
Arya dan Dananjaya mengambil satu kamar untuk mereka tempati berdua. Satu kamar besar dengan dua tempat tidur kayu berada di dalamnya. Terlihat Arya mengakhiri semedinya untuk mengembalikan energi dan kekuatannya yang sudah banyak terserap dan keluar, ketika menyalurkannya pada Parvati untuk menyadarkan kembali ayahnda dan ibundanya.
"Apakah kamu sudah selesai melakukan semedi Danan.." dengan suara lirih, Arya bertanya pada rayinya, yang terlihat sedang merenung sambil melihat ke arah luar jendela. Terlihat pandangan kosong anak muda itu, sehingga tidak bisa diketahui apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Sudah kangmas.. beberapa saat sebelum kangmas mengakhiri semedi, Danan sudah terlebih dahulu mengakhirinya. Ada apa kangmas bertanya seperti ini padaku, apakah ada yang akan kita bicarakan." Dananjaya membalikkan badannya, dan menghadap ke tempat kakangmasnya duduk.
Sambil mengerutkan kening, Dananjaya menatap wajah kakangmasnya Arya, dan ingin tahu alasan laki-laki yang lebih tua umurnya dibanding dengannya itu.
"Baguslah jika sudah rayi. Kakangmas hanya ingin tahu, bagaimana rencana kita selanjutnya, akankah kita hanya akan mengikuti keluarga ini kemana arah tujuan mereka." Arya bertanya seakan menegaskan agar rayinya dapat mempertegas apa yang akan diambilnya.
"Kakang.. maafkan ketidak tegasan dan juga ketidak jelasan apa yang akan kita lakukan kangmas. Jujur kangmas.. rayi memiliki ketertarikan secara fisik, dan juga secara hati pada Nimas Parvati putri dari paman Wisanggeni dan bibi Rengganis. Apakah perasaan rayi keliru kakangmas.." dengan tersenyum kecut, akhirnya terucap dari mulut anak muda itu tentang ketertarikannya pada Parvati.
Arya tersenyum mendengar jawaban yang diucapkan oleh rayinya. Tidak ada niat untuk penghakiman, maupun mentertawakan apa yang diucapkan oleh Dananjaya.
__ADS_1
"Rayi.. kakang tidak menyalahkan tentang perasaanmu pada nimas Parvati. Namun rasamu perlu kamu utarakan pada gadis itu. Kakang merasakan jika Raden Bhadra Arsyanendra yang juga merupakan raja kerajaan Logandheng itu juga menaruh rasa dari putri paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis. Kamu harus segera menyampaikan rasamu itu Rayi.. sehingga akan mempermudah keputusan mana yang akan kita lakukan." dengan bijak, Arya menanggapi apa yang diucapkan oleh rayinya itu.
Dananjaya terdiam, apa yang diutarakan oleh kakangmasnya itu, pernah akan dilakukannya. Namun begitu laki-laki muda itu mengingat, jika perkenalannya dengan Parvati, gadis yang disayanginya itu belum lama, maka hal itu yang kemudian membuatnya mundur secara teratur. Tetapi jika mendengar apa yang dikhawatirkan oleh kakangmasnya, Dananjaya juga memiliki niat untuk mempercepat menyampaikan apa yang dirasakannya pada putri keluarga itu.
"Kakang.. pertemuan kita dengan Nimas Parvati belum begitu lama. Apakah hal ini dibenarkan, jika tiba-tiba aku mengatakan tentang rasaku pada gadis muda itu.." seperti kehilangan rasa percaya diri, Dananjaya menjawab pelan perkataan Arya.
"Rayi.. masalah rasa itu bukan terkait dengan masalah waktu. Namun jika rayi memiliki rasa percaya diri dan rasa keyakinan yang kuat jika Nimas Parvati pasti akan memilihmu, maka rayi bisa menyimpan dan menguji rasamu pada gadis muda itu. Tetapi ingatlah apa yang tadi barusan kakang ucapkan kepadamu tentang Raden Bhadra. Apakah rayi tidak mengkhawatirkan dengan raja muda dari kerajaan Logandheng itu.." Arya mempertegas perkataan, untuk memberikan semangat pada rayinya itu.
"Baik kakang.. malam ini rayi akan memikirkannya lagi. Setelah bisa menemukan jawabannya nanti malam, rayi akan menemui Paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis, juga ke kakangmas Chakra Ashanka, untuk minta ijin meminang Nimas Parvati. Terima kasih kakangmas.. atas peringatannya untuk malam ini.." akhirnya Dananjaya membutuhkan waktu untuk berpikir.
**********
"Kakangmas sudah bangun.." ucap Rengganis dengan nada serak, khas bangun tidur.
__ADS_1
"Iya Nimas Rengganis.. udara pagi ini terasa sangat sejuk, dan sangat sulit untuk dibiarkan tanpa terhirup oleh indera penciuman kita. Mandilah dulu Nimas.. nanti kakang akan menyusulmu. Kita akan menikmati pagi dengan berjalan-jalan di kota ini, kita tidak akan mengabaikan apa yang sudah disediakan oleh Hyang Widhi." Wisanggeni berucap pelan, meminta perempuan yang masih terbaring di sisinya itu untuk segera membersihkan dirinya.
"Baik kakang.. tapi kenapa tidak kakang yang lebih dulu mandi. Baru nanti Nimas Rengganis yang mandi belakangan.." Rengganis menggoda suaminya
"Mmmm.. tapi sepertinya kita perlu mengulang-ulang kembali saat-saat dulu yang pernah kita lewati Nimas.. Kenapa kita tidak mandi bersama saja.." dengan tatapan yang tidak mau berpindah dari wajah cantik istrinya, Wisanggeni tersenyum dengan pikiran me**sum.
Menyadari gelagat suaminya, Rengganis menggelengkan kepala dan menutup wajah menggunakan bantal yang tadi digunakan oleh Wisanggeni. Meskipun mereka sudah menjalani perkawinan untuk waktu yang lama, dan bahkan sudah saatnya mereka untuk meminang cucu, namun perempuan muda itu rupanya masih memiliki rasa malu. Wisanggeni tersenyum geli melihat apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Bagaimana Nimas.. kita sudah lama tidak melakukannya.." tidak diduga, Wisanggeni menurunkan wajahnya ke bawah. Di belakang telinga perempuan muda itu, laki-laki itu membisikkan kata-kata. Hembusan uap hangat menerpa daun telinga Rengganis, dan tanpa bisa dicegah kulit Rengganis terlihat merinding.
Tangan Wisanggeni mengambil bantal yang menutup wajah istrinya kemudian meletakkan di samping kepalanya. Perlahan laki-laki itu menatap wajah istrinya yang terlihat bersemburat warna merah. Sambil terus memandang wajah istrinya, Wisanggeni menurunkan wajah dan memberikan ciuman di bibir Rengganis. Seperti berjalan di padang pasir dan di bawah sinar matahari yang terik, terasa Rengganis menemukan mata air di dalamnya. Gadis itu tanpa sadar membuka sedikit bibirnya, dan dengan cepat Wisanggeni memanfaatkan kesempatan itu.
"Ka.. kang.. aakh.." sambil dengan suara seraknya, Rengganis berbisik dan tanpa sadar bibirnya mengeluarkan de**sahan. Suara itu seperti menggelitik hati dan perasaan laki-laki itu, dan semakin menyemangatinya untuk melakukan tindakan yang lebih. Pakaian atas yang dikenakan Rengganis sudah tidak terlihat ada dimana, karena dengan cekatan tangan Wisanggeni sudah merangsek masuk ke dalam atasan perempuan muda itu. Bibirnya menyusuri leher dan merambat turun ke dada perempuan muda itu.
__ADS_1
Rengganis merasakan sensasi yang sudah lama tidak dirasakannya, ketika bibir suaminya menelusuri setiap jengkal kulit di tubuhnya. Satu tangannya juga tidak berhenti memberikan rabaan dan remasan di sekujur tubuhnya, sehingga perempuan muda itu sudah terbuai, dan tidak tersadar. Ceracauan yang tidak jelas keluar dari mulut pasangan muda itu.. dan menambah panas kamar tempat mereka berada. Akhirnya hujan dirasakan oleh pasangan suami istri itu, ketika mereka laksana berjalan di bawah sinar matahari yang terik.
**********