
Setelah terbentuk pasukan dari berbagai unsur warga masyarakat, prajurit-prajurit setia, dan gabungan dari orang-orang yang dikirimkan Trah Gumilang dan Trah Bhirawa, akhirnya rencana resmi penyerangan segera ditetapkan. Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni mengambil alih pengarahan, dengan membagi pasukan ke dalam beberapa kelompok. Pasukan sengaja tidak diterjunkan secara sekaligus, tetapi secara bertahap, dan di sebar untuk memasuki kerajaan dari berbagai sudut.
"Apakah ada yang ingin kalian pertanyakan, atau mungkin ada yang tidak sependapat dengan renacana yang aku susun?? Jika ada silakan acungkan jari kalian, sampaikan apa yang mengganjal di hati kalian semua." Pangeran Abhiseka meminta masukan dari anggota pasukan yang baru terbentuk.
Beberapa saat ditunggu, tidak ada satupun yang menyampaikan usulan, ataupun pertanyaan, Wisanggeni memberi isyarat dengan memegang bahu Pangeran Abhiseka, agar Pangeran melanjutkan arahan, dan renacana penyerangan,
"Baiklah.., jika tidak ada yang akan ditanyakan ataupun diusulkan, Kelompok pertama pasukan dari sisi timur dipimpin oleh paman Senopati, sisi barat oleh Asoka, sisi selatan Wisanggeni, dan sisi utara akan aku pimpin sendiri. Untuk Trah Gumilang, Trah Bhirawa, dan juga Nimas Niken Kinanthi, harap menyusul sebagai pasukan tambal sulam untuk mengecoh pertahanan msuh." kembali Pangeran Abhiseka membuat sebuah pengaturan. Semua anggota pasukan mendengarkan dengan seksama.
"Kemudian untuk pasukan di belakang, silakan menggunakan ketapel dengan umpan yang sudah dilumuri oleh racun. Jaga kekompakan, dan utamakan saling membantu dalam kesulitan, kita adalah satu, dan satu adalah kita. Ingat dan gunakan itu sebagai pedoman dalam berperang." dari samping Pangeran Abhiseka, Wisanggeni menambahkan.
Raja Achala tersenyum dengan penuh rasa haru, melihat bagaimana semangat juang warga masyarakat, dan juga pasukan lamanya, yang ingin menegakkan perjuangan,. Tanpa bicara sedikitpun, Raja Achala mempercayakan, serangan pembalasan itu diatur dan dipimpin oleh putranya Pangeran Abhiseka.
"Trah Suroloyo juga dalam perjalanan ke kerajaan untuk menambahkan beberapa orang yang membantu kekuatan kita. Nanti saya akan memimpinnya sendiri." Niken Kinanthi menambahkan, dan Pangeran ABhiseka terpana dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan penyerangan balasan..
"Terima kasih Nimas.., sampaikan ucapan terima kasih dari pihak kerajaan Laksa, pada keluargamu. Lain waktu, jika ada kesempatan, jangan segan-segan untuk menyampaikan kabar, jika Trah Suroloyo membutuhkan bantuan. Akan dengan senang hati, pihak kerajaan akan memberikannya," Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan yang diutarakan Niken Kinanthi.
__ADS_1
Niken Kinanthi tersenyum, dan menganggukkan kepala. Raja Achala melangkah ke depan, dan berdiri di samping putranya Pangeran Abhiseka.
"Romo memberi restu padamu putraku.., jangan ragu untuk menumpas gerombolan pemberontak ini. Jika Prakosa, tidak mau bertekuk lulut atau menyerah pada pasukan kita, romo memberimu ijin untuk memberi hukuman kepadanya, apapun itu." tanpa diduga, Raja Achala memberikan dorongan dan semangat untuk Pangeran Abhiseka.
"Baik Romo prabu, titah dan restu akan Abhiseka junjung tinggi, Saat ini juga, kami akan segera berangkat." Pangeran Abhsieka menanggapi perkataan Raja Achala.
"Mari kita kobarkan semangat juang untuk menegakkan kembali kerajaan Laksa di mata siapapun. Tidak mudah untuk mengobrak-abrik atau menghancurkan Laksa. Formasi timur, barat, selatan, dan utara.., aku perintahkan untuk segera membentuk formasi, dan kita rebut kekuasaan kita, Saat ini juga.., kita akan berangkat dan meninggalkan hutan ini." dengan suara tinggi, Pangeran Abhiseka segera memimpin pemberangkatan. Tanpa menunggu perintah lagi, pasukan segera menempatkan diri pada posisinya masing-masing, kemudian segera meninggalkan hutan tersebut.
***********
Seorang telik sandi kerajaan Laksa dengan kepemimpinan Pangeran Prakosa, berlari masuk untuk menemui Pangeran. Tetapi karena pangeran sedang istirahat, para dayang dan pengawal tidak mengijinkan untuk menyampaikan informasi yang baru saja dia dapatkan.
"Tunggulah sebentar.., Pangeran Prakosa baru saja beberapa waktu lalu masuk ke dalam kamar. Aku juga tidak berani untuk mengatakannya pada beliau. Kita tunggu sebentar, jika ada dayang yang keluar dari dalam, kita akan memintanya untuk mengatakan pada Pangeran, jika kamu datang untuk bertemu dengannya." pengawal menyampaikan alasannya.
Telik sandi terdiam, tetapi tampak kegelisahan menyelimutinya, dan ingin segera menemui Pangeran. Untungnya, beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dari dalam. Tampak perempuan muda sedang keluar dari dalam kamar tersebut. Segera telik sandi diikuti pengawal mencegat perempuan muda tersebut.
__ADS_1
"Nimas..., bisakah kamu sampaikan pesanku pada Pangeran Prakosa. Sampaikan pada beliau, jika aku telik sandi di perbatasan akan menyampaikan berita penting. Berita ini mendesak, dan aku yakin Pangeran ingin segera mendengar dan mengetahuinya." telik sandi langsung menyampaikan keinginannya untuk menemui Pangera Prakosa.
"Tunggulah sebentar.., aku akan mencoba untuk menyampaikan pada beliau." perempuan muda itu kembali masuk ke dalam kamar yang digunakan untuk Pnageran Prakosa istirahat.
Tidak lama kemudian, Pangeran Prakosa segera keluar dari dalam kamar. Pandangan matanya dengan nanar menatap pada pengawal dan telik sandi tersebut.
"Cepat katakan padaku, hal apa yang akan kamu sampaikan kepadaku. Sampai kamu berani untuk mengganggu istirahatku." dengan pandangan tidak suka, Pangeran Prakosa langsung berbicara dengan nada tinggi.
"Ampun Pangeran..., saya telik sandi yang bertugas di perbatasan. Beberapa saat yang lalu, saya melihat ada rombongan dari luar perbatasan yang mencoba masuk ke wilayah kerajaan Laksa. Prajurit-prajurit kita yang berjaga di tempat tersebut, sangat kewalahan dalam menghadapi mereka. Selain itu Pangeran, di pinggir hutan, kami juga melihat ada pasukan yang beberapa menunggang kuda, dan beberapa berjalan kecil sedang dalam perjalanan keluar dari dalam hutan. Itu berita yang saya bawa Pangeran." dengan tersengal-sengal, telik sandi menyampaikan berita yang ingin disampaikannya pada Pangeran Prakosa.
"Berita sepenting ini, kamu masih menungguku. Pengawal..., sampaikan pada Senopati untuk menghadang mereka, berarti firasatku tentang datangnya Abhiseka yang akan menuntut balas benar adanya. Tidak mungkin Wisanggeni dengan seenaknya berada di kerajaan ini, tanpa ada Pangeran Abhiseka. Persiapkan semuanya..!" dengan nada marah, Pangeran Prakosa kembali berbicara dengan nada tinggi,
Seketika kehebohan terjadi di dalam istana. Sementara di luar, di beberapa sudut sudah terjadi peperangan antara pasukan yang dikirimkan Pangeran Abhiseka dengan prajurit kerajaan yang dipimpin Pangeran Prakosa.
"Pletakk..., brakkk..." pagar untuk masuk ke wilayah istana, seketika ambruk karena dirobohkan oleh pasukan Pangeran Abhiseka, yang dibantu oleh warga masyarakat yang tinggal di sekitar istana kerajaan. Kesewenang-wenangan Pangeran Prakosa dalam memerintah dinilai sangat kejam bagi warga masyarakat, sehingga begitu ada kesempatan, mereka ikut maju melawan ketidak sewenang-wenangan tersebut.
__ADS_1
"Clap..., jlebb..." puluhan anak panah dengan sangat deras masuk dan menyerang prajurit-prajurit kerajaan. Para prajurit tersebut sebagian besar berasal dari murid Tapak Geni, sehingga mereka tidak memiliki strategi berperang layaknya seorang prajurit.
**********