Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 333 Semua Sudah Terlambat


__ADS_3

Tanpa sempat berpamitan dengan keluarga di Trah Bhirawa, Lindhuaji dan Larasati bergegas untuk menuju ke Perguruan Gunung Jambu. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu, tanpa istirahat terus memacu kuda untuk menuju ke perguruan tersebut. Dalam waktu lebih dari satu minggu perjalanan, akhirnya mereka berhasil melihat gerbang kedatangan tapal batas perguruan Gunung Jambu.


"Nimas.., sepertinya telah terjadi kekacauan di perguruan ini. Lihatlah.., tidak biasanya lingkungan bagian depan perguruan porak poranda. Namun, Dhimas Wisanggeni tidak bercerita apapun tentang kejadian yang telah menimpa perguruan. Sepertinya racun yang berada di dalam tubuh Nimas Maharani, terkait dengan kejadian ini." Lindhu Aji menghentikan kudanya, kemudian menunjuk ke beberapa kerusakan yang masih terlihat jelas di sekitar perguruan itu.


"Iya kakang.., kita akan segera mengetahuinya.." Larasati menanggapi perkataan suaminya.


Baru saja mereka akan turun dari kuda, terlihat ada tiga murid berlari menuju ke arah mereka. Seperti orang yang mencurigai kedatangan Larasati dan Lindhu aji, ketiga murid itu menatap keduanya dengan pandangan tajam. Tampak satu tangan mereka, disembunyikan di belakang punggungnya, seakan menyiapkan sebuah serangan dan berjaga-jaga.


"Ki Sanak.., mohon untuk berhenti sebentar. Kami diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan pada setiap orang yang akan memasuki wilayah perguruan.." salah satu dari murid tersebut mengajak bicara Lindhu Aji.


Laki-laki yang muncul ke perguruan ini karena undangan dari adiknya Wisanggeni itu tersenyum, dan berpandangan dengan istrinya Larasati. Tetapi karena menyadari jika tiga murid itu belum pernah bertemu dengan mereka berdua, akhirnya Lindhu Aji memaklumi tindakannya. Pasangan itu segera melompat turun dari atas kuda yang mereka tunggangi.


"Kemana tempat yang menjadi tujuan Ki Sanak berdua.., karena untuk perguruan Gunung Jambu untuk saat ini, dan beberapa waktu ke depan belum bisa menerima kunjungan dari pihak manapun. Jadi.., mohon maaf jika kami mencegat perjalanan Ki Sanak berdua.." dengan tutur bahasa halus dan penuh kesopanan, murid-murid Wisanggeni menjelaskan duduk perkara, mereka mencegat dua orang itu.


"Hmmm..., apakah daun lontar ini bisa memberi ijin bagi kami berdua untuk memasuki padhepokan bagian dalam." sambil tersenyum, Lindhu Aji menyerahkan daun lontar kirimanĀ  Wisanggeni pada murid perguruan itu.


Ketiga murid itu saling berpandangan, kemudian memberanikan diri membuka gulungan daun lontar tersebut. Begitu mengenali goresan tangan guru mereka Wisanggeni, ketiga murid itu menjadi pucat pasi.


"Ki Sanak.., maafkan karena kebutaan kami tidak bisa mengenali saudara dekat dari guru kami Wisanggeni. Silakan dilepaskan tali kekang kudanya, kami yang akan menambatkan kuda-kuda ini." dengan penuh ketakutan, ketiga murid itu meminta tali kendali kedua kuda yang membawa Larasati dan Lindhu Aji.

__ADS_1


"Tenanglah.., kalian berdua tidak bersalah. Kami memaklumi tindakan kalian berdua. menjaga teguh apa yang sudah diperintahkan oleh guru kalian. Beri perawatan pada kuda-kuda kami, satu minggu lebih belum beristirahat. Cukup antarkan kami sampai disini, kami akan menuju ke padhepokan sendiri saja," tidak mau membuat repot atas kedatangannya, Lindhu Aji meminta ketiga murid itu berhenti untuk mengantarkannya.


"Baik.., terima kasih Ki Sanak.." ketiga laki-laki murid perguruan itu, segera menuntun kedua kuda yang dibawa Larasati dan Lindhu Aji.


"Mari Nimas,.., berpeganglah padaku. Aku akan membawamu masuk ke padhepokan." Lindhu Aji memegang tangan Larasati. Kemudian keduanya melompat, dan meninggalkan tempat itu secara bersamaan.


*********


Di padhepokan


Tidak mau beristirahat, Larasati dan Lindhu Aji langsung menuju tempat beristirahat Maharani. Tampak Wisanggeni berada di dalam senthong, sedang melihat istri keduanya Maharani yang sedang memejamkan mata. Melihat pintu dibuka dari luar, Wisanggeni mengangkat wajahnya ke atas. Seulas senyum muncul di bibirnya, melihat kedatangan kakang kedua dan istrinya.


Lindhu Aji mengangkat tangannya ke atas, memberi isyarat agar Wisanggeni mengabaikan. Larasati langsung merendahkan tubuhnya, perempuan itu duduk di samping Maharani. Satu tangan Larasati memegang pergelangan tangan Maharani, dan yang satunya berada di atas kening perempuan itu.


Terlihat wajah Larasati pucat, perempuan itu menghela nafas kemudian melihat ke arah Wisanggeni.


"Semua sudah terlambat Dhimas..., tidak ada yang bisa aku lakukan. Racun yang bersemayam di tubuh Nimas Maharani, merupakan racun yang belum ditemukan penawarnya. Dari mana Nimas Maharani mendapatkannya, hanya ada dua pilihan yang bisa didapatkan Nimas Maharani saat ini.." ucap Larasati perlahan, dan sudut matanya kembali melirik perempuan yang tergolek itu dengan tatapan prihatin.


Larasati membuat gerakan menotok jalan darah di dekat leher, dan di ulu hati Maharani. Wisanggeni melihat penanganan itu tanpa berkedip. Sebagai peracik obat-obatan herbal, selama ini laki-laki itu memang belum mencoba untuk membuat penawar racun. Padahal kali ini, Wisanggeni merasakan betapa butuhnya obat untuk menangani racun yang ada di tubuh Maharani.

__ADS_1


Selain itu, laki-laki ini juga diuntungkan dengan adanya kebijakan yang diputuskan oleh Raja dari kerajaan Logandheng, untuk menangani permasalahan sengketa ini lebih lanjut. Meskipun Patih Wirosobo masih memiliki rasa dendam karena terbunuhnya Senopati Wiroyudho putranya, tetapi dengan ada keputusan itu, patih tidak bisa bertindak lebih jauh. Akhirnya sambil menahan rasa dendam dan sakit, untuk sementara Patih Wiroyudho menahan perasaannya.


"Kenapa bisa menjadi seperti ini Dhimas,.., apa sebenarnya yang terjadi dengan perguruan ini?" Lindhu Aji menepuk punggung adiknya itu.


Wisanggeni berdiri kemudian melangkahkan kaki keluar diikuti oleh Lindhu Aji. Dari arah berlawanan terlihat, Rengganis sedang membawa baki yang berisi minuman dan camilan untuk menjamu Lindhu Aji dan Larasati.


"Letakkan di meja situ saja Nimas.., kebetulan aku dan Kang Aji akan membicarakan sesuatu.." Wisanggeni memerintahkan pada istrinya, untuk menempatkan minuman dan camilan di tempat yang dia tunjuk. Tanpa banyak bicara. Rengganis meletakkan baki itu di atas meja, kemudian mencium tangan Lindhu Aji untuk memberi hormat pada pihak yang lebih tua.


"Antarkan minuman dan camilan untuk mbakyu Larasati di dalam kamar Nimas Maharani.." Wisanggeni kembali meminta Rengganis untuk mengantarkan minuman itu ke senthong.


"Baiklah kakang..., kang Aji saya tinggal masuk ke dalam dulu ya.." dengan sopan, sambil tersenyum Rengganis berpamitan pada Lindhu Aji.


"Iya Nimas Rengganis.., pergilah.." Lindhu aji langsung menanggapi perkataan perempuan itu. Kedua laki-laki itu menghantarkan Rengganis dengan melihatnya, sampai perempuan itu masuk ke dalam senthong tempat beristirahat Maharani.


Sepeninggalah Rengganis, Wisanggeni menceritakan kejadian di perguruan Gunung Jambu, selama perguruan itu dia tinggalkan. Atas dasar kemanusiaan dan belas kasihan, memberi pertolongan pada warga masyarakat dan putra mahkota kerajaan Logandheng, akhirnya menjadikan Maharani terluka parah.


"Serahkan Raden Bhadra pada kerajaan Logandheng Dhimas.., jika ingin menghentikan pertikaian ini." setelah menghela nafas, Lindhu Aji memberi masukan pada Wisanggeni.


**********

__ADS_1


__ADS_2