
Achala menemani Parvati berkeliling di sepanjang jalan yang mengelilingi pasar tiban tempat aneka jajanan dan pernak-pernik itu digelar. Gadis kecil itu memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap barang-barang dan aneka makanan, yang jarang ditemukannya di sekitar perguruan gunung Jambu. Dengan sabar, laki-laki muda itu berjalan mendampingi gadis itu.
"Kakang Achala.. cobalah.. kudapan ini sangat legit dan terasa manis sekali. Parvati sangat menyukainya kakang, bagaimana dengan kang Acjala..?" Parvati memasukkan potongan makanan basah ke dalam mulutnya yang mungil. Setelah itu, gadis kecil itu memberikan potongan kue di depan mulut Achala. Tanpa berpikir apapun, laki-laki muda itu menerima suapan kue yang diberikan Parvati, Pedagang yang melihatnya senyum-senyum sendiri, melihat pasangan muda yang satu sangat cantik, dan satunya juga tampan sedang menikmati barang jualannya.
"Iya Nimas.. sangat legit sekali kue ini. Ayo kita ke pojokan sana Nimas.., kita akan membeli minuman dawet di penjual itu. Kebetulan paman penjual itu, tidak ada pembeli yang membeli barang dagangannya." Achala menawarkan pada Parvati untuk mendatangi penjual dawet yang belum memiliki pembeli.
"Baiklah kakang.. ayo kita kesana." Parvati segera menarik tangan Achala, mengajaknya untuk mendatangi penjual dawet itu. Bagi Parvati, sikapnya pada laki-laki muda itu tidak berarti apa-apa. Gadis kecil itu hanya menganggap, kakang sepupunya sedang menemaninya berjalan-jalan, dan tidak pernah berpikir, jika sikap dan perlakuannya akan menimbulkan tafsir yang berbeda bagi anak muda itu.
"Paman.. buatkan kami dua cangkir dawet ya paman.." Achala melakukan pemesanan minuman dawet setelah mereka berdua sampai di tempat penjual itu.
"Baik Den bagus.., Den ayu.. akan segera paman buatkan. Untuk menunggunya, silakan Aden berdua duduk di kursi panjang itu, agar tidak capai." paman penjual dengan ramah menanggapi pesanan Achala. Kedua anak muda itu segera mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh paman penjual. tidak lama kemudian, paman membawa nampan, dan memberikan cangkir berisi dawet pada Achala dan Parvati.
"Ini minumannya Den.. dan ini ada tape ketan yang bisa dimasukkan ke dalam campuran dawet yang sudah paman sajikan. Tetapi ada keping koin tambahan untuk tape ini Den.." dengan ramah penjual menawarkan tape ketan yang dibungkus dengan menggunakan daun pisang.
"Baik paman.. kami akan mencobanya. Terima kasih paman.." Achala memberikan jawaban pada paman penjual. Kemudian anak muda itu mengambil satu bungkus, kemudian menuangkan isinya ke dalam cangkirnya. Anak muda itu kemudian mencicipi minuman yang sudah dicampurnya dengan tape ketan itu..
"Nimas.. apakah kamu akan mencobanya. Ternyata yang diucapkan paman benar Nimas.. rasa dawet ini menjadi lebih menyegarkan setelah dimasuki tape ketan ke dalamnya." Achala menawarkan pada Parvati. Ketika melihat gadis itu menganggukkan kepalanya, Achala segera mengambil satu bungkus tape, dan memasukkan isinya ke dalam cangkir Parvati.
__ADS_1
"Iya kakang.. jadi bertambah kesegarannya setelah dicampur dengan tape ketan ini." dengan sinar mata bening, Parvati menanggapi minumannya. Achala tersenyum melihat kebahagiaan kecil yang dirasakan gadis kecil yang duduk di sampingnya itu.
Beberapa saat kedua anak muda itu menghabiskan waktu untuk menikmati minuman dawet. Setelah merasa haus dan lelahnya hilang, Achala segera membayar pesanannya itu. Kemudian anak muda itu mengajak Parvati untuk melihat penjual pernak pernik untuk gadis seusia Parvati.
"Lihatlah cepit ini Nimas.. sepertinya lucu dan terlihat indah di rambutmu." tangan Achala mengambil cepit rambut, kemudian memasangkan di rambut gadis itu. Rambut Parvati tersibak, dan wajahnya terbingkai jelas kecantikannya.
"Terima kasih kakang Achala.. Nimas mau cepit ini." Achala segera membayar cepit yang tidak dilepaskan dari rambut gadis kecil itu. Setelah melihat-lihat dengan memutari pasar tiban itu, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang.
**********
"Kakang.. ternyata kakang sudah mengetahui kedatangan Nimas Rengganis." perempuan itu mengucap kata-kata pertemuan, dan Wisanggeni membalas pelukan erat dari istrinya itu. Di depan ketiga anak muda itu, Wisanggeni memberikan ciuman di kening Rengganis, dan kemudian turun di bibir perempuan itu.
Ketiga anak muda itu terkejut melihat pemandangan intim di depannya. Kedua gadis muda itu, Ayodya Putri dan Sekar ratih segera menutup wajahnya dengan kedua tangan mereka. Sedangkan Chakra Ashanka hanya senyum-senyum melihat interaksi ayahnda dan ibundanya. Anak muda itu sudah tidak heran dengan tindakan yang sering dilakukan oleh ayahndanya pada istri-istrinya itu.
"Uhuk.. uhuk.. bisakah ayahnda dan ibunda juga memperhatikan kami yang masih tabu untuk melakukan hal itu." merasa kasihan dengan gadis yang turut bersamanya, akhirnya Chakra Ashanka pura-pura terbatuk.
Rengganis terkejut, dengan cepat perempuan itu akan melepaskan pelukannya pada Wisanggeni. Namun, laki-laki itu menahan tubuh Rengganis untuk tetap berada di dekatĀ dan dalam jangkauannya.
__ADS_1
"Pada saatnya nanti.. kalian juga akan merasakannya putraku. Tetapi ingat, hanya pada pasanganmu kelak, jangan lakukan pada yang lainnya." dengan tidak tahu malu, Wisanggeni menanggapi keberatan putranya.
Ketiga anak muda itu hanya tersenyum malu mendengar jawaban dari laki-laki dewasa itu. Tiba-tiba tatapan Wisanggeni tertuju pada Ayodya Putri,
"Siapa gadis cantik ini, sepertinya ayahnda baru kali ini melihatnya." Wisanggeni bertanya tentang gadis muda itu.
"Nama saya Ayodya Putri paman.., dan paman bisa memanggil dengan sebutan Putri." ucap Ayodya Putri malu-malu.,
"Nimas Putri ini teman Ashan ayahnda.. kami bertemu di kota yang kami singgahi. Karena ingin mencari pengalaman baru, Nimas Putri yang sudah mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya meminta ijin untuk mengikuti kita ke kota Laksa. karena ibunda mengijinkan, akhirnya Ashan mengajaknya kemari ayah. Apakah ayahnda keberatan?" Chakra Ashanka melengkapi jawaban Ayodya Putri,
Wisanggeni tersenyum, kemudian mengusap kepala gadis muda itu.
"Ayahnda tidak keberatan putraku Ashan.. hanya saja tadi ayahnda sempat khawatir, jika Nimas Putri mengikuti kalian tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Baiklah.. kita segera kembali ke pesanggrahan Trah Bhirawa, Kebetulan Nimas Parvati juga sedang berjalan-jalan dengan Achala putra dari kakang Lindhu Aji." akhirnya Wisanggeni segera mengajak rombongan itu untuk kembali ke pesanggrahan.
Kelima orang itu berjalan beriringan, dan di belakang sendiri dua ekor binatang Singa Ulung dan Singa Resti juga berjalan berdampingan. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka menganggukkan kepala, memberi sapaan pada mereka.
**********
__ADS_1