Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 75 Pengendalian Diri


__ADS_3

Dengan wajah hitam menahan marah, orang-orang Laksito memandang ke sekeliling. Tetapi dia tidak dapat menemukan orang yang mencurigakan, yang sudah melempar mereka dengan batu kerikil berkekuatan, sehingga satu temannya terhuyung ke belakang. Beberapa orang memilih untuk mundur dan mengamankan dirinya, sedangkan Wisanggeni beserta teman-temannya mengabaikan pemandangan tersebut. Yang penting, ibu dan anak yang tertindas tadi sudah bisa diselamatkan.


"Minggir.., pindah tempat! kami akan duduk disini." tiba-tiba tanpa dugaan sebelumnya, orang-orang itu datang dan berteriak di samping Wisanggeni. Dengan wajah pucat, Jono akan berdiri untuk segera berpindah dari tempat tersebut.


"Jono.., tetap duduk di tempatmu! Jangan pergi sendiri tanpa diriku!" dengan tegas, Wisanggeni melarang Jono untuk berpindah tempat. Jono menatap Wisanggeni, dan laki-laki muda itu mengangukkan kepala. Akhirnya Jono dan Karno tetap duduk, meskipun dengan hati deg-degan mereka mengabaikan peringatan yang diberikan oleh orang-orang itu.


Laksito dan teman-temannya terkejut melihat ada orang asing yang sudah mengabaikan perintahnya, dengan emosi dia maju dan kakinya diarahkan untuk menendang kaki kursi yang diduduki Wisanggeni dan teman-temannya. Secepat kilat, tangan Wisanggeni bergerak dan menangkap pergelangan kaki orang itu, kemudian mengibaskannya ke belakang.


"Bukk." pantat orang itu sukses menyentuh lantai dengan keras.


"Den Bagus.., mari saya antarkan duduk di dalam. Masih banyak tempat yang lebih bagus daripada tempat ini. Mari Den.." dari dalam pemilik kedai makanan berlari, mereka menawarkan tempat lain untuk rombongan Laksito.


"Hoahhh..., siapa kalian?? Berani-beraninya menantang kami." teriak salah satu orang dalam rombongan Laksito, mereka marah melihat temannya kesakitan duduk di lantai memegani pantatnya.


"Ki Sanak.., tidak ada yang mencoba untuk menantang rombongan Ki Sanak. Kami hanya tidak mau pindah tempat, karena lebih dahulu rombongan kami yang menduduki kursi ini. Kenapa Ki Sanak dan rombongan tidak mencari tempat lain yang masih kosong, malah memilih tempat yang sudah kami duduki lebih dulu." Karno memberanikan diri menanggapi kearoganan kelompok itu.


"Kebanyakan bacot kamu... Terimalah ini... Pang...." orang itu mengayunkan pedang ke arah Karno, dengan cekatan Wisanggeni melemparkan kerikil untuk menghalangi ayunan pedang itu.


"Klontang.." suara pedang membentur lantai terdengar jelas. Laki-laki arogan itu tampak pias melihat ke arah Wisanggeni.


"Gimana ini Laksito.., apakah kita akan masuk ke dalam, atau kita lanjutkan berurusan dengan orang-orang ini?" salah satu teman Laksito berbisik pada laki-laki muda yang dengan garang melihat pada Wiisanggeni dan teman-temannya. Sudut bibir Laksito membentuk senyum sinis..

__ADS_1


"Bang.." tanpa menjawab pertanyaan temannya, Laksito mengirimkan serangan ppada Wiisanggeni. Untuk mengurangi kerusakan pada kedai makan, Wisanggeni meloncat ke halaman kedai yang lebih luas.


Laksito mengejar Wisanggeni, sambil terus mengirim serangan. Tidak mau menimbulkan banyak keributan, Wisanggeni lebih banyak menghindar, dia tidak mengirimkan serangan balik ke arah lawan.


"Bang..sat.., kamu jangan meremehkan aku Ki  Sanak. Apakah kamu berpikir, aku tidak bisa mengalahkanmu sehingga kamu hanya berlari meloncat seperti kelinci untuk menghindari serangan dariku." seru Laksito marah.


"Maafkan saya Ki Sanak.., saya tidak mau mencari keributan disini. Masih ada hal lain, yang harus aku selesaikan disini. Aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk bertarung denganmu." Wisanggeni mencoba melunakkan hati Laksito.


"Terlalu banyak bicara kamu. Terimalah ini.., bang." Laksito kembali mengirimkan serangan pada Wisanggeni.


"Bang..., hentikan Laksito!" tiba-tiba serangan Laksito dipatahkan oleh seseorang yang langsung memanggil nama Laksito.


"Paman Narendra.." melihat wajah sesepuh pendamping Rengganis, Laksito langsung menunduk. Dia menarik kembali serangannya.


Merasa sungkan dengan keluarga Kepala dan para pendampingnya, Laksito langsung menghentikan perkelahian. Tanpa bicara, laki-laki itu melambaikan tangannya memanggil teman-temannya, kemudian dengan pongah meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih bantuannya Paman." Wisanggeni mengacungkan kedua telapak tangannya untuk memberikan ucapan terima kasih pada laki-laki tua itu. Anak muda ini memang belum mengenal Ki Narendra, meskipun laki-laki tua yang saat ini berada di depannya itu, sudah sangat mengenalnya dengan baik.


************


Wajah Rengganis menjadi kembali cerah dan sumringah  saat mendengar laporan dari Ki Narendra, jika laki-laki tua itu sudah bertemu dengan Wisanggeni. Dan yang lebih membahagiakannya lagi, Ki Narendra bertemu dengan laki-laki pujaannya itu di wilayah Jagadklana, bukan di tempat lain.

__ADS_1


"Paman.., apakah paman yakin jika laki-laki muda yang bertarung dengan Laksito benar-benar Kang Wisang?" tanya Rengganis dengan mata berbinar.


"Iya Nimas.., tidak mungkin mata paman salah mengenali putra bungsu Ki Mahesa. Anak itu sudah semakin berubah sekarang. Kulitnya putih, dengan otot-otot yang semakin kokoh dan kuat. Paman yakin, dia sudah memiliki tambahan kanuragan baru." kata Ki Narendra sambil tersenyum.


"Tapi paman berpesan padamu Nimas, kendalikan dirimu. Akan ada hawa dari dalam dirimu yang ingin selalu mendekat pada laki-laki muda itu. Begitu juga yang akan dirasakan oleh Wisanggeni. Paman harap, kalian bisa mengendalikan itu semua, ada norma dalam masyarakat yang harus kalian lakukan, sebelum kalian berdua melakukan satu penyatuan." lanjut Ki Narendra lagi.


Mendengar perkataan laki-laki itu, semburat warna pink melintas di pipi Rengganis. Dia teringat bagaimana dirinya selalu tidak bisa mengendalikan diri jika sudah bersentuhan kulit dengan putra bungsu Ki Mahesa. Aroma dan kulit Wisanggeni seperti sudah menjadi candu bagi dirinya.


"Rengganis akan berusaha paman, tetapi jangan salahkan kami juga paman! Karena jiwa muda kamu sering lebih berpikir di depan, daripada norma yang ada di masyarakat." ucap Rengganis lirih.


"Paman hanya berpesan Nimas, jangan kecewakan harapan Ki Sasmito dan Ibunda Nimas Rengganis."


"Iya paman, Rengganis akan berusaha."


Ki Narendra tersenyum, karena sudah tidak ada hal lain, laki-laki tua itu berpamitan untuk kembali ke tempatnya.


"Oh ya paman.., apakah paman juga sudah mengetahui dimana Kang Wisang menginap? Rengganis ingin mengejutkan Kang Wisang paman." Rengganis kembali bertanya pada Ki Narendra.


"Laki-laki muda itu menginap dekat tempat akan diadakannya pertandingan adu kanuragan. Dia bersama dengan rombongan berjumlah tujuh orang termasuk dirinya." kata Ki Narendra, yang langsung meninggalkan Rengganis.


Rengganis tersenyum, dia mengingat dengan jelas tempat penginapan yang disampaikan oleh laki-laki tua itu. Dia berjanji akan membawa Wisanggeni tinggal di tempat tamu Jagadklana biasanya menginap. Setelah beberapa saat memastikan Ki Narendra sudah melangkah jauh dari wismanya, Rengganis segera bergerak cepat keluar dari dalam wismanya. Dia tidak bisa menunggu lagi, untuk menemui Wisanggeni yang sudah sekian lama terpisah dengannya.

__ADS_1


***************


__ADS_2