
Tanpa bisa menahan Wisanggeni, Pangeran Abhiseka dengan berat hati mengantarkan Wisanggeni pergi dari istana. Laki-laki itu hanya bisa menghela nafas, karena memang tidak memiliki kekuasaan untuk menahan putra Ki Mahesa untuk bersamanya mengabdi di kerajaan ini. Mengendarai Singa Ulung dan Singa Resti, akhirnya kedua binatang itu membawa Wisanggeni dan keluarganya meninggalkan kerajaan.
"Kenapa Pangeran tidak menahan laki-laki itu?" tanya pengawal terdekatnya, ketika melihat kekecewaan di mata Pangeran Abhiseka.
"Aku tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak tahu dan tidak kenal terima kasih Jatmiko. Kita tunggu waktu beberapa saat lagi, pada saatnya aku yakin kita akan memperluas kerajaan ini dan menggabungkan kekuatan dengan laki-laki itu." ucap Pangeran Abhiseka sambil menyeka dagunya. Tanpa memandang lagi, laki-laki itu kemudian membalikkan badan dan segera masuk kembali ke pondoknya.
Pengawal kepercayaan yang bernama Jatmiko hanya melihat punggung Pangeran Abhiseka yang perlahan berjalan meninggalkannya, laki-laki itu kemudian juga kembali ke tempat dia berjaga.
***********
Setelah melalu beberapa hari di perjalanan, Wisanggeni akhirnya melihat garis batas penjagaan di perbukitan Gunung Jambu. Hanya laki-laki itu heran, dari atas melihat keramaian di dekat tapal batas tersebut. Banyak orang yang mendirikan pondok seperti sedang melakukan sebuah antrian.
"Ada apakah di pintu masuk perbatasan wilayah pesanggrahan kita Akang..?" teriak Rengganis dari atas punggung Singa Resti. Maharani juga ikut menengok ke tempat yang ditunjukkan oleh Rengganis.
"Akang juga belum tahu Nimas.., hanya beberapa minggu kita meninggalkan pesanggrahan ini, tetapi di gerbang perbatasan sudah berubah menjadi seperti ini." Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis. Merasa membawa putra dan kedua istrinya, laki-laki itu menahan dirinya untuk turun dan mencari tahu keadaan di bawah.
"Ijinkan saya untuk mencari tahu Akang..., Nimas Rengganis membawa Chakra Ashanka, dan Akang harus memastikan Nimas dan Ashan sampai dengan selamat di pesanggrahan." tiba-tiba Maharani mengajukan usul untuk turun sendiri ke bawah. Mendengar perkataan itu, Wisanggeni menatap Maharani dengan tajam.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengijinkan siapapun di antara kalian untuk mencari tahu di bawah. Saat ini yang paling penting adalah, kalian harus sampai kembali di pesanggrahan dengan selamat. Aku akan mencari tahu sendiri dengan beberapa orang. Khawatirnya jika ada penyusup yang kurang berkenan dengan keberadaan pesanggrahan kita, sehingga mereka bertujuan untuk membuat kekacauan." ucap Wisanggeni tegas. Mendengar nada bicara laki-laki itu, kedua istri Wisanggeni tidak ada yang berbicara. Mereka langsung terdiam.
Ketika mereka terdiam, Wisanggeni menjadi terpekur. Laki-laki itu segera berkonsentrasi untuk membuka tabir yang melindungi kawasan perbukitan dengan tenaga dalamnya.
"Uppps..., pembuka kabut cakrawala... heekkk.." tidak menunggu lama, lapisan kabut yang menutup kawasan perbukitan, lambat laun sedikit menghilang. Dengan cepat kedua binatang itu segera menerobos masuk ke dalam, dan kembali dengan tangannya Wisanggeni merapatkan kembali kabut pelindung. Tanpa banyak bicara, kedua binatang itu menerobos rerimbunan hutan untuk langsung menuju ke pesanggrahan.
"Arahkan genggaman lurus di depan dada.., hap.. Kedua kaki perhatikan..!" sayup-sayup suara orang-orang berlatih terdengar dari atas.
"Tendangan kaki arahkan ke depan, belokkan ke samping! Cepat.., cepat.. yap.." di sudut yang lain, terdengar teriakan serupa, yaitu orang-orang yang sedang berlatih kanuragan.
Dari punggung Singa Ulung, Wisanggeni tersenyum, kemudian menepuk leher binatang itu untuk membawanya turun. Tidak lama kemudian, kedua binatang itu menukik turun dan mendarat di tempat yang tidak ada orang-orang berlatih.
***********
Beberapa orang sudah menunggu di pendhopo dan duduk bersila di atas tikar. Beberapa camilan hasil kebun dan wedang jahe yang masih mengepul, tampak menemani mereka berbincang. Tidak lama mereka menunggu, Wisanggeni muncul dari dalam pondok tempatnya beristirahat. Laki-laki itu segera menempatkan dirinya di tempat yang secara khusus disiapkan untuknya.
"Mari Den Wisang.., silakan duduk di tempat yang sudah kami siapkan!" orang-orang mengarahkan Wisanggeni.
__ADS_1
"Baiklah.., terima kasih atas kesediaan kalian untuk berkumpul di pendhopo ini. Ada beberapa hal yang akan saya tanyakan tentang perkembangan dengan kegiatan yang sudah berjalan di padhepokan ini." Wisanggeni mengawali rembukan, untuk memancing para penanggung jawab menyampaikan perkembangan pesanggarahan,
"Terima kasih Den bagus.., saya Trenggono akan mengawali melaporkan tentang murid yang bergabung ke pesanggrahan ini. Dalam beberapa minggu terakhir, banyak terdapat penambahan murid baru disini. Informasi keberadaan pesanggrahan yang lama tertutup, ternyata saat ini sudah beredar luas ke seluruh penjuru wilayah. Keberhasilan Den bagus dan Ki Cokro Negoro dalam menumpas Gerombolan Alap-alap, telah menambah santer keberadaan pesanggrahan ini. Kami juga tidak dapat menolaknya Den bagus..." Trenggono melaporkan perkembangan murid di padhepokan.
"Selanjutnya saya juga akan melaporkan keberadaan logistik kita den bagus. Syukurlah... beberapa bulan ini, padhepokan ini tidak pernah kekurangan pasokan bahan pangan. Tanpa kita minta, beberapa saudagar dan petani serta pedagang mengirimkan bahan pangan mentah ke pesanggrahan kita dengan dititipkan petugas jaga di depan tapal perbatasan. Mereka merasa terbantu dengan berkembangnya pesanggrahan kita, mereka merasa mendapatkan bantuan keamanan dalam menjalanlan kegiatan mereka." Cahyono dari penanggung jawab urusan pangan di pesanggrahan melaporkan.
Wisanggeni menganggukkan kepala dan menyerap laporan satu persatu dari setiap penanggung jawab. Setelah beberapa saat mereka selesai melaporkan,...
"Baiklah.., syukurlah dari semua penanggung jawab.. tidak ada laporan yang perlu tindakan yang serius. Lanjutkan semuanya..., karena kita memang tidak bisa menutup diri dari keberadaan kita yang semakin berkembang di wilayah ini. Bukan tidak mungkin.., suatu saat kita akan memperluas wilayah pesanggrahan karena tidak dapat lagi menampung animo orang yang datang. Hanya tadi siang saat kami melintas di perbatasan,..., ada keheranan di benak kami. Tapa perbatasan sudah tidak lagi kami kenali, hanya beberapa minggu kami meninggalkan pesanggrahan, saat ini tempat itu sudah berubah menjadi sebuah tempat yang ramai. Bahkan bisa terjadi, lama kelamaan akan muncul sebuah kota baru di wilayah itu." Wisanggeni sekalian menanggapi laporan, juga melakukan konfirmasi keadaan di luar wilayah perbatasan.
"Maafkan kami Den Bagus.., menyambung dengan yang sudah disampaikan oleh Ki Sanak Trenggono. Minat masyarakat untuk masuk ke pesanggrahan kita sangat tinggi, tetapi kita juga tidak mungkin untuk menerima mereka setiap saat dan tanpa adanya seleksi masuk." seseorang yang bertanggung jawab dengan urusan tapal batas menanggapi perkataan Wisanggeni.
"Sambil menunggu tiba gilirannya mereka mengikuti seleksi, mereka mendirikan tempat tinggal sementara di kawasan tersebut. Banyak penduduk yang memanfaatkan kesempatan tersebut dengan membuka ruang untuk membuka kedai makan, dan juga keperluan sehari-hari mereka." lanjut orang tersebut.
Wisanggeni mengambil nafas..
"Kita memang tidak bisa menutup diri selamanya, tetapi kita memang juga harus seleksi dan hati-hati untuk menerima masyarakat untuk bergabung ke pesanggrahan ini. Mungkin ke depan kita juga harus membuka diri pada masyarakat. Aku berjanji, akan mengawal dan mengemban amanah guru dengan baik." Wisanggeni akhirnya mentolerir tuntutan keadaan yang memaksa mereka.
__ADS_1
*****************