
Wisanggeni, Rengganis dan Parvati berkumpul di ruang makan penginapan. Pemilik penginapan merasa bersyukur dengan adanya tamu yang menyewa di penginapan mereka. Dengan adanya sisa keping emas yang dibayarkan Wisanggeni, pemilik penginapan sengaja menyediakan ayam ingkung lengkap dengan menu paduannya, untuk sarapan pagi Wisanggeni dan keluarga. Bahkan pemilik penginapan turut duduk menemani mereka menikmati sarapan pagi.
"Paman.. jika paman ingin menarik pengunjung agar mereka mau mampir dan singgah di penginapan ini, maka paman harus merubah tampilan depan dari penginapan." tiba-tiba Parvati memberikan masukan pada pemilik penginapan.
"Maksud Nimas.. apakah penginapan ini tidak menarik?" pemilik penginapan merasa kebingungan, dan bertanya apa yang dimaksud oleh Parvati...
"Ya pastilah paman.. Penginapan paman ini terlihat kusam, sehingga orang malas untuk singgah. Lampu yang digunakan juga tidak semua dinyalakan, sehingga kalau malam hari, penginapan ini terkesan gelap. Orang akan melihatnya, dan berpikir jika penginapan ini tutup paman.. tidak buka." Parvati menjelaskan apa yang dia maksudkan.
Pemilik penginapan tampak diam dan berpikir. Dari samping, Rengganis dan Wisanggeni hanya senyum-senyum melihatnya, sambil melanjutkan menikmati makan pagi dengan suwiran ayam ingkung dan urap sayuran.
"Paman bisa menambahkan atau mengganti warna penginapan yang sudah kusam. Rapikan tumbuh-tumbuhan di depan penginapan ini, sehingga tidak terkesan kumuh. Yang lainnya bisa dirapikan sambil jalan." tambah Parvati.
"Iya Nimas.. sebenarnya paman juga sudah berpikir lama tentang hal itu. Tetapi yang paman khawatirkan lebih dari hal itu. Paman dan beberapa pelaku usaha penginapan di kota ini, pernah dipanggil oleh pemilik penginapan yang ramai pengunjung di sebelah selatan sana. Pemilik itu dan orang-orangnya menindas kami, dan menekan agar kami menutup penginapan ini. Orang-orang pada ketakutan, dan hanya saya saja yang bertahan. Akhirnya.. beginilah kami.. mungkin Nimas dan keluarga bisa menyaksikannya akhir dari perlawanan saya." pemilik penginapan itu tersenyum masam, dan melihat ke depan dengan tatapan kosong.
Rengganis dan Wisanggeni memahami apa yang dirasakan oleh laki-laki tua itu. Dalam senyumnya, tampak kegetiran yang selalu disembunyikan oleh laki-laki tersebut. Wisanggeni menyenggol istrinya untuk membantu meyakinkan laki-laki tua itu.
"Paman.. yakinlah dengan apa yang dikatakan putriku Parvati. Paman memang harus segera berbenah diri, membuat penginapan ini menjadi lebih menarik. Kami sudah memutuskan untuk tinggal di penginapan ini untuk beberapa hari. Kami akan menemani paman, dan juga untuk membuat pengunjung yang akan menginap di tempat ini berpikir, jika penginapan ini tidak seperti yang mereka bayangkan." Rengganis menambahkan.
__ADS_1
"Tapi Nakmas... bagaimana dengan pemilik penginapan besar itu. Aku yakin. mereka tidak akan pernah membiarkanku dapat mengembangkan penginapan ini. Mereka pasti akan segera datang dan membuat keributan di penginapan, untuk itu aku sarankan, kalian segera pergi dari tempat ini.." paman pemilik penginapan terlihat putus asa.
"Paman mengusir kami... ha.. ha.. ha.. paman, paman. Seharusnya paman itu membuat pengunjung yang mau menginap di penginapan ini kerasan. Sehingga mereka akan memperpanjang hari mereka menginap, dan bahkan lain waktu akan datang ke tempat ini lagi ketika mereka datang berkunjung ke kota ini. Bahkan.. bisa terjadi, mereka akan memberi tahukan keberadaan penginapan ini pada orang lainnya. Jadi.. perlakukan pengunjung dengan baik paman..." Wisanggeni turut berbicara.
Pemilik penginapan kembali tersenyum kecut, tampak jelas ada ketakutan dalam matanya. Tetapi laki-laki tua itu seperti tidak mampu mengatakannya. Akhirnya hanya senyum sambil menerawang keluar, itu yang dilakukannya.
*********
Beberapa Saat Kemudian
"Kalian sudah siap untuk kembali menempuh perjalanan." sambil tersenyum, Wisnaggeni menyapa istri dan putrinya.
"Sudah ayahnda.. Parvati ingin menikmati pemandangan di kota ini. Banyak tebing dan lembah, yang mungkin saja akan kita datangi ketika mencari padhepokan Kakek Bawono.." dengan senyum cerah, Parvati menanggapi perkataan ayahndanya.
Rengganis tersenyum, kemudian menggandeng tangan Parvati. Mereka bertiga segera keluar dari dalam, menuju ke depan penginapan untuk berpamitan sebentar dengan pemilik penginapan. Tetapi mereka sudah celingukan, namun belum menemukan keberadaan pemilik penginapan. Ruang depan penginapan terlihat sepi, meskipun semua pintu dan jendela sudah terbuka lebar. Wisanggeni sedikit berpikir dan curiga dengan keadaan itu. Tetapi laki-laki itu diam, dan segera mengajak istri dan putrinya langsung menuju ke arah pintu keluar penginapan.
"Dukkk... jadi kamu tidak mau mendengarkan kata-kataku Badri... Malah aku mendengar laporan, jika orang-orangmu sudah berani membuat keributan dengan orang-orangku." terdengar seseorang berteriak di depan penginapan.
__ADS_1
Rengganis mengerutkan dahinya, dan perempuan itu berpikir jika apa yang terjadi di depan, merupakan dampak dari perbuatannya semalam. Dengan cepat, perempuan itu bergegas menuju ke depan penginapan, bahkan tanpa sadar meninggalkan suami dan putrinya. Ternyata apa yang dipikirkannya, sesuai dengan apa yang baru saja dipikirkannya. Terlihat paman pemilik penginapan jatuh tersungkur di atas tanah, dan ada laki-laki peruh baya dengan sombongnya berdiri di depannya. Beberapa orang tampak mengelilingi dua orang itu. Melihat hal itu, dada Rengganis menjadi panas, dan tanpa berpikir..
"Hentikan perilaku tidak beradab kalian.. datang berkunjung dengan sikap layaknya centeng pasar.." Rengganis berteriak. Suara nyaringnya mengejutkan orang-orang itu, dan beberapa orang yang melihat serta terlibat dengannya tadi malam, langsung merasa ketakutan.
Sebaliknya melihat ada perempuan cantik yang bersuara keras terhadap mereka, laki-laki paruh baya yang berpakaian gemerlap itu, tersenyum. Tampak minat laki-laki itu terlihat di matanya yang bersinar mesum.
"Nimas.. pergilah nimas.. mereka bukan orang baik, dan tidak bisa untuk diajak bicara baik-baik.." melihat kedatangan Rengganis yang memberikan teguran pada orang-orang itu, pemilik penginapan mencoba menolong Rengganis.
"Paman,. jangan khawatirkan aku. Paman tenang saja, aku akan melihat, sampai sejauh mana keberanian mereka. Apakah hanya bisa menindas orang lemah seperti yang mereka lakukan saat ini, ataukah memang mereka memiliki kelebihan.." dengan tersenyum sinis, Rengganis menenangkan pemilik penginapan itu.
Melihat kata-katanya tidak digubris oleh perempuan itu, pemilik penginapan melirik Wisanggeni dan Parvati. Laki-laki tua itu ingin kedua orang itu mengendalikan Rengganis. Namun.. Wisanggeni hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, dan semakin membuat laki-laki pemilik penginapan itu merasa bingung.
"Ha.. ha.. ha.. ternyata jika ada rejeki, tidak akan lari kemana. Pagi-pagi begini.., kita sudah disambut oleh perempuan cantik, dan ada pula gadis bau kencur yang terlihat sangat ranum dan menggemaskan." laki-laki berpakaian gemerlap itu, terlihat memiliki minat melihat kecantikan Rengganis dan Parvati. Namun..
"Plak.. plak..." tanpa disadari., dua kali tamparan di pipi kiri dan kanan laki-laki paruh itu, mengejutkan semua orang yang ada di depan penginapan itu.
********
__ADS_1