
Rengganis menatap wajah putranya dengan pandangan takjub. Ternyata bukan hanya Wisanggeni yang berhasil mendapatkan karomah dari warisan leluhur, ternyata Chakra Ashanka juga mendapatkan warisan energi yang sangat murni. Perempuan muda ini bersyukur, dia telah membekali putranya sejak kecil dengan pondasi dasar untuk membangun kekuatan, dan menerima kekuatan tertentu.
"Ke depan putraku.., ayahnda dan ibunda akan melepasmu untuk bertahan hidup sendiri di alam raya. Hal ini bukan berarti jika ayahnda dan ibunda mengusirmu pergi dari sisi kami berdua, tetapi sudah waktunya kamu untuk mencari pengalaman hidup. Seusiamu, ayahnda dan ibunda sudah melanglang berbagai wilayah untuk menemukan jati diri." Wisanggeni menasehati putranya dengan arif dan bijaksana. Di sampingnya tampak Rengganis ikut tersenyum dan menganggukkan kepala pada Chakra Ashanka. Saat ini mereka sedang mengisi perut dengan makanan yang disiapkan oleh putranya.
"Dengan senang hati ayahnda.., ibunda. Chakra Ashanka akan menyiapkan diri untuk mencari jati diri dan makna hidup yang sebenarnya. Beberapa waktu lalu, sebelum kita melakukan penyeberangan ke Jagadklana, Ashan sudah menemukan beberapa teman, Mereka tertarik untuk menuntut ilmu kanuragan di perguruan kita ayah, bunda. Ashan berharap, ayahnda dan ibunda tidak keberatan untuk menerima mereka." Chakra Ashanka menerima nasehat dari ayahndanya, dan sekaligus meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk menerima temannya menuntut ilmu kanuragan di Perguruan Gunung Jambu.
"Baiklah putraku.., ayahnda dan ibunda akan menerimanya. Kamu perlu untuk memulai bergaul dan berteman dengan orang-orang dari luar perguruan, luaskan jangkauan pertemananmu." Wisanggeni menanggapi permintaan putranya itu.
Rengganis tersenyum, dan setelah merasa puas menikmati makanan yang disiapkan oleh putranya itu, perempuan muda itu segera berdiri dan mengajak mereka untuk bersiap-siap kembali ke Trah Jagadklana,
"Kang Wisang..., Ashan.., kita harus segera kembali. Nimas khawatir, ayahnda atau eyangnya Ashan akan mempertanyakan kita. Karena sudah lebih dari satu hari kita pergi meninggalkan mereka." ucap Rengganis sambil berjalan ke arah kereta kuda.
Wisanggeni dan Chakra Ashanka saling berpandangan, kemudian ayah dan anak itu segera berjalan mengikuti Rengganis. Mereka kemudian naik ke dalam kereta kuda, dan perlahan menjalankan kereta dengan hati-hati.
__ADS_1
***********
Beberapa waktu kemudian
Maharani sudah mendapatkan ijin dari para sesepuh kerajaan ular untuk menyusul suaminya di perbukitan Gunung Jambu. Dengan berat hati, para sesepuh mengijinkan perempuan itu untuk kembali. Padahal saat ini, perut Maharani sedang mengandung putra Wisanggeni, dan tidak lama lagi perempuan itu sudah akan melahirkan anak yang dikandungnya. Tetapi keinginannya untuk tinggal bersama dengan Wisanggeni, mengalahkan keberatan yang diajukan oleh para sesepuhnya.
"Maharani.., apakah kamu tidak bisa menunda keberangkatanmu untuk bertemu dengan suamimu..?? Tunggulah beberapa saat lagi, tidak lama kamu akan segera melahirkan anakmu." dengan suara pelan dan penuh kekhawatiran salah satu sesepuh mencoba berbicara dengan perempuan itu.
"Mohon dimaafkan eyang, kali ini Rani tidak dapat menunda lagi keberangkatan ke perguruan Gunung Jambu. Dengan berada di sisi kang Wisang, akan membantu Rani dalam melahirkan janin yang saat ini sedang Rani kandung Eyang. Maharani mohon.., jangan halangi keinginan bayi ini Eyang." dengan mata berkaca-kaca, Maharani meminta pada sesepuh.
" Maharani akan tetap berangkat Eyang. Apalagi dengan esensi naga perak yang dikirimkan kang Wisang, Maharani mendapatkan tambahan asupan energi murni, yang memperkuat janin yang sedang Maharani kandung saat ini. Selain itu, Rani akan menggunakan kereta kuda untuk mengantarkan perjalanan menuju perbukitan Gunung Jambul. Kalian semua, berhentilah untuk mengkhawatirkan Maharani." dengan hati dan tekad yang kuat, Maharani tetap bertahan dengan pendiriannya. Beberapa saat para sesepuh terdiam, kemudian mereka berembug sebentar untuk mempertimbangkan keinginan Maharani.
"Ya sudah anakku.., pergilah. Kami hanya berharap, kamu dan bayi yang sedang kamu kandung bisa berada di perguruan Gunung Jambu dalam keadaan sehat. Sampaikan salam kami untuk suamimu.." dengan penuh haru, para sesepuh akhirnya memberikan ijin pada Maharani.
__ADS_1
****************
Malam hari saat para sesepuh dan orang-orang di kerajaan Ular sedang terlelap, Maharani dengan ditemani seorang dayang berjalan menuju kereta kuda. Perempuan muda itu sudah membulatkan tekadnya, dan untuk mengurangi hambatan saat berpamitan kembali dengan para sesepuh, dia memilih waktu di malam hari untuk menempuh perjalanan menuju Gunung Jambu,
"Ratu.., segeralah naik ke atas kereta kuda! Bibi akan menjalankan keretanya secara perlahan, sehingga Ratu bisa beristirahat dengan tenang di dalam." dayang segera meminta Maharani untuk masuk ke dalam kereta. Tangan dayang itu terulur, dia memegangi tangan Maharani, kemudian membantu perempuan yang sedang mengandung itu, untuk masuk ke dalam kereta kuda. Tanpa banyak bicara, Maharani mengikuti arahan dayang yang akan menemaninya pergi menempuh perjalanan jauh.
"Terima kasih Bibi.., aku akan segera istirahat. Peganglah jimat ini, bunyikan jika kamu menemukan bahaya dalam perjalanan. Maka kaum kita akan dengan segera memberikan bantuan kepada kita. Tetapi ingat, hanya kamu gunakan jika kita dalam keadaan terdesak." Maharani menyerahkan sebuah bungkus kecil dari kain sutra kepada dayang tersebut. Dengan suka cita, dayang itu menerima pemberian jimat dari Maharani.
Setelah memastikan Maharani merasa nyaman di dalam kereta kuda, dayang itu segera menutup kereta kuda. Perempuan itu menengok ke kanan dan ke kiri, dan setelah memastikan tidak ada orang yang melihat mereka, kemudian perempuan itu berjalan dan melompat ke depan kereta. Perlahan dengan menggunakan cemeti di tangannya, dayang itu mengarahkan kuda untuk segera membawa keretanya.
"Surai hitam.., bawalah kami ke tempat yang sudah aku beri tahukan kepadamu. Hati-hati saat ini, kita sedang membawa Den Ayu Ratu yang sedang mengandung penerus kerajaan kita." sambil mengusap pelan pantat kuda itu, dayang menyampaikan permintaan pada binatang tersebut. Setelah meringkik keras, kuda itu segera menarik kereta kuda dengan perlahan.
Hanya beberapa orang yang tahu keberangkatan Maharani malam itu. Tetapi dayang dan Maharani sudah memberi tahu mereka untuk menutup mulut, dan tidak memberi tahu pada yang lain tentang kepergian mereka. Perlahan penjaga gerbang membukakan pintu gerbang, begitu ada kereta kuda yang akan keluar dari dalam gerbang. Mereka tidak tahu jika kereta kuda itu membawa Ratu Maharani keluar dari kerajaan ular.
__ADS_1
Karena masih malam hari, jalanan yang dilewati kereta kuda itu terlihat sangat sepi. Bahkan beberapa orang yang berjaga di penjagaan, banyak yang sudah beristirahat. Banyaknya kereta kuda yang sering melintas, perjalanan Maharani tidak menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Mereka bebas menjalankan keretanya di jalanan.
************