Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 141 Merangsek Ke Dalam


__ADS_3

Sekitar dua puluh orang menyelusup masuk ke pendhopo tempat Ki Laksito bertempat tinggal, karena masih dini hari tidak banyak penjaga yang terjaga. Empat orang yang berada di cakruk penjagaan sudah dalam keadaan terkantuk-kantuk, sehingga tidak menyadari jika ada penyergapan di depan mata mereka.


"Srett..., jleb..." suara pedang yang langsung menyayat dan menghujam tanpa peringatan, langsung menghabisi orang-orang itu.


"Si.. siapa kamu..?" terbata seorang penjaga yang masih hidup bertanya pada mereka. Seorang perempuan muda menggeser badan laki-laki yang sudah menyerang orang-orang tersebut. Dengan senyum menyeringai.., Rengganis berdiri di depan orang yang terluka itu.


"Apakah kamu masih perlu bertanya siapa aku Paman.., dan siapa yang memberi kalian hak untuk mengusir ibundaku dari pesanggrahan ini?" sambil menatap tajam penjaga itu, Rengganis berbicara pada mereka. Orang itu kaget melihat perempuan yang berada di depannya.


"Nimas.., Nimas Rengganis.., ampuni kami Nimas. Kami terpaksa melakukan hal ini, kami hanya menjalankan perintah Nimas orang-orang Ki Laksito Nimas." orang yang masih selamat itu meminta ampun pada Rengganis.


"Tunjukkan dimana letak gudang persenjataan kalian jika kamu mau selamat!" Rengganis berbicara dengan nada tinggi, dan saat melihat banyak orang di belakang perempuan muda itu, orang itu akhirnya menganggukkan kepala. Rengganis meminta orang itu berjalan di depan, dan orang-orang lain menyebar masuk ke pesanggrahan.


"Ajian sirep pati...." terdengar orang Sentono mengeluarkan ajian, untuk membuat orang-orang dan penjaga yang berada di pesangggrahan itu tertidur lelap. Rengganis diikuti Maharani terus mengikuti orang Laksito untuk menunjukkan tempat penyimpanan senjata. Setelah beberapa saat mereka berjalan, mereka berada di sebuah bangunan yang cukup besar.


"Di dalam gudang itu Nimas.., tetapi hati-hatilah!! Penjaga yang berada di dalam memiliki kesaktian yang lumayan tinggi. Kami tidak bisa menghadapinya.." orang itu langsung berhenti, dia tidak berani masuk ke dalam. Rengganis dan Maharani membiarkan orang itu tidak mengantarnya ke dalam. Kedua perempuan muda itu langsung mendobrak pintu yang menghalangi tempat masuk gudang tersebut.


"Duk..., Braakkk.." setelah terkena tendangan kaki Rengganis, pintu tersebut langsung ambruk ke belakang. Baru saja mereka berdua akan masuk,...

__ADS_1


"Bukk.., aaaw.." dengan sigap Maharani melumpuhkan penjaga yang bersiap untuk menyerang mereka di dalam gudang. Kedua perempuan itu mengambil sikap bersiap mengirimkan serangan,


"Hai siapa kalian..,?? Berani-beraninya membuat kekacauan di tempat ini." terdengar suara berat laki-laki di samping mereka berdua. Kedua perempuan itu menoleh ke tempat sumber suara, terlihat laki-laki tinggi besar, berbadan gempal dan bermata merah sedang berjalan ke arah mereka.


"Hati-hati Maharani.., laki-laki itu sepertinya bukan berasal dari Jagadklana." Rengganis berbisik memperingatkan Maharani, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh perempuan muda itu.


"Huh.., harusnya aku yang bertanya padamu, untuk apa kamu berada disini?? Pergilah ke tempat asalmu.., uupss kekuatan Cakra Bumi.... bang.. bang...." Rengganis dengan berani menjawab pertanyaan laki-laki tersebut, sambil mengirimkan serangan pada laki-laki itu. Pusaran seperti bola berwarna jingga mengarah pada laki-laki besar itu, dan laki-laki itu memutar kedua tangan kemudian didorong ke depan untuk menolak kiriman serangan tersebut.


"Blamm...." serangan Rengganis berhasil dihindari orang tersebut, dan menghantam dinding kayu tempat penyimpanan senjata tersebut. Laki-laki besar itu melompat keluar gudang, tetapi Maharani sudah merubah dirinya menjadi seekor naga. Ekornya dengan cepat, menyambar laki-laki tersebut sehingga tubuhnya terpental keluar.


"Sabetan ekor naga putih... keluarlah..!" dengan teriakan nyaring, ekor Maharani menyabet badan laki-laki besar itu. Badan laki-laki tersebut terlempar, dan kilatan petir yang sudah turun ke bawah menghantam tanah, dan merobohkan pohon beringin yang berada di depan gudang penyimpanan senjata tersebut.


"Duarr..., bang ..., bang.." sambaran selendang Rengganis membelit tubuh laki-laki besar itu, tidak memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk menunjukkan kesaktiannya. Dari atas, Maharani membuka mulutnya dan semburan bisa api diarahkan perempuan itu ke kepala laki-laki tersebut.


"Aaaaawww... bang**sat.... kalian... aakh." pekik kesakitan saat bisa api melelehkan kepala laki-laki itu, dengan cepat Rengganis menarik selendangnya. Tubuh laki-laki ambruk ke tanah.


*************

__ADS_1


Suara pertarungan Maharani dan Rengganis telah membangunkan orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi. Ajian sirep yang dikirimkan oleh orang-orang Sentono tidak berarti untuk mereka. Tidak menunggu lama, pertempuran pecah di dalam pesanggrahan. Gelombang orang-orang tambahan yang dipimpin Gayatri, Niluh segera bergabung meramaikan suasana pertempuran. Adu senjata antara orang-orang tidak bisa dielakkan lagi.


"Jleb.., jleb,.." suara tombak dan pedang terhunus ke tubuh manusia tidak dapat dihindarkan. Orang-orang Laksito dengan muka yang masih mengantuk berlari hanya membawa senjata seadanya. Gudang penyimpanan senjata, dijaga ketat oleh Maharani, dan bagi orang yang akan nekat mengambilnya berakhir dengan sabelan ekor naga di tubuhnya.


"Laksito... keluarlah!! Hadapi aku..!" Rengganis berteriak memanggil Laksito di depan kamar utama. Kamar itu dulu digunakan untuk tempat peristirahatan Ki Sasmita.


"Nimas Rengganis... ternyata kamu. Apakah kamu mencari mati..??" tiba-tiba saat ointu kamar terbuka, tidak ada Laksito disitu. Seorang perempuan cantik keluar dari dalam kamar, dan menatap Rengganis dengan tatapan tajam.


"He.., he.., he... ternyata kamu Cempluk. Orang yang akan mati terlebih dulu biasanya berasal dari golongan pengkhianat Cempluk. Berasal dari golongan mana dirimu saat ini??" dengan senyuman sinis, Rengganis mengejek perempuan yang dipanggil dengan sebutan Cempluk itu.


"Jangan banyak bicara Rengganis.., aku tidak percaya kamu bisa masuk dan datang sejauh ini. Terimalah... Teknik Penghancur Persendian..." selesai bicara, Cempluk mengirimkan serangan pada rengganis. Dengan senyum sinis, Rengganis langsung melompat mundur ke belakang, dan selendangnya dia kelebatkan untuk menahan serangan tadi.


"Duarrr..." dua serangan saling bertemu, dan Cempluk menatap Rengganis dengan mata penuh amarah. Sejak gadis itu masih kecil, dia selalu di bawah bayang-bayang Rengganis. Saat inipun, dia merasa belum bisa menandingi kekuatan perempuan itu. Hal ini semakin menyulut kemarahan Cempluk, dan dengan membabi buta, perempuan itu mengirimkan serangan pada putri Ki Sasmita.


"Huh..., apakah kamu pikir kamu akan bisa mengejar ketertinggalanmu dariku Cempluk.. Bayu Manunggal ... keluarlah!" sebuah pusaran angin kencang dikirimkan Rengganis ke dada Cempluk, dan karena posisi perempuan itu masih berada di pintu kamar, Cempluk tidak bisa menghindar. Pusaran angin mendorong tubuh Cempluk ke belakang, menghantam tembok. Tembok pembatas tidak kuat menahan serangan pusaran angin, akhirnya tembok itu jebol dengan Cempluk yang terluka parah. Sambil tersenyum kecut, Rengganis meninggalkan Cempluk yang kesakitan antara hidup dan mati.


**************

__ADS_1


__ADS_2