Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 68 Terlena


__ADS_3

Lima purnama berlalu, Wisanggeni merasa ada retakan berbunyi  di sekujur tubuhnya. Laki-laki muda itu membuka matanya, dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kulit gosongnya tiba-tiba pecah merekah. Dia menengok ke wajah Maharani, perempuan cantik bertubuh ular itu sudah berdiri di sampingnya dengan kedua kaki jenjang dan mulus seperti manusia biasa. Dengan mata telanjang, laki-laki muda itu menahan nafas yang tiba-tiba memburu, saat dia menatap sepasang kaki putih nan mulus tanpa penutup berada di hadapannya. Sedikitpun Maharani tidak merasa risih, saat tatapan laki-laki itu menghujam dan menguliti tubuhnya.


"Aaaaauwwww." terdengar teriakan dari mulut Wisanggeni. Dia kembali merasakan uap panas seperti membakar tubuhnya. Jantung dan hatinya seperti akan pecah, dan dia merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Ssshhhh.." laki-laki muda itu mendesis, dia mencoba mengendalikan hawa panas yang seakan tidak berhenti terasa memanggang tubuhnya.


"Sabarlah Paduka.., proses regenerasi kulit Paduka sedang berlangsung! Sebentar lagi, akan muncul rasa sakit yang lebih besar empat kali lipat dari yang Paduka rasakan saat ini." Maharani mencoba mengarahkan Wisanggeni. Laki-laki itu terus menjerit kesakitan,  dan retakan demi retakan terus terjadi di setiap inci bagian tubuhnya. Dia seperti seekor kepompong dari tanah, yang akan retak.


"Asssshhh.., kenapa rasa sakit ini tidak segera berhenti." jerit Wisanggeni kembali terdengar di seluruh ruangan. Setelah beberapa saat laki-laki muda itu menahan rasa sakit yang menguliti tubuhnya, perlahan badannya kembali lemah lunglai. Tidak lama kemudian, karena panas luar biasa yang dia rasakan, dia sudah tidak dapat lagi mengendalikan tubuhnya. Perlahan mata laki-laki muda itu kembali menutup, Wisanggeni pingsan.


Maharani melambaikan tangannya memanggil anak buahnya untuk datang mendekat.


"Ambilkan selimut sisik putih, bawa kesini!" setelah anak buahnya berada di dekatnya, wanita turunan ular itu meminta untuk mengambilkan selimut.


"Baik putri.." beberapa perempuan ular segera bergegas mengambilkan apa yang diperintahkan oleh Maharani.


Tidak lama kemudian, selimut sisik putih sudah diberikan anak buah pada Maharani. Setelah menerimanya, perempuan ular itu segera mengambil duduk sempurna dan perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kekuatan naga dimanapun berada, sumbangkan kekuatan kalian! Pemimpin kalian membutuhkan bantuan dari kita. Sumbangkanlah..!" keluar teriakan dari mulut Maharani.


Sesaat setelah teriakan itu terdengar, muncul seberkas sinar dengan campuran berbagai warna dari berbagai penjuru arah. Dengan cekatan, kedua tangan Maharani diangkat keatas, kemudian membentuk satu lingkaran. Kedua telapak tangannya dia gerak-gerakkan naik turun seperti membuat kepalan. Dengan cepat kekuatan energi berbagai warna itu terkumpul di kedua tangannya, setelah beberapa lama perempuan itu membuat pengendalian, dengan sekuat tenaga kumpulan kekuatan energi itu dia pancarkan ke dada Wisanggeni.


"Duaarrr." terdengar ledakan yang kencang saat pancaran sinar yang dikirimkan Maharani masuk ke dada laki-laki muda itu.


"Krakk..." retakan rata menyebar ke tubuh Wisanggeni, dengan segera arang hitam terbang dari tubuh laki-laki muda itu. Menggunakan tenaganya yang masih tersisa, Maharani mengibaskan kedua tangan dan membersihkan remukan arang yang sudah menjadi abu di tubuh Wisanggeni.


Melihat badan kekar Wisanggeni dengan kulit yang putih bersih terekspos tanpa busana, secepat kilat, perempuan itu menyambar selimut sisik putih. Dengan lemah dia kemudian menghentak sekali dengan kedua tangannya, dengan cepat dia menutup tubuhnya dengan tubuh Wisanggeni di bawahnya.


*************


Tanpa bisa menahan lagi\, laki-laki itu mengangkat wajah Maharani yang masih tertelungkup di atas dadanya. Perempuan itu masih memejamkan matanya\, dan tanpa permisi mulut Wisanggeni merangsek maju. Bibirnya dengan pelan sudah dia tempelkan ke bibir perempuan ular itu. Tanpa dia tahu\, gejolak manusia purba seolah naik dari perutnya. Dalam waktu singkat dengan penuh naf**su gai**rah\, bibirnya sudah melu**mat bibir Maharani.


"Ehmm..., asshhh.., aakh.." terdengar desisan rasa nikmat terlontar keluar dari bibir Maharani.


Beberapa manusia ular yang menunggu di sekitar Wisanggeni dan Maharani segera menyingkir ketika mendengar desisan kenikmatan keluar dari mulut Maharani. Mereka menghargai privacy dari para pemimpinnya.

__ADS_1


Saat rasa nikmat mulai menggerayangi sekujur tubuhnya, perlahan Maharani membuka matanya, dan mata jernihnya langsung berbinar saat menyadari laki-laki muda yang saat ini sudah menjadi pemimpin mereka, sedang mencium setiap jengkal kulitnya. Tanpa diminta, perempuan itu langsung menggayutkan dengan manja kedua tangannya di atas leher Wisanggeni.


"Paduka..., teruskan.., uuhh.., sssh.." dengan mata mengerjap nakal, Maharani meminta Wisanggeni untuk meneruskan tindakannya. Dia sangat bangga dan senang bisa mendapatkan sentuhan intim dari pemimpinnya itu.


Mendengar permintaan dengan suara serak dari perempuan yang ada di atas tubuhnya, perlahan Wisanggeni membalikkan tubuh sehingga Maharani berada di bawahnya. Matanya melihat sekujur tubuh perempuan itu dari atas sampai bawah, dan dengan gemetar dia melihat tubuh itu betul-betul mulus tanpa ada cacat sedikitpun. Matanya berhenti di kedua bukit kembar yang sangat menantangnya untuk menyentuh, perlahan wajahnya dia turunkan mendekat. Bibirnya dengan sigap menangkap dan menyesap benjolan kecil di ujung bukit tersebut dengan nafas menderu.


Mendapatkan sentuhan yang semakin intim, terbit senyuman di bibir kecil Maharani. Dia merasa puas bisa menundukkan pemimpinnya dalam hubungan ini, dan saat Wisanggeni memberikan gigitan kecil.. de**sahan semakin kencang keluar dari bibirnya.


"Aaakkkh.., sshh.. pa.. du..ka.., Maha..rani suka dengan ini.." keluar ceracauan tidak terkendali dari mulut Maharani. Ceracauan itu seperti madu bagi laki-laki itu yang merangsangnya untuk selalu menghisap dan menjilatnya. Namun saat detik-detik terakhir, Wisanggeni akan menghujamkan senjatanya.. tiba-tiba...


"Prang..brakk.." terdengar suara keras sesuatu yang ambruk di ruangan itu. Seketika Wisanggeni menghentikan gerakannya, dan sesaat dia tersadar. Tangannya langsung mendorong tubuh Maharani menjauh darinya.


"Paduka.., apa yang paduka lakukan padaku? Abaikan itu Paduka.., ayo kita teruskan dan selesaikan hajat kita!" ucap Maharani dengan tatapan memohon.


"Tidak Maharani, hentikan! Kita sudah terjerumus ke dalam. Maafkan aku!" Wisanggeni langsung menyambar kain yang ada disitu. Dengan cepat dia menutup bagian perut ke bawah, dan kemudian duduk bersila mengembalikan kembali kesadarannya.


Maharani menunduk malu dan merasa kecewa atas berhentinya aktivitas mereka. Dia segera berlari keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


***************


__ADS_2