Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 384 Memancing Keributan


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya menyudahi makan mereka, dan bersiap untuk meninggalkan kedai makan. Pelayan kedai makan tersebut, terlihat sangat senang melihat tamu yang mengunjungi kedai makannya. Bahkan Chakra Ashanka tidak mau menerima kepingan koin kembalian, dan meminta pelayan untuk menyimpannya.


"Terima kasih Ki Sanak atas kunjungan kalian di kedai makan ini. Berhati-hatilah, dan hindarkan diri kalian dari berurusan dengan orang-orang yang disewa oleh kedai makan di sebelah sana." pelayan itu berpesan pada Chakra Ashanka.


"Baik paman.. semoga setelah kepergian kami dari tempat ini, kedai makan paman akan kembali ramai seperti biasanya. Paman tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan kami, karena kami bertiga akan bisa menjaga diri kami paman.." Chakra Ashanka menenangkan laki-laki tua itu. Akhirnya di bawah tatapan laki-laki itu, ketiga anak muda itu berjalan meninggalkan kedai makan tersebut.


Ketiganya kemudian berjalan, dan mereka sepakat untuk melintas di depan kedai makan yang penuh tersebut untuk melihat keadaan. Mereka merasa penasaran dengan apa yang diceritakan oleh laki-laki tua pelayan kedai tadi, dan akan melihat apakah semua yang dikatakannya tadi benar adanya.


"Kang Ashan.. apakah kakang merasa jika ada yang mengawasi dan mengikuti kita sejak tadi..?" tiba-tiba Ayodya Putri berbisik pada Chakra Ashanka.


Anak muda itu tersenyum, kemudian tangannya menunjuk ke sebelah kanan dari tempat mereka berada, tetapi anak muda itu tidak menolehkan wajahnya.


"Sudah sejak kita berangkat menuju ke kedai makan tempat kita makan, orang-orang itu sudah mengawasi kita. Kita diam saja dulu, dan pura-pura tidak mengetahui mereka. Aku curiga, mereka adalah orang-orang yang tadi diceritakan oleh paman pelayan kedai. Mereka tidak suka, karena kita tidak jadi makan di kedai makan itu, dan memilih kedai makan yang sepi." Chakra Ashanka menanggapi perkataan Ayodya Putri.


"Baik kang.. tetapi tanganku sudah mulai merasa gatal. Aku ingin menghajar orang-orang licik dan curang itu saat ini juga. Jangan halangi aku kang.." Ayodya Putri terlihat geram dan tidak dapat menguasai emosinya,

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.. kamu itu lucu Nimas Putri. Jika tidak ada masalah apapun dengan kita, tiba-tiba kamu membuat sebuah keributan, kamulah yang akan menjadi pihak yang dipersalahkan. Kecuali kamu hanya menanggapi tindakan mereka yang sudah mengganggu kita, jadi kita berada dalam posisi yang seimbang." dengan tertawa keras, Chakra Ashanka memberikan komentar atas sikap yang ditunjukkan Ayodya Putri.


"Atau perlu kita memancing mereka agar mengganggu kita kang.. agar terjadi keributan yang ditimbulkan oleh mereka." Sekar Ratih yang sejak tadi hanya diam, turut memberikan pendapat.


"Ha.. ha.. ha.. kalian berdua ini lucu dan menggemaskan. Bersikap diam, sabar, dan menunggu itu lebih baik. daripada kita memancing kerusuhan. Aku yakin.. tidak akan lama lagi, mereka akan menunjukkan taringnya pada kita. Bersabarlah, dan selalu untuk bersikap santun.. akan menjadi bekal kita yang baik dalam menempuh setiap petualangan di alam terbuka." Chakra Ashanka memberikan wejangan pada kedua gadis muda yang bersama dengannya itu. Sekar Ratih dan Ayodya Putri saling berpandangan, kemudian kembali menatap ke depan.


"Tapi aku berharap mereka akan membuat masalah pada kita, jadi tidak ada salahnya jika kita memberi pelajaran pada mereka." seperti tidak mau menyerap perkataan Chakra Ashanka, Ayodya Putri menanggapi perkataan anak muda itu.


"Betul Nimas putri.. aku juga berharap demikian. Aku juga pingin tahu, sepintar apa mereka, hingga berani melakukan penindasan seperti itu. Kenapa warga desa tidak mengadukan ulah dan perlakuan para petinggi itu pada petinggi yang ada di atasnya. Ataukah para petinggi atas sudah buta dengan penderitaan yang dialami rakyatnya." Sekar ratih memberikan pendapatnya.


"Hush.. jaga bicaramu Nimas Ratih. Desa ini masih masuk pada tlatah Kerajaan Laksa, dan yang memimpinnya adalah sahabat dari ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis. Jangan terlalu sembarangan untuk bicara, aku yakin paman Abhiseka tidak mendapatkan informasi sampai jauh di pelosok desa." Chakra Ashanka memberi tahu kedua gadis itu.


*********


"Nimas.. istirahatlah.. kedua binatang itu akan menjaga kita. AKupun juga akan memejamkan mata barang sejenak, untuk mengistirahatkan mataku." Chakra Ashanka meminta kedua gadis itu untuk beristirahat.

__ADS_1


"Baik kang Ashan.. kami juga akan memejamkan mata kami." Sekar Ratih dengan cepat menyahut.


Akhirnya tidak lama kemudian, ketiga anak muda itu sudah mulai memejamkan mata sambil duduk menyandarkan diri pada dinding dangau di belakang mereka. Naga terbang dan Singa Resti yang sudah beristirahat terlebih dulu, mendapatkan giliran menjaga mereka.


Waktu berlalu beberapa saat, tiba-tiba Singa Resti mengangkat kepalanya ke atas. Naga terbang juga demikian, mereka seperti mendengar ada langkah kaki menuju ke arah mereka. Kedua binatang itu bermaksud untuk menghadang orang-orang itu, tetapi mereka teringat dengan pesan yang diberikan oleh Chakra Ashanka. Mereka tidak boleh melakukan pertarungan secara langsung dengan manusia, terutama ketika mereka berada di dekat anak muda itu.


"Tenanglah Ulung.. naga terbang. Kembalilah beristirahat, aku mendengar kedatangan mereka." tiba-tiba suara Chakra Ashanka mengagetkan kedua binatang itu. Melihat anak muda itu sudah terbangun, kedua binatang itu kembali pada posisi pura-pura tertidur kembali.


Chakra Ashanka tetap bersikap tenang, anak muda itu juga pura-pura tidak mendengar jika ada beberapa langkah kaki sudah mendekati ke arah dangau tempat mereka beristirahat. Tidak lama kemudian, terlihat ada empat orang dengan pedang di tangan masing-masing, berjalan mengendap-endap ke arah dangau. Mereka seperti kegirangan, melihat ketiga anak muda yang sudah mereka incar sejak tadi, sedang berada dalam posisi tidur terlelap.


"Apakah akan kita serang mereka satu persatu, atau kita bangunkan mereka dulu?" terdengar salah satu dari mereka, bertanya pada temannya.


"Terlalu banyak rencana, kita langsung saja serang mereka. Mumpung mereka masih tidur, dan juga kedua binatang peliharaan mereka. Sepertinya mereka dari keluarga kaya, lihatlah penampilannya. Kita akan mendapatkan banyak keuntungan jika bisa menghabisi mereka." bisik salah satu temannya,.


Ketiga temannya yang lain menyetujui apa yang diusulkan oleh salah satu orang itu. Satu orang mengangkat tangan mereka untuk memberikan aba-aba pada temannya yang lain, kemudian..

__ADS_1


"Prang.. prang... brukk.." ketika ke empat orang itu mengayunkan pedang mereka, tiba-tiba sebuah pisau kecil menghalangi tindakan mereka. Ke empat orang itu terjatuh ke belakang, tidak mampu bertahan dari serangan tiba-tiba pisau kecil itu yang berisi kekuatan tenaga dalam.


**********


__ADS_2