Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 154 Dua Istri


__ADS_3

Lewat senja, rombongan yang dibawa Pangeran Abhiseka sudah melewati hutan belantara. Terlihat beberapa pasukan kuda, dan kereta sudah menunggu di desa terdekat tersebut. Seorang Adipati segera mendatangi Pangeran Abhiseka, dan setelah menghaturkan sembah sungkem,  meminta rombongan untuk beristirahat di pendhopo terdekat. Sambutan warga desa tampak meriah, mereka sudah mempersiapkan jamuan ala kadarnya dari desa tersebut.


"Bagaimana Kang.., apakah kita akan mengikuti jamuan ini, atau langsung meninggalkan rombongan?" Gayatri bertanya pada Wisanggeni. Melihat kemeriahan dan sambutan yang diberikan oleh warga, dalam benak mereka sudah berpikir jika akan sedikit lama berada di desa itu. Sudah merupakan hal yang sepantasnya, jika Pangeran Abhiseka menerima sambutan itu, sekaligus sebagai acara untuk sambung rasa dengan warga desa. Tetapi mereka sebagai orang luar, merasa tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti acara tersebut.


"Kita akan beristirahat sebentar.., sambil mencicipi hidangan terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan minta pamit pada Pangeran Abhiseka untuk meninggalkan tempat ini terlebih dahulu. Kalian jangan khawatir.., kita akan sampai di Klan Bhirawa tidak akan sampai tengah malam, kita bertiga bisa naik ke punggung Singa Ulung bersama-sama." Wisanggeni menenangkan Gayatri dan Niluh. Karena sebagai dua perempuan muda yang bersama dengan rombongan laki-laki untuk sementara waktu, menimbulkan rasa rikuh di hati mereka.


"Baik Kang.., kami akan mengikuti arahanmu." akhirnya Gayatri bisa menerima perkataan Wisanggeni, kemudian mengajak Niluh untuk bergabung dengan warga masyrakat lainnya.


************


"Selamat malam Akang.., apakah kita boleh berkenalan dengan Akang..?" terlihat dua gadis desa mendekati Wisanggeni, keduanya mengajak Wisanggeni berkenalan. Tidak mau menimbulkan masalah baru, Wisanggeni mengangkat tangannya, dengan tegas dia menolak gadis-gadis itu.


"Akang sok jual mahal.." kedua gadis muda itu bersungut-sungut meninggalkan Wisanggeni. Baru beberapa langkah pergi dari situ, mereka dipelototi Gayatri dan Niluh yang mendatangi Wisanggeni.


"Tidak Nimas.., kita tidak mengganggu laki-laki muda itu. Hanya menanyakan mau menginap di desa ini tidak." merasa takut dengan pelototan Gayatri dan Niluh, kedua gadis itu buru-buru menjelaskan. Gayatri dan Niluh tidak menjawab mereka, keduanya langsung menuju ke tempat dimana Wisanggeni berada.

__ADS_1


Gayatri mengulurkan tangan menyentuh punggung Wisanggeni yang masih menikmati pisang kepok rebus. Laki-laki muda itu langsung menoleh ke belakang, dan terlihat Gayatri dan Niluh di belakangnya.


"Kita akan berangkat kapan Wisang..?? Kami sudah kenyang sekarang." Gayatri langsung menanyakan kapan mereka akan berangkat. Wisanggeni langsung berdiri dan mendekati kedua gadis muda itu.


"Sekarang saja.., mumpung Pangeran Abhiseka masih bersama dengan punggawa desa. Tadi aku juga sudah memberi tahu padanya, jika kita akan berangkat meninggalkan desa ini duluan. Ikuti aku..!" Wisanggeni langsung berjalan sembari menjawab pertanyaan Gayatri. Kedua gadis itu mengikuti langkah Wisanggeni di belakangnya. Setelah beberapa saat mereka berjalan, dan sudah tidak terlihat orang di sekitar mereka, Wisanggeni mengeluarkan Singa Ulung dari dalam kepisnya. Dengan tepukan tiga kali, Singa Ulung berubah menjadi binatang besar dan memiliki sayap. Gayatri dan Niluh terpaku melihat penglihatan di depan mereka.


"Kalian naiklah terlebih dahulu.., aku akan mengikuti di belakang kalian." Wisanggeni segera memerintahkan kedua saudara perempuannya itu untuk naik ke punggung Singa Ulung.


"Baik Wisang..., uupp yap.." kedua gadis itu segera melompat ke atas punggung Singa Ulung, kemudian Wisanggeni melompat dan duduk di belakang mereka.


***********


Sejak sore hari, Chakra Ashanka rewel terus. Badannya terasa hangat.., Rengganis sampai bingung menenangkan putranya tersebut. Maharani tergopoh-gopoh menemui Rengganis yang sedang menggendong Chakra Ashanka. Di tangan perempuan dari suku ular itu, membawa mangkok yang terbuat dari batok kelapa, berisi minyak kelapa dan parutan bawang merah.


"Apakah suhu badan Ashan sudah mulai normal Nimas Rengganis..?" dengan suara perlahan, Maharani menanyakan keadaan putra dari suaminya itu. Rengganis terlihat cemas.., dia berusaha menenangkan putranya tersebut.

__ADS_1


"Coba oleskan minyak kelapa ini. Semoga bisa menurunkan suhu badannya." Maharani segera mendekat, kemudian dengan hati-hati membalurkan minyak kelapa yang dicampur dengan parutan bawang merah ke tubuh anak kecil itu. Mata Chakra Ashanka bergerak-gerak.., bergantian melihat ke wajah Rengganis dan Maharani.


"Mungkin anak kecil ini merindukan Kang Wisang.., Nimas. Dia belum terbiasa berpisah lama dengan ayahndanya." Maharani menambahkan, sambil tangannya memijat dengan lembut tangan bocah kecil itu.


"Iya.., semoga dalam waktu yang tidak lama, kang Wisang segera berada disini Maharani. Jujur.., aku sudah merindukan kang Wisang.., bukan hanya putraku." tanpa bermaksud memanas-manasi Maharani, Rengganis mengutarakan perasaannya. Maharani tersenyum kecut, tetapi dia menyadari jika dia hanyalah yang kedua bagi suaminya. Persatuannya dengan Wisanggeni bukan didasarkan pada ikatan cinta antara keduanya, tetapi Wisanggeni berani mengkhianati Rengganis karena paksaan.


"Ada apa Maharani.., apakah ada perkataanku yang sudah menyinggung atau menyakiti perasaanmu?" melihat perubahan muka Maharani, Rengganis dengan cepat menanyakan pada Maharani.


"Tidak apa-apa Nimas Rengganis.., aku juga tahu diri dan menyadari posisiku. Jangan mengkhawatirkan aku, selamanya Kang Wisang hanya menjadi milik Nimas Rengganis, dan akan selalu menganggapmu sebagai prioritas." Maharani tersenyum, dan memberi ciuman di pipi Chakra Ashanka, dan anak kecil yang rewel dari tadi itu tiba-tiba terdiam. Maharani mengambil alih gendongan anak kecil itu.., dan Chakra Ashanka langsung tertidur di gendongannya. Rengganis tersenyum.., dia memaklumi kedekatan putranya dengan istri kedua suaminya itu. Dia juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena ikatan Maharani dan Wisanggeni terjadi juga karena keinginannya.


"Maharani.., kang Wisang milik kita berdua. Aku tidak bisa untuk menguasai kang Wisang hanya menjadi milikku seorang, kamu juga memiliki hak yang sama atas suami kita Maharani." Rengganis menanggapi perkataan Maharani, kedua perempuan itu saling berpelukan dengan Chakra Ashanka tertidur di gendongan Maharani.


Dari ruangan tengah, kedua gadis itu tidak menyadari jika Ki Mahesa melihat interaksi mereka dengan terharu. Laki-laki tua itu tidak menyangka jika Rengganis yang berasal dari Trah yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada Klan Mahesa, bisa menerima suaminya memiliki istri lagi. Perlakuan istimewa yang diterima Rengganis sejak gadis itu masih kecil, ternyata tidak membuatnya menjadi egois. berpikir untuk keselamatam bersama, gadis itu bisa merelakan posisinya dibagi dengan perempuan lain.


"Kamu memang beruntung Wisanggeni.., bahkan kakangmu Lindhuaji mendapatkan istri, yang ayahnda tahu, gadis itu juga menyukaimu pada awalnya." Ki Mahesa bergumam sendiri, sambil melihat keluar ruangan. Perlahan laki-laki tua itu menutup jendela kamarnya, kemudian membaringkan tubuh rentanya di atas dipan kayu.

__ADS_1


*************


__ADS_2