Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 445 Pesan Leluhur


__ADS_3

Wisanggeni dan Rengganis menatap lekat wajah Ki Sancoko yang berdiri di depannya. Laki-laki tampak menggunakan aura untuk mencegahnya terkena pengaruh dari aura negatif yang mengelilingi tempat itu. Mata batin Wisanggeni berusaha menembus ke batin laki-laki itu, dan terlihat rasa nelangsa dan kesedihan yang sudah mengendap di hati orang itu, untuk beberapa waktu yang sudah lama. Namun tidak bisa diketahui, ditujukan untuk apa kesedihan dan rasa nelangsa itu. Wisanggeni berpikir, jika hal itu akan terkait dengan keberadaan mereka saat ini di padang rumput ini.


"Ki Sanak.. aku haturkan ucapan selamat datang, Ki Sanak berdua sudah mau menerima kedatangan kami. Saya Ki Sancoko, yang dipertuakan di tempat ini untuk mengawal Sukendro dan warga-warga yang lainnya. Bisakah saya juga diperkenankan untuk mengetahui nama Ki Sanak berdua?" sambil tersenyum dan bersikap sopan, Ki Sancoko bertanya pada pasangan suami istri itu.


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu menyambut salam yang dilakukan oleh laki-laki di depannya itu. Mereka saling berjabat tangan, dan berpelukan sebentar.


"Hmmm... terima kasih atas undangan untuk kami agar datang ke tempat ini Ki Sancoko. Aku Wisanggeni, dan ini istriku Rengganis.. bersedia untuk bekerja sama dengan warga di tempat ini, dengan syarat akan membawa kebaikan bagi sesama manusia. Namun.. jika kerja sama ini membawa angin buruk untuk manusia yang lain, dengan tegas kami menolaknya Ki Sancoko.." dengan tegas, Wisanggeni memberi tahu sikap mereka di awal.


"Ha.. ha.. ha.. sangat tegas pernyataan sikapmu Den Bagus.. Namamu dan juga istrimu.. sudah sangat lama kami dengar, juga oleh warga yang lain. Karena lamanya kami mendengarnya, kami sampai menganggap bahwa nama kalian hanya merupakan harapan semu, atau yang disebut dengan mitos Den Bagus.. ternyata setelah sekian lama kami menunggu, hari ini merupakan saatnya, kami dapat bertemu langsung dengan kalian berdua.." merasa akrab dengan nama mereka, Ki Sancoko tampak bersikap akrab pada pasangan suami istri itu.


Rengganis memegang lengan suaminya, perempuan itu heran untuk apa namanya dan juga suaminya dikenal lama oleh orang-orang di tempat ini. Sepertinya Wisanggeni dapat menangkap isyarat yang ditunjukkan oleh istrinya. Laki-laki itu kemudian berjalan lebih mendekati Ki Sancoko..


"Ki Sancoko.. apa maksud dari perkataan yang baru saja Aki katakan.. Banyak terjadi kesamaan nama di alam ini Ki.. jadi saya harap, Aki tidak sembarang menyimpulkannya." Wisanggeni berusaha menetralisir suasana.


Ki Sancoko, tersenyum kemudian menatap ke mata laki-laki muda yang berdiri di dekatnya itu.

__ADS_1


"Anak muda.. banyak nama dan kadang kejadian yang sama di alam ini, Aki setuju. Tetapi.. kesamaan nama pasangan suami istri.. tidak akan banyak yang sama. Bahkan mungkin bisa terjadi, hanya satu di alam semesta ini. Anak muda.. niatkan bantuanmu untuk membebaskan warga kami dari hukuman ghaib seperti ini, jangan siksa kami anak muda.. Warga disini tidak akan mau meninggalkan tempat ini, jika leluhur mereka belum terbebas dari hukuman yang mereka sendiri tidak tahu kapan akan berakhir." dengan mata penuh permohonan, laki-laki tua itu tiba-tiba menjatuhkan lututnya di atas tanah, Ki Sancoko bersimpuh di depan anak muda itu. Melihat pemimpinnya melakukan hal yang demikian, Sukendro melakukan hal yang sama.


"Aki.. Kendro hentikan sikap merendah kalian seperti ini. Kami tidak suka, di alam semesta ini semua manusia memiliki kasta dan derajat yang sama, hanya perbuatannya saja yang membedakan kita. Bangunlah.." Wisanggeni memegang bahu Ki Sancoko dan mengangkatnya ke atas.


"Tidak anak muda... Aki akan bangun dan berdiri kembali, dengan syarat anak muda berdua, mau melakukan apa yang kami inginkan. Bebaskan leluhur kami anak muda.." dengan menghiba, Ki Sancoko menolak permintaan Wisanggeni.


Wisanggeni terdiam sejenak, anak muda itu mengambil nafas panjang.. kemudian...


"Baik.. baiklah Aki... Kendro. Aku dan istriku akan membantu warga pada pemukiman kalian. Bangunlah.. kami bukan orang yang suka memberi tekanan pada orang lain.." akhirnya WIsanggeni tidak kuasa menolak permintaan dua orang di depannya itu.


*******


"Selamat datang di pemukiman kami anak muda.. hanya tempat sederhana ini yang sebenarnya tidak layak untuk menyambut kedatangan kalian.." Ki Sancoko tampak malu membawa mereka ke bangsal sederhana.


Rengganis memegang dagu seorang anak kecil yang sejak tadi menatapnya. Perempuan muda itu merasakan keprihatinan melihat bagaimana orang-orang di tengah hutan inim bertahan hidup. Mereka hanya menggantungkan diri dari apa yang dihasilkan oleh hutan, dan mereka menyatu dengan alam sekitarnya. Beberapa orang datang membawakan buah-buahanĀ  untuk menjamu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Ki Sancoko.. apakah tidak ada anak muda dari kampung ini, yang mereka mencoba peruntungan untuk mengadu nasib di tempat lain Aki.." dengan hati-hati, Rengganis menanyakan keadaan warga di tempat itu.


Ki Sancoko tersenyum, tetapi pandangan mata laki-laki tua itu mengarah ke tempat lain. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu mengambil nafas dalam.


"Nimas.. kepedulian warga di sini di kampung Alas Kedhaton ini sangat tinggi. Melihat leluhur mereka yang terpenjara tanpa kesalahan, dan mereka tidak mampu memberinya kebebasan, menjadikan semacam kewajiban mereka untuk menemaninya. Beberapa kali, saya sudah menghimbau anak muda, untuk memperbaiki nasih hidup mereka, tetapi mereka tidak pernah memiliki ketertarikan untuk melakukannya. Itulah kami Nimas..." ucap Ki Sancoko lirih.


Laki-laki tua itu kemudian mengeluarkan sebuah benda semacam plakat yang terbuat dari kayu, dengan kulit binatang terbentang di tengahnya. Ada beberapa tulisan yang tertera di atas plakat tersebut, kemudian Ki Sancoko menunjukkannya pada Wisanggeni dan Rengganis.


"Ono mongsone, roso sedih sing tok lakoni kanthi mengarep berkahing Hyang Widhi.. bakalan ilang. Mongso kuwi bakalan ono, rikolo ono piyayi loro asmo Wisanggeni lan Rengganis, sing bakalan ngudhari keruwetan neng Alas Kedhaton." membaca tulisan yang ada pada kulit binatang itu, menimbulkan pertanyaan pada pasangan suami istri itu.


Ki Sancoko tersenyum, dan sepertinya laki-laki itu memahami kebingungan yang ada pada mereka berdua.


"Anak muda.. Nimas.. tulisan pada kulit binatang itu memiliki makna "Ada saatnya, rasa sedih yang diderita dengan mengharap Berkah Hyang Widhi, akan hilang. Masa itu akan terjadi, ketika ada dua orang dengan nama Wisanggeni dan Rengganis, yang akan memecahkan masalah di Alas Kedhaton.." Kami hanya menemukan tulisan ini, ketika leluhur kami mengalami kematian mendadak kala itu." terlihat wajah Ki Sancoko menggayut mendung.


*******

__ADS_1


__ADS_2