
Raja Adhayaksa terkejut, laki-laki itu menoleh ke wajah Bhadra Arsyanendra yang temapak serius. Banyak tanda tanya tergambar di wajahnya, melihat banyaknya permintaan dari bocah laki-laki itu. Bhadra Arsyanendra tersenyum, kemudian..
"Paman..., kerajaan saat ini memiliki beberapa kekosongan dalam tata pamong kerajaan. Bhadra ingin paman segera menggantikannya, namun untuk kali ini Bhadra ingin memasukkan seseorang agar mengisi posisi tersebut paman. Bhadra harap paman bisa menyetujuinya.." tiba-tiba perkataan yang diucapkan terakhir oleh bocah kecil itu kembali mengejutkan hati Raja Adhyaksa.
"Maksudmu.., kamu sudah tidak mempercayai pamanmu ini lagi Bhadra.. Tidakkah kamu berpikir jika yang kamu hadapi kali ini adalah sebuah kerajaan, bukan sebuah rumah tangga keluarga saja. Menurutku.., akan terlalu berbahaya, jika kita salah menetapkan keputusan terkait hal ini Bhadra.. Pikirkan lagi..!" raut kemarahan tampak muncul di wajah Raja Adhyaksa. Tetapi Bhadra Arsyanendra hanya tersenyum melihatnya..
Beberapa saat laki-laki itu terdiam tidak berbicara, mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Kemudian..
"Raden Bhadra.., sebenarnya apa yang mendasari memiliki pikiran seperti ini. Apakah kamu ingin menghancurkan kerajaan Logandheng, sebuah kerajaan yang dibangun dan dibesarkan oleh ayahndamu selama ini?" kembali Raja Adhyaksa bertanya pada Bhadra Arsyanendra.
"Paman Adhyaksa..., janganlah kita terlalu cepat menilai sesuatu hanya dari sudut luarnya saja. Bukannya paman selama ini juga sudah banyak dipengaruhi oleh paman patih Wirosobo, sehingga banyak melakukan pengambilan keputusan tanpa melihat apa yang terjadi langsung di masyarakat. Sampai Senopati Wiroyudho, putra sulung Patih Wirosobo selalu mengejarku dan hampir membunuhku, tidakkah itu sebuah kekeliruan besar paman?" Bhadra Arsyanendra mengungkit kejadian terakhir di kerajaan itu.
"Bhadra harap paman, semua itu tidak akan terjadi lagi di kerajaan Logandheng ini." bocah itu melanjutkan.
Muka Raja Adhyaksa bertambah suram, perkataan bocah laki-laki itu memang mengingatkan pada kekacauan-kekacauan, yang bahkan sampai saat ini masih terjadi di kerajaan.
"Baiklah Raden Bhadra.., ada baiknya paman mendengarkan usulanmu kali ini. Paman tidak mau menjadi orang yang harus bertanggung jawab dan disalahkan penuh atas kejadian-kejadian yang ada di kerajaan ini. Sebenarnya siapa orang yang kamu usulkan untuk berada pada posisi ini..?" setelah beberapa saat, akhirnya Raja Adhyaksa dapat menerima usulan dari keponakannya. Meskipun dalam hati laki-laki itu, belum sepenuhnya yakin.
__ADS_1
"Kakangmas Chakra Ashanka paman..., putra dari paman Wisanggeni dari perguruan Gunung Jambu. Bhadra ingin mengusulkan kakang Ashan untuk sementara menduduki posisi Patih Kerajaan Logandheng paman, hanya hal itu yang membuat Bhadra merasa tenang." kembali perkataan yang diucapkan bocah kecil itu seperti memberi tamparan pada laki-laki dewasa itu.
Tatapan mata Raja Adhyaksa kembali terbelalak, berusaha tidak mempercayai hal yang barusan terdengar di telinganya. Untuk menenangkan perasaan, laki-laki itu mengambil minuman kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Hal bodoh apa yang melintas dalam pikiranmu Raden Bhadra?? Apakah semudah itu kamu mengusulkan sebuah nama, asal menempatkannya. Paman harap, kamu rubah pikiran burukmu itu.., berpikir dan bertindaklah sebagai seorang laki-laki dewasa. Kamu adalah masa depan kerajaan ini Raden.." dengan nada sedikit tinggi, Raden Adhyaksa berteriak.
Mendengar teriakan raja Adhyaksa yang sampai di luar tempat pertemuan, pengawal Bhadra Arsya nendra menyeruak masuk ke dalam ruangan. Bhadra Arsyanendra mengangkat tangannya ke atas, memberikan isyarat bahwa tidak terjadi sesuatu yang berbahaya di dalam ruangan tersebut,
"Paman Adhyaksa.., perjalanan terakhir sudah membentuk Bhadra menjadi laki-laki seutuhnya paman. Berbagai pertimbangan sudah Bhadra pikirkan, dan hasil dari pikiran itu sudah menjadi keputusan yang terbaik. Hanya itu paman permintaan Bhadra.., untuk orang-orang yang saat ini banyak berada di lingkungan kerajaan. Maaf paman, Bhadra hanya melihat mereka tidak lebih dari seorang penjilat. Mereka menjual perkataan mereka kepada orang yang lain, tetapi menginginkan sesuatu untuk membuat diri mereka nyaman." Bhadra Arsyanendra terus melanjutkan.
"Beri waktu paman untuk berpikir keponakanku. Paman akan membicarakan keinginanmu pada semua sesepuh di kerajaan ini. Hal ini harus menjadi pemikiran penting, bukan hanya asal keluar nama darimu, paman kemudian menyetujuinya." beberapa saat kemudian, Raja Adhyaksa mengeluarkan perkataan.
"Apakah anak muda yang kamu maksud tadi juga sudah mengetahuinya..?" tiba-tiba Raja Adhyaksa mengajukan pertanyaan yang menyelidik.
"Belum paman, Bhadra belum pernah menyinggung dan membicarakan hal ini dengan kakang Ashan. Pikiran ini terlintas sesaat Bhadra menempuh perjalanan menuju ruangan ini. Meskipun masih sangat muda, kita tidak bisa meremehkan kekuatan, kedewasaan berpikir dari Kang Ashan. Itu yang menjadi salah satu pertimbangan dari laki-laki muda itu paman. Kekuatan di perguruan Gunung Jambu, kita juga tidak bisa menganggap rendah.." Bhadra Arsyanendra menjawab pertanyaan Raja Adhyaksa.
*************
__ADS_1
Bhadra Arsyanendra tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan Chakra Ashanka, ketika bocah laki-laki itu mengatakan pemikirannya pada putra Wisanggeni dan Rengganis.
"Tutup mulutmu bocah.., bukannya aku tidak menghormatimu sebagai putra mahkota. Tetapi pemikiranmu kali ini sudah kelewatan, dan melampaui pikiranku." dengan nada sedikit tinggi, Chakta Ashanka menolak permintaan Bhadra Arsyanendra untuk menduduki posisi di kerajaan Logandheng.
"Kakang Ashan.., bantu Bhadra kakangmas. Hanya orang-orang di perguruan Gunung Jambu, yang dapat memahami dan tulus membantuku saat ini kakang. Bhadra tidak ingin, kerajaan yang dibangun oleh ayahnda.. hancur karena ketamakan dan keserakahan orang-orang disini. Mereka hanya bersikap baik, dan selalu berusaha mendekat karena keinginan mereka, bukan karena ketulusan mereka." Bhadra Arsyanendra terus memohon.
"Saat ini juga, aku akan kembali ke perguruan Gunung Jambu. Berada di tempat ini, hanya akan membuatku gila, berpikir tentang ide gilamu itu. Sedikitpun keluargaku tidak memiliki darah dari kerajaan ini, bahkan jika dari kerajaan Laksa memintaku, aku juga akan menolaknya Raden.." Chakra Ashanka mengancam untuk segera kembali ke perguruan.
Mendengar kemarahan yang ditunjukkan Chakra Ashanka, bocah laki-laki itu mendekat pada anak muda itu. Tidak disangka, bocah itu menjatuhkan lutut di depan putra Wisanggeni itu. Chakra Ashanka terkejut, kemudian anak muda itu menggeserkan badannya ke samping.
"Berdirilah kembali Raden.., jangan membuat fitnah di tempat ini..!" Chakra Ashanka berteriak dengan tatap kemarahan.,
"Aku akan tetap melakukan hal ini, agar kakang Ashan mempertimbangkan keputusanku. Bhadra sudah tidak memiliki siapapun di kerajaan ini, hanya kang Ashan dan orang-orang perguruan yang masih melihat dan memperlakukanku dengan tulus." Bhadra Arsyanendra terus memohon.
Tidak mau menimbulkan kesalah pahaman akan sikap kekanak-kanakan Bhadra Arsyanendra, akhirnya Chakra Ashanka memutuskan untuk mengalah,
"Baiklah raden.. jawabanku akan tergantung pada cara pandang ibunda Rengganis. Aku harus segera pulang ke perguruan Gunung Jambu, dan bertanya pada ibunda bagaimana keputusan yang akan aku ambil.." ucap Chakra Ashanka lirih.
__ADS_1
***********