
Setelah menguasai aura murni dari warisan di puncak candi.., kekuatan dan kemampuan Wisanggeni meningkat pesat. Tetapi masih ada permasalahan yang belum berhasil laki-laki muda itu temukan jalan pemecahannya. Meskipun dia merasa ilmunya meningkat, tetapi terisolir di tempat itu juga bukan merupakan hal baik bagi mereka. Apalagi mereka belum melakukan upaya untuk mencari saudara-saudaranya yang lain.
"Akang.., apa rencana yang hari ini kita lakukan?" Rengganis bertanya dengan suara pelan pada suaminya. Dengan perlahan.., tangan Wisanggeni mengusap perut Rengganis yang sudah membentuk bulatan sedikit lebih besar. Laki-laki itu tiba-tiba menundukkan wajahnya.., sebuah ciuman diberikannya untuk bayi yang masih dikandung Rengganis.
"Sepertinya besok pagi.., kita sudah harus mulai mencari keberadaan saudara-saudara kita Nimas. Setelah itu.., kita bersama-sama akan memikirkan bagaimana agar kita bisa keluar dari tempat ini. Kita harus segera kembali ke wilayah dan dunia kita sendiri." Wisanggeni menanggapi pertanyaan Rengganis.
Tangan Rengganis mengusap pelan rambut-rambut di kepala Wisanggeni. Rasa haru tiba-tiba muncul di mata Rengganis.
"Apa lagi yang kamu pikirkan Nimas..? Ada Akang di sampingmu.., kita akan melalui semuanya bersama--sama." melihat air mata yang menggenang di kelopak mata istrinya.., Wisanggeni menenangkannya. Jari tangannya terulur dan menghapus genangan air mata tersebut. Rengganis menganggukkan kepalanya, dan tidak lama kepala itu sudah bersandar di dada Wisanggeni.
"Auuuummm..., auuuuumm.." tiba-tiba terdengar auman panjang Singa Ulung.
"Auuuummm.., auummm." Auaman Singa Resti menambahi di keheningan malam.
Rengganis langsung mengangkat kepalanya. Muncul pertanyaan kenapa kedua binatang itu tiba-tiba mengaum panjang.
"Akang akan keluar melihatnya Nimas.., lanjutkan istirahatmu!" Wisanggeni segera berdiri, tetapi Rengganis mengikutinya. Perempuan itu juga berdiri di belakangnya.
"Nimas ikut Akang.., Nimas tidak mau ditinggal sendiri di dalam gua ini." ucap Rengganis yang ingin mengikuti suaminya. Wisanggeni tersenyum.., kemudian merangkul bahu istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah jika Nimas mau ikut. Kita akan melihatnya bersama-sama.., hati-hati Nimas. Karena ada bayi kita yang ikut bersamamu saat ini, kamu tidak sedang sendiri." dengan suara pelan tapi bernada sarkasme.., Wisanggeni mengingatkan istrinya. Dengan tersenyum malu.., Rengganis menganggukkan kepalanya.
Pasangan suami istri saling bergandengan dan saling menjaga segera keluar dari dalam gua. Hanya kegelapan malam yang mereka lihat, tidak ada keberadaan kedua binatang peliharaan mereka. Rengganis bertanya dengan menggunakan tatapan matanya..
"Akang juga belum tahu Nimas.., ada dimana mereka? Akang mencoba menggunakan telepati untuk menemukan keberadaan Singa Ulung." Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis. Laki-laki muda itu kemudian memejamkan matanya sebentar.., auranya difokuskan dan diarahkan untuk mencari keberadaan Singa Ulung. Tetapi dahi laki-laki itu tiba-tiba berkerut.., dia merasakan ada aura akrab yang berjalan menuju kemari.
"Apa yang Akang rasakan? Apakah Akang menemukan sesuatu?" melihat perubahan ekspresi wajah suaminya, Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Iya Nimas.., SInga Ulung dan Singa Resti berada di arah tenggara dari sini. Tapi kita tidak perlu untuk menyusulnya, karena mereka sedang dalam perjalanan untuk kembali kesini. Tetapi Akang merasakan ada aura lain yang sangat akrab datang bersama dengan mereka." Wisanggeni menjelaskan hasil penerawangan pada istrinya.
"Aura apa Akang.., apakah aura binatang atau mungkin aura dari saudara-saudara kita??" tiba-tiba pertanyaan Rengganis mengingatkan Wisanggeni pada aura saudaranya. Secercah senyum tiba-tiba terlihat di bibir Wisanggeni.
*************
Wisanggeni dan Rengganis bersimpuh lama di hadapan gurunya Cokro Negoro dan ayahndanya Ki Mahesa. Seperti yang pernah dia duga, ternyata semua saudaranya bisa berkumpul dan datang dengan dikawal oleh SInga Ulung dan Singa Resti. Setelah melalui perjuangan panjang untuk dapat bertahan hidup, akhirnya Singa Ulung bisa mengendus keberadaan mereka dan membawanya ke tempat Wisanggeni berada.
"Aku tidak menyangka.., ada berkah dari perjalanan kita kali ini. Ternyata usiaku sudah semakin tua.., setelah Larasati menantuku yang aku yakin sudah melahirkan seorang putra. Saat ini di depanku..,menantuku putri Ki Sasmita sudah menunjukkan kehamilannya pada kita." dengan air mata menetes di pipinya yang keriput, Ki Mahesa mengusap puncak kepala putra bungsu dan menantunya itu.
"Akupun juga merasa demikian Mahesa.. Sayangnya ibunda Rengganis tidak turut menyaksikan kabar kebahagiaan ini." Ki Sasmita menanggapi perkataan Ki Mahesa.
__ADS_1
"Mohon doa untuk kami berdua ayahnda. Semoga Wisang dan Nimas Rengganis bisa melalui semua ini. Putra atau putri kita bisa secepatnya hadir untuk bersama-sama kita." Wisanggeni juga menanggapi perkataan ayahndanya.
Di kaki Cokro Negoro.., Wisanggeni kembali berlutut, dan laki-laki tua itu mengusap dengan lembut kepala murudnya itu.
"Guru.., terimalah botol porselin ini. Guru bisa melihatnya.., siapa yang ada di dalam botol ini." Wisanggeni mengulurkan botol porselin pada gurunya.
"Kamu memang murid Guru yang bisa diandalkan Wisang. Sejak kecil mengasuh dan membesarkannya.., Guru dapat mencium dan mengetahui aura kehidupan siapa yang ada di botol ini. Kita akan memikirkannya nanti.., apakah akan kita hancurkan aura kehidupan ini.., ataukah kita siksa dengan perlahan." begitu suara Cokro Negoro terdengar, timbul pergolakan di dalam botol porselin itu.
Wisanggeni membuka penutup botol, terdengar teriakan kesakitan dari aura Tumbak Seto.
"Ampuni Badar guru.., bebaskan Badar dari hukuman ini!" terakhir kali, Tumbak Seto masih berbicara dengan penuh kesombongan, kali ini perkataannya sudah berubah. Aura itu memohon pengampunan untuknya.
"Ini belum seberapa Badar... Hukuman yang diberikan Wisanggeni ini bukan sebuah hukuman. Tetapi hanya penundaan.., sampai kami memiliki waktu bagaimana kami akan menghukummu." dengan kata-kata pelan, Cokro Negoro berbicara dengan muridnya yang sudah berkhianat itu.
"Guru.., adik seperguruan.., tolonglah aku!" semakin meratap, Wisanggeni semakin jengkel pada Tumbak Seto, Setelah memasukkan kekuatan Pasopati ke dalam botol, laki-laki muda itu kemudian menutup kembali botol porselin itu. Lolongan kesakitan terdengar menyakitkan.., dan botol itu segera berpindah ke dalam kepis.
Merasa mereka sudah berkumpul semuanya.., Singa Ulung dan Singa Resti kembali datang dengan membawa beberapa hewan buruan. Para laki-laki muda segera bertindak.., mereka membersihkan binatang buruan itu.., kemudian membuatnya menjadi daging bakar. Malam itu mereka mensyukuri nikmat berkumpul kembali dengan berpesta sederhana.
"Makanlah ini Nimas.. ini hati rusa. Akan sangat bagus untuk pertumbuhan bayi kita." Wisanggeni menyerahkan satu hati rusa yang sudah dibakar pada Rengganis. Dengan hati-hati.., Wisanggeni menyuapkan potongan-potongan hati ke bibir istrinya. Dari tempat yang agak gelap, Wijanarko dan Lindhuaji melihat keduanya dengan tatapan iri.
__ADS_1
************