
"Guru..., guru..," Wisanggeni memanggil Cokro Negoro, tetapi dia tidak melihat siapapun dalam ruangan. Dia bergegas membuka pintu, hanya melihat Singa Putih yang tampak terlihap sayu matanya.
"Singa Ulung..., apakah kamu melihat Guru??" tanya Wisanggeni pada binatang peliharaan Cokro Negoronya. Singa putih mengibas-ngibaskan kepalanya, kemudian kaki depannya diangkat dan diarahkan pada bangku kecil yang ada di depannya.
Laki-laki muda itu mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh binatang tersebut, dan terlihat ada satu lembar daun lontar. Perlahan tangan Wisanggeni mengambil, dan melihatnya. Tertera tulisan tangan Cokro Negoro, yang mengabarkan bahwa dia sudah pergi untuk menjalani meditasinya.
"Rawatlah Singa Ulung dengan baik, tepuk di paha belakang sisi kanan! Binatang itu akan bisa menjadi kendaraan bagimu. Aku pergi!" isi pesan dari surat yang ditinggalkan Cokro Negoro.
Wisanggeni mengambil nafas dalam, kemudian dia mengangkat tangannya dan diletakkan di kepala Singa putih itu. Perlahan dia mengelus-elus kepala binatang buas itu.
"Singa putih, guru ternyata sudah pergi meninggalkan kita untuk meneruskan laku meditasinya. Sepertinya, aku juga sudah harus meninggalkan tempat ini. Apakah kamu mau ikut menemaniku dalam pengembaraan?" dengan suara pelan, Wisanggeni bertanya pada singa putih.
Binatang itu langsung berdiri, kemudian berjalan mendekat ke arah laki-laki muda itu kemudian menempelkan badannya dengan bulu-bulu tebalnya ke kaki Wisanggeni.
"Baiklah.., tunggu sebentar aku akan bersiap-siap dulu!" sambil menepuk punggungnya, Wisanggeni kemudian melangkah masuk ke dalam gubug. Tidak lama kemudian, dia kembali keluar dan berjalan ke halaman.
Di halaman kecil depan gubug, Wisanggeni mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada rasa haru menyelinap dalam hatinya, saat dia memandang gubug yang ada di depannya. Singa putih ikut turun ke halaman, kemudian melihat ke arah laki-laki muda itu.
"Kita berangkat sekarang Singa Ulung!" Wisanggeni menundukkan badannya, kemudian menepuk paha kaki belakang sisi kanan. Tidak berapa lama, keajaiban terjadi di depan mata. Muncul sepasang sayap putih berbulu di badan Singa putih, dan tubuhnya menjadi membesar.
"Terima kasih Singa Ulung, kamu bersedia membantu untuk mempermudah perjalanan kita." saat singa putih itu merendahkan badannya, laki-laki itu langsung melompat ke punggungnya.
"Ayo, kita berangkat!" ucap Wisanggeni dengan nada palan. Singa putih itu langsung mengepakkan sayapnya setelah mendengarkan perintah Wisanggeni, dan perlahan terbang ke atas hutan. Hutan yang hijau, bukit di bawah sana melukiskan pemandangan yang sangat indah karya dari Yang Maha Kuasa. Wisanggeni berpegangan pada sisi sayap dari Singa putih.
"Kalau sudah menemukan pinggir desa atau perkotaan, kita berhenti disitu Singa putih. Aku tidak mau menakuti masyarakat dengan kemunculanmu tiba-tiba." Wisanggeni berpesan pada singa putih tersebut.
__ADS_1
********
Di pinggir perkotaan, banyak orang membicarakan tentang kehancuran Klan Bhirowo karena mendapatkan serangan dari Alap-alap. Beberapa orang yang masih bisa menyelamatkan diri, mereka kocar-kacir mencari evakuasi di desa-desa yang ada di sekitar padhepokan yang melokalisir keberadaan klan tersebut.
"Terus kemana Ketua Klannya, bisa diselamatkan tidak? Atau malah menjadi korban?" tanya seorang warga masyarakat.
"Kalau berdasarkan kabar yang beredar sih, Ketua Klan dan 2 orang tetua dari Klan tersebut, ditangkap dan dibawa lari oleh Alap-alap."
"Sebenarnya mereka berbuat dosa apa sama Alap-alap, sampai mereka mengirimkan orang-orangnya untuk menghancurkan Klan tersebut."
Beberapa orang masih kasak-kusuk tentang diserangnya Klan Bhirowo dari Alap-alap. Di sudut jalan, tampak seorang laki-laki muda yang menggemeretakkan gigi, dan menekan genggaman tangannya sampai merah. Rasa emosi dan marah dia rasakan, setelah mendengar beberapa orang di jalan menggunjingkan tentang kehancuran Klannya. Singa putih yang saat ini sudah menjelma menjadi seorang kucing warna putih yang terlihat imut, hanya menempelkan tubuhnya ke kaki Wisanggeni.
"Aku harus mengendalikan diriku, aku akan mencari orang-orang yang tahu persis kejadian sebenarnya. Aku tidak boleh hanya berdasarkan apa yang dibicarakan oleh banyak orang." Wisanggeni mengambil nafas dalam, dia berusaha untuk menata hati dan emosinya.
Sambil mengangkat singa putih dan meletakkan di atas tangannya, dia berjalan menyusuri jalan itu untuk mencari tempat istirahat. Saat Wisanggeni akan memasuki sebuah kedai, dia seperti tidak asing melihat seorang yang berdandan seperti seorang pengemis di seberang jalan. Dengan cepat, Wisanggeni langsung menyeberang jalan kemudian menghampiri laki-laki itu.
"Paman Sastro..., benarkah aku tidak salah lihat?" Wisanggeni langsung mengenali pengemis itu, dia kemudian langsung menyapanya.
Mendengar namanya dipanggil, pengemis itu menatap laki-laki muda yang berdiri di depannya dengan menggendong seekor kucing berwarna putih. Laki-laki itu sekarang sudah bertambah besar dan tinggi, dengan badan yang bertambah tegap. Kulitnya sudah tidak lagi putih seperti kulit perempuan, tetapi sudah sedikit kecoklatan.
"Den Wisang..., paman tidak salah kan Den?" dengan agak takut, Sastro menyapa Wisanggeni.
__ADS_1
"Tidak paman.., benar aku Wisang. Ayo kita cari tempat dulu untuk mengobrol paman, mari kita ke kedai depan situ. Kebetulan aku juga sekalian mau cari makan." Wisanggeni mengajak Sastro untuk menuju kedai yang ada di seberang jalan.
"Tapi saya kotor Den.., apa Den Wisang tidak malu berjalan dengan Paman?" Sastro merasa kurang percaya diri ketika diajak Wisanggeni.
"Sudah Paman, ikuti saya. Paman tidak kotor, hanya pakaian paman saja yang compang-camping." Wisanggeni segera menggandeng Sastro dan membawanya ke kedai depan.
Orang-orang disitu menatap Wisanggeni yang memasuki kedai dengan menggandeng seorang pengemis. Tetapi laki-laki muda itu tidak mempedulikan tatapan orang terhadapnya, dia langsung mengambil tempat duduk yang masih ada di sudut ruangan. Setelah mereka duduk, Wisanggeni melambaikan tangannya memanggil agar pelayan datang untuk melayaninya.
"Iya Den.., Aden mau pesan apa?" tanya pelayan yang membawa catatan menu di tangannya.
"Teh jahe serai, rica-rica dan bakmi godog. Kemudian minta dipotong-potong dada ayam, taruh di atas piring untuk kucing saya." Wisanggeni langsung menyampaikan menu makan dan minuman yang dia pesan.
"Paman Sastro.., mau pesan apa?" tanya Wisanggeni sama Sastro.
"Apa saja, paman mau Den Wisang." jawab Sastro lirih.
"Baik paman. Kang.., tadi yang saya pesan, silakan dibuat menjadi dua porsi ya!" karena Sastro tidak menyebutkan menu makan yang dia pesan, akhirnya Wisanggeni menambah pesanannya menjadi dua porsi.
Tidak lama kemudian, pelayan sudah mengantarkan menu pesanan mereka. Wisanggeni mempersilakan Sastro untuk segera menikmati makanannya.
**************
__ADS_1