langsung kita habisi di tempat saat itu juga. Kita tidak perlu memberi hati untuk mereka."  Pangeran Abhiseka segera membuat pengaturan. Melihat Raja Achala dan Ratu Pitaloka dalam keadaan sehat wal afiat, dan saat ini berada dengannya di pondhok ini, menjadikan semangat juang Pangeran menjadi semakin meningkat.


"Baik Pangeran.., segera saya kondisikan. Mohon ijin untuk meninggalkan tempat ini lebih dahulu.." Senopati segera berjalan mundur sambil berjongkok, kemudian berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


Melihat ada yang sedang dibicarakan Pangeran Abhiseka dengan kedua orang tuanya, Wisanggeni pelan-pelan ikut meninggalkan mereka. Laki-laki itu berjalan menuju ke halaman belakang, menyaksikan bagaimana Senopati membuat pengaturan, dan membentuk sebuah formasi penyerangan untuk melawan pasukan Paneran Prakosa.


"Den bagus.., barusan saya mendapatkan kabar dari den ayu Rengganis. Kata Den ayu.., Nimas Niken Kinanthi sedang menuju kerajaan Laksa. Gadis itu memikirkan akan bergabung dengan pasukan Pangeran Abhiseka." tiba-tiba Wisanggeni dikejutkan oleh suara Asoka, yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.


"Biarkan saja Asoka.., kita tidak perlu memikirkan gadis itu. Niken Kinanthi tidak akan tersesat di kerajaan ini, banyak saudaranya yang tinggal di kota Laksa. Aku yakin, gadis itu akan datang ke Trah Bhirawa untuk menemui Kang Lindhu Aji." Wisanggeni dengan tenang menanggapi informasi yang disampaikan Asoka.


**********

__ADS_1


__ADS_2