Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 456 Persiapan Memasuki Goa


__ADS_3

Ki Sancoko dan para sesepuh lain di Alas Kedhaton mereka berada di bangsal. Tampak tiga leluhur kuno yang diselamatkan Wisanggeni dan Rengganis tampak lemah berada di antara mereka, Meskipun mereka masih diselamatkan dan dalam keadaan hidup, tetapi saat ini mereka berada dalam alam dan jaman yang lain. Moksa menjadi jalan satu bagi mereka untuk melepaskan atau membebaskan diri dari ikatan alam manusia saat ini.


"Cucu.. buyutku.. semuanya. Waktu kami berada di alam ini tidak bisa lama. Ada tujuan kekal yang ingin segera kami dapatkan yaitu atma-jnana atau kesadaran diri untuk dapat meraih moksa. Tetapi sebelum kami melakukan Moksa, tentu saja kami ingin menemui dan membantu dua orang yang sudah membebaskan kami. Sudah ratusan tahun kita terpasung dan diselimuti energi kekuatan hitam, dua orang itulah yang membebaskan kami.." satu dari tiga leluhur itu, dengan lirih berbicara pada Ki Sancoko dan para sesepuh Alas Kedhaton lainnya.


"Kami mengerti eyang leluhur.. tetapi untuk saat ini Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis belum bisa untuk kita temui, mereka masih dalam keadaan istirahat. Kami juga tidak menyangka, keberadaan mereka di Alas Kedhaton, dapat mengabulkan harapan kita selama ini untuk dapat membeaskan Eyang leluhur dari penjara itu. Tetapi hal itu, harus mengorbankan mereka berdua. Apa yang dapat lagi untuk kita lakukan Eyang.." Ki Sancoko mewakili orang-orang di situ bertanya pada ketiga leluhur itu.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Hal ini semua sudah merupakan takdir, dan sudah tercatat sebelumya, jika mereka akan menjadi lantaran perantara untuk mengantarkan kami pada kebebasan. Tunggulah beberapa saat lagi, aku yakin tidak lama lagi, kedua orang baik itu akan segera sadar. Saat itulah.. kita akan kembali bersama-sama menuju ke padang rumput, untuk membebaskan saudara-saudara kami yang lain." satu leluhur mencoba menenangkan pikiran warga kampung.


Orang-orang itu terdiam.. dan tiba-tiba terlihat Sukendro berlari menuju ke bangsal itu. Seperti ada hal penting yang akan disampaikan oleh anak muda itu. Salah satu sesepuh menghentikan Sukendro, dan menepuk-nepuk pundak serta punggung anak muda itu, memintanya untuk menenangkan diri.


"Ada apa Gendhon.. apa yang kamu lihat. Tidak mungkin bukan, jika kamu hanya melakukan sebuah keisengan kemudian berlari ke tempat ini." setelah melihat Sukendra sudah dapat menguasai dirinya, Ki Sancoko mengajukan pertanyaan.


"Iya Aki.. baru saja aku ingin melihat keadaan Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis, dengan membawakan mereka minuman hangat dan beberapa kudapan. Namun.. mereka tidak menjawab panggilan saya Aki.. padahal mereka berdua terlihat sudah sadar. Karena posisi terakhir, saya melihat mereka berdua, mereka masih dalam keadaan terbaring. Posisi mereka saat ini sedang duduk bersila.." Sukendro segera menyampaikan apa yang dia lihat dan temukan.


Tiga leluhur dan para sesepuh tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan Sukendro. Ki Sancoko menarik tangan anak muda itu, kemudian memintanya untuk duduk bersama dengan mereka.

__ADS_1


"Gendhon ada beberapa hal dalam dirimu yang masih harus kamu gali dan tingkatkan. Melihat posisi pasangan suami istri itu seperti yang kamu ceritakan, hal itu berarti jika mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja. Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis baru saja mengeluarkan energi dan kekuatan yang sangat besar. Tentu saja, mereka harus segera mengembalikan dan memulihkan kekuatan itu kembali. Dengan melakukan meditasi, mereka dapat mengolah dan mengendalikan lagi energi mereka.." sambil tersenyum, dengan sabar Ki Sancoko menjelaskan pada anak muda itu.


Beberapa anak muda yang juga berada disitu, turut mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh Ki Sancoko. mereka ikut mendengar dan memaknainya.


********


Keesokan Harinya


Ditemani dengan tiga leluhur dan para sesepuh, akhirnya Wisanggeni dan Rengganis kembali ke padang rumput. Masih ada empat goa yang belum mereka jamah sama sekali, dan muncul pikiran, jika ke empat goa yang akan mereka datangi memiliki kekuatan energi kuno yang lebih pekat. Untuk itu dengan hati-hati, merekan mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


Sebenarnya pasangan suami istri itu tidak menginginkan para sesepuh Alas Kedhaton turut serta dalam pembebasan leluhur mereka yang lain. Tetapi dengan alasan merekalah yang seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya, dan dengan ijin dari ketiga leluhur, akhirnya laki-laki muda itu mengijinkan.


"Baik Den Bagus.. kami akan mengikuti arahan dan petunjukmu.." Ki Sancoko menyanggupi pengaturan itu.


"Ketiga leluhur Alas Kedhaton, bisa membersamai kami berdua, karena bagaimanapun mereka pernah bertarung di beberapa ratus tahun yang lalu dengan kekuatan kuno itu, meskipun mereka kalah. Tetapi paling tidak, mereka mengetahui bagaimana cara untuk menjinakkan dan melemahkan mereka meskipun sedikit." Wisanggeni juga membuat pengaturan untuk tiga leluhur yang lain.

__ADS_1


Akhirnya setelah dicapai kata sepakat atas pengaturan Wisanggeni, akhirnya mereka bersama-sama kembali memasuki padang rumput. Beberapa anak muda yang ingin menyertai mereka, tidak diperbolehkan untuk masuk ke padang rumput. Mereka hanya diperkenankan menunggu kabar di pinggiran padang rumput.


Tampak kabut hitam tetapi masih bisa ditembus dengan pandangan mata, tampak menyelimuti depan pintu goa yang akan mereka masuki. Melihat warna dan kepekatan kabut, muncul tanda tanya pada Wisanggeni.


"Nimas.. jaga jarak dan jangan berjalan lebih dekat ke depan pintu goa. Kakang khawatir, ada jebakan di pintu goa yang akan kita masuki." Wisanggeni menahan tubuh Rengganis agar tidak mendekati pintu goa. Perempuan muda itu segera berhenti, demikian pula para sesepuh dan tiga leluhur yang lain. mereka berhenti dan menunggu Wisanggeni untuk mencari tahu,


Wisanggeni menangkap belalang yang kebetulan melompat di dekat mereka. Setelah tertangkap, dengan cepat laki-laki muda itu melemparkan binatang itu ke dalam goa.


"Pesss..." tidak menunggu waktu lama, binatang itu langsung mengering dan mati seketika.


Wisanggeni tersenyum kecut, dan meyakini jika kabut di depan pintu goa tersebut mengandung racun. Beberapa saat anak muda itu berpikir, kemudian mengeluarkan beberapa pil herbal dari dalam kepisnya,


"Aku tidak mampu menangkal kabut beracun di depan pintu goa, namun aku hanya akan melindungi tubuh kita, untuk tidak menyerap racun tersebut. Minumlah masing-masing dua butir pil herbal berikut, untuk menjaga agar racup tidak terserap pada tubuh kita.." Wisanggeni memberikan pil herbal, kepada mereka yang berada disitu.


Ki Sancoko dan para sesepuh saling berpandangan. Bagi mereka, memiliki pil herbal tersebut, seperti sebuah keniscayaan. Tetapi laki-laki muda itu dengan baik hatinya, membagi-bagikan pil itu kepada mereka. Akan membutuhkan keping koin yang sangat banyak untuk dapat memiliki pil itu, tetapi kali ini mereka memilikinya secara gratis.

__ADS_1


*********


__ADS_2