Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 325 Serangan Balasan


__ADS_3

Patih Wirosobo dibantu dengan tiga senopati, berlari menyerang Maharani. Salah satu senopati, memutuskan untuk tidak ikut bertarung, karena merasa tidak ada dendam dan masalah dengan perempuan itu. Dengan tetap mengibaskan ekornya, Maharani menatap orang-orang di sekitarnya dengan tatapan amarah. Tidak ada sedikitpun keanggunan yang dapat terlihat dari perempuan cantik itu. Di ujung halaman, Anggoro terlihat pucat melihat perempuan yang dibawanya ke dalam istana, ternyata memiliki wujud mengerikan seperti itu.


"Senopati Dananjoyo..., kirim tali tambang untuk mengikat ekor manusia ular itu, hati-hati jangan sampai terkena belitan dari ekornya. Bisa dari ular itu yang kita khawatirkan.." Patih Wirosobo berteriak memberi arahan pada para senopati yang ikut bertanding dengannya. Dengan cepat, Senopati Dananjoyo melemparkan tali ke arah tubuh manusia ular Maharani, tetapi dengan cepat perempuan itu melompat menghindar dan mengibaskan kembali ekornya.


"Swingggg..." Senopati Dananjoyo memainkan tali dengan memutar-mutarkan di tangan kanannya. Maharani memberi tatapan sinis, dan senyum melecehkan pada laki-laki itu. Tiba-tiba, tidak diduga, Senopati Dananjoyo melemparkan tali pada perempuan itu. Dengan gesit, tubuh Maharani melenting ke atas, dan tali yang dilempar senopati, berada di gigitan perempuan ular itu. Mata Maharani menyala-nyala, memberi tatapan pada patih Wirosobo dengan tatapan nanar.


Tidak diduga, ketiga senopati melompat dan kembali mengepung perempuan itu. Ketiga laki-laki itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing, dan patih Wirosobo kembali menatap Maharani dengan senyum melecehkan.


"Ajian Gempur Bumi.... jueglarr...." tiba-tiba Patih Wirosobo melemparkan serangan ke arah perempuan itu, dan tidak diduga, perempuan itu menghindari kemudian menembus tanah yang ada di bawahnya. Tidak lama kemudian, perempuan itu kembali muncul di atas tanah. Tetapi. tidak diduga Dananjoyo kembali melempar tali tambang yang sudah dialasi kekuatan ke arah perempuan itu, dan kedua Adipati yang lain memegang tali dari dua sisi lainnya,


Mendapat ikatan yang kuat dari tali tambang, yang dipegang oleh tiga orang senopati, dan Patih Wirosobo yang terus mengirimkan serangan kepadanya, Maharani merasa kewalahan. Perempuan itu hanya bisa mengibas-ibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri, dengan tali tambang mengikat lehernya. Ikatan itu sangat menghambat gerakan yang dilakukan Maharani.


Tiba-tiba.. tubuh licin Maharani mengecil dan menurun ke bawah, akhirnya ikatan tali tambang itu terlepas dari lehernya. Tetapi tidak diduga, disaat perempuan itu lengah, Patih Wirosobo kembali mengirimkan serangan kepadanya. Tubuh Maharani yang sudah kembali berubah wujud menjadi manusia, melambung ke atas. Tetesan darah segar menetes dari tubuh perempuan itu, luka di bagian leher belum kering benar, sudah mendapatkan tambahan serangan dari keempat orang-orang tersebut.


"Serang terus perempuan ****** itu..., lihatlah darah segar sudah mengalir deras dari dalam tubuh perempuan itu. Tidak akan menunggu waktu lama, kita akan dapat menundukkan perempuan ular itu." terdengar teriakan dari Patih Wirosobo menyemangati ketiga Senopati. Merasa sudah mengeluarkan semua tenaga dan kekuatannya, ketiga senopati sudah tampak terhuyung. Dari pandangan mata, orang sudah bisa melihat perbedaan kekuatan di antara mereka. Meskipun Maharani memiliki kesaktian yang cukup tinggi, tetapi dalam keadaan terluka mendapatkan serangan dari empat orang, akhirnya menjadikan perempuan itu cepat merasa lemas, karena tersedot energinya.

__ADS_1


Ketiga senopati segera melompat dan menempatkan dirinya untuk kembali mengepung Maharani. Kembali mereka menatap ke wajah perempuan yang sudah terlihat pucat itu, dengan tatapan menghina.


"Hmmm..., aku tidak bisa jika terus bermain dengan cara seperti ini. Energiku terus mengalir keluar, semua tersedot habis saat aku melawan mereka. Apakah aku sudah perlu untuk mengeluarkan serangan andalanku, tetapi aku akan beresiko tinggi untuk pergi dari dunia ini." Maharani berpikir sendiri. Pandangan matanya sudah mulai berkabut, selain harus menahan sakit dari luka-luka yang ada di tubuhnya, energinya seperti tersedot keluar.


Baru saja Maharani berpikir sendiri, tiba-tiba dari arah belakang...


"Blam..., blam.... clap..." sebuah senjata berbentuk bintang menancap di punggung perempuan itu. Darah segar muncrat keluar dari mulut Maharani. Sejenak perempuan itu kehilangan keseimbangan, tubuhnya limbung... Tidak mau menghilangkan kesempatan emas, Patih Wirosobo melompat dan mengayunkan pedang ke arah Maharani.


"Trang.., trang..." tidak diduga, sebuah serangan menghalau pedang yang ada di tangan laki-laki itu.


Tanpa kata, seseorang melompat ke arah Maharani, kemudian membopong perempuan itu dan membawanya pergi menghilang dari halaman kerajaan Logandheng.


***********


Di tapal batas perguruan Gunung Jambu

__ADS_1


Kepergian Rengganis menuju ke tempat persembunyian para perempuan dan anak-anak perguruan Gunung Jambu, rupanya dimanfaatkan oleh orang-orang dari kerajaan Logandheng untuk menyerang murid-murid yang berjaga di tapal batas. Gerbang kayu, yang baru selesai diperbaiki tadi siang, sudah hancur terkena serangan beruntun dari orang-orang tersebut.


"Apa yang harus kita lakukan, murid-murid yang berjaga di depan sudah tidak mampu menghadapi pasukan kerajaan Logandheng. Percuma saja kita pergi kesana untuk membantu mereka.." terdengar teriakan salah satu murid, yang melarikan diri dari penjagaan di garis depan.


"Nyalakan suar.., beri pertanda pada teman-teman di bagian dalam perguruan, dan juga untuk memberi tahu Guru Rengganis dengan cepat...!" untungnya, salah satu murid tanggap dengan keadaan darurat tersebut. Mendengar teriakan tersebut, beberapa orang kemudian melakukan apa yang dikatakan laki-laki tersebut.


"Yang lainnya kita harus tetap bahu membahu, kita harus saling membantu. Yang sedang tidak memiliki aktivitas, ikuti aku ke pintu terbang. Kita tidak boleh meninggalkan teman-teman kita yang berjuang untuk mempertahankan perguruan kita.." beberapa murid mengabaikan teriakan orang yang pertama tadi. Dengan mengambil apapun, yang dapat mereka gunakan untuk berperang, mereka berlari ke arah depan.


"Ayo... ayo.. kita menuju ke depan.." dari arah pondhok istirahatm beberapa murid menghambur keluar. Mereka berbondong-bondong maju keĀ  depan untuk membantu para murid yang berjuang di gerbang masuk.


"Longggg jueglarrr...." panah api tiba-tiba menyerbu dari arah depan. Rupanya pasukan selain menggunakan pedang untuk melawan para murid, juga menggunakan long dari bambu untuk mengirimkan anak panah berapi kepada para murid tersebut.


"Aaawww... panas..., panas..." beberapa murid yang terkena anak panah api tersebut, segera berlari untuk mencari air. Melihat empang untuk memelihara ikan, mereka menceburkan diri mereka ke dalam empang tersebut. Kekacauan terlihat di tapal batas, munculnya serangan mendadak dari pasukan kerajaan Logandheng, betul-betul menjadi di luar dugaan para murid tersebut. Ditambah perginya Rengganisa dan Maharani dari tempat itu, menjadikan semangat dari orang-orang tersebut menjadi lemah.


************

__ADS_1


__ADS_2