Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 413 Ki Bawono


__ADS_3

Semua yang berada di pagelaran dan pelataran terkejut, ketika mereka melihat raja mereka yang baru saja dikukuhkan menuruni anak tangga menuju ke pelataran. Keterkejutan mereka semakin bertambah, melihat dengan tanpa bisa dikendalikan, anak muda itu berjalan menghampiri laki-laki yang tadi terlihat mengusap kepala Chakra Ashanka.


"Paman Wisang.. ijin saya menyambut kehadiran paman ke kerajaan kami, kerajaan Logandheng." dengan sikap sopan penuh bakti, Raja Bhadra Arsyanendra menyalami WIsanggeni. Namun ketika anak muda itu akan mencium punggung tangannya ayhnda Chakra Ashanka itu, dengan cepat Wisanggeni menarik tangannya. Laki-laki itu kemudian menangkupkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya di depan mulutnya. Wisanggeni memberikan penghormatan kepada raja Logandheng, bukan kepada Bhadra Arsyanendra secara pribadi.


"Jangan berperilaku seperti itu paman.. saya menjadi tidak nyaman. Paman Wisang sudah saya anggap sebagai seorang Guru, seorang ayah,. dan juga sebagai penolong saya. Turunkan tangan paman, tidak baik seorang yang lebih tua melakukan hal seperti itu di depanku.." Bhadra Arsyanendra merasa keberatan dengan tindakan yang dilakukan Wisanggeni.


"Raja Bhadra.. tidak elok jika saya tidak melakukannya. Kita harus tetap menjaga kehormatan dan harga diri Raja Bhadra di depan rakyat kerajaan Logandheng. Jangan sampai, hanya karena niat baik Raja Bhadra, kharisma itu akan hilang dan luntur." dengan suara lirih, Wisanggeni menyampaikan pemikirannya pada anak muda itu.


Bhadra Arsyanendra terdiam, kemudian anak muda itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Anak muda itu kemudian meminta sesepuh kerajaan untuk membantu laki-laki tua yang tadi diberikan pertolongan oleh WIsanggeni. melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh laki-laki yang baru datang itu, banyak orang di kerajaan memendam tanda tanya.


"Ayahnda.. apakah ayah mengenal paman tua itu, yang barusan melakukan adu serangan dengan Ashan..?" tiba-tiba dari belakang, Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni ayahndanya.


Wisanggeni kembali teringat dengan laki-laki tua yang tadi beradu tanding dengan putra laki-lakinya. Laki-laki itu menoleh ke tempat terakhir kali dirinya meninggalkan laki-laki tersebut, namun ternyata prajurit sudah mengangkat dan memindahkannya ke tempat yang lebih bersih.


"Rawat dengan baik orang tua itu.. saya mengajukan permintaan pada Raja Bhadra Arsyanendra.." tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan dari putranya sendiri, Wisanggeni memohon untuk paman tua itu pada raja kerajaan logandheng.

__ADS_1


Chakra Ashanka dan Raja Bhadra Arsyanendra terkesiap mendengar permintaan itu. Kedua anak muda itu saling berpandangan, namun mereka tidak menemukan jawabannya. Seperti memahami kebingungan di antara dua anak muda itu, Wisanggeni tersenyum..


"Laki-laki tua itu orang baik, dan merupakan salah satu teman lama saya Raja.. Namanya Ki Bawono.. pada masa dulu, laki-laki tua itu pernah berjuang dan bertarung  untuk menegakkan perdamaian di wilayah kita. Kami pernah berusaha memerangi Gerombolan Alap-alap yang pada masanya sangat mengacaukan kedamaian di bumi kita ini. jadi.. bisa dikatakan kami bukan musuh, kami merupakan mitra." sambil tetap tersenyum, Wisanggeni akhirnya menceritakan hubungan apa yang terjadi antara dirinya dengan laki-laki tua itu.


Mendengar perkataan ayahndanya, Chakra Ashanka menjadi kurang nyaman. Anak muda itu tiba-tiba merasa malu, sudah mengusulkan pertarungan dengan pendekar pada masanya itu.


"Kamu tidak keliru putraku.. kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Hanya dengan cara seperti itu, kamu bisa menyelesaikan permasalahan, dan juga dapat menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya pada rakyat kerajaan logandheng. Kepercayaan hanya akan bisa dilihat dengan sebuah pengalaman yang membekas di benak rakyat.." seakan memahami kekhawatiran yang dirasakan putranya, Wisanggeni mencoba menentralisir suasana.


"Jika begitu.. paman Wisang ayo kita masuk ke dalam. Kita bisa berbincang dengan suasana dan kondisi yang lebih enak.." melihat posisi mereka yang tidak nyaman saat ini, raja Bhadra Arsyanendra mengajak mereka melanjutkan pembicaraan di dalam.


*******


Di pendhopo Kraton Kilen


Raja Bhadra Arsyanendra menerima Wisanggeni dan keluarganya di pendhopo kraton Kilen. Diputuskannya tempat itu untuk menerima mereka, karena kraton ini lebih memiliki privacy dan sebagai tempat tinggal sehari-hari raja Bhadra Arsyanendra ketika berada di istana. Sejak kedatangan Rengganis dan Parvati, Raja Bhadra Arsyanendra selalu mencuri pandang kepada Parvati. Beberapa waktu mereka tidak bertahu, Raja Bhadra Arsyanendra terkejut dengan perubahan pada gadis itu.

__ADS_1


Tubuh Parvati sudah semakin berisi sebagai seorang gadis muda, dengan wajah yang sangat cantik terpadu dengan kulit putih bersih miliknya. Hati laki-laki yang sudah mulai beranjak dewasa itu, sejak tadi terasa berdegup melihat kecantikan Parvati, gadis kecil yang dulu sering menemaninya bermain dan bertarung bersama ketika mereka berada di perguruan gunung jambu.


"Kang Bhadra... apakah menyenangkan kehidupan saat ini. Hal inikah sebenarnya yang kamu inginkan selama ini..?" tiba-tiba bibir mungil Parvati bertanya pada raja Logandheng itu.


Mendengar panggilan putrinya untuk raja Logandheng yang seakan-akan memberi penghinaan, Wisanggeni dan Rengganis secara bersama-sama memegang bahu putrinya itu..


"Parvati jaga kata-katamu saat ini Nimas.. Ingat posisi Raja Bhadra Arsyanendra adalah sebagai seorang raja di kerajaan ini, kamu tidak boleh lagi memanggilnya dengan panggilan itu. Kamu tidak menghormatinya sayang.." dengan suara pelan, Rengganis memberi nasehat pada putrinya itu.


Parvati terkejut, gadis itu juga merasa bingung. Ternyata derajat,  dan pangkat seseorang dengan mudah merubah hubungan seseorang.. Tampak kerutan muncul di kening gadis itu, yang menandakan jika ada pertanyaan di pikiran Parvati.


"Paman.. Bibi.. jangan berbicara seperti itu pada Parvati.. Saya tidak menginginkannya paman, bibi.. karena hanya akan membangun sekatan di antara kita. Saya masih Bhadra Arsyanendra teman bermain Nimas Parvati sejak kecil, juga seorang bocah yang selalu diajari oleh Kang Ashan.. Saya mohon.. jangan rubah panggilan itu terhadap saya, karena akan membuat hubungan kekerabatan kita menjadi semakin tidak nyaman.." melihat ekspresi tidak nyaman pada diri Parvati, dengan cepat Bhadra Arsyanendra menenangkan suasana.


"Tidak boleh begitu Kanjeng Sinuhun.. jika hal ini terjadi, sama saja dengan kita melakukan penghinaan besar pada kerajaan ini. Kita tidak boleh melakukannya.." Wisanggeni terlihat keberatan, sedangkan Chakra Ashanka hanya terdiam. Anak muda ini juga berpikir, jika hal yang dimaksud kedua orang tuanya itu yang dianggap benar. Maka ketika dirinya sudah dikukuhkan untuk menduduki patih kerajaan, maka jurang pemisah yang dalam telah membatasi hubungannya dengan keluarga. Dan hal itu.. bukan sesuatu yang dia inginkan.


"Dengarkan perkataan Bhadra paman.. Saya tidak mau lagi mendengar paman dan Bibi, serta Nimas Parvati memanggil saya dengan sebutan itu. Jika kalian terus berusaha melakukannya, maka akan lebih baik untuk saya, jika kedudukan ini saya lepas." semua yang duduk di pendhopo Kraton Kilen terkejut mendengar perkataan anak muda itu.

__ADS_1


***********


__ADS_2