Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 117 Warisan


__ADS_3

Melihat Jalak geni masih tertatih-tatih mengeluarkan kekuatannya untuk menaiki tangga, Wisanggeni menepuk leher Singa Ulung. Laki-laki muda ini ingin meminta pada binatang tunggangannya itu untuk menurunkannya di atas puncak candi. Tetapi belum sampai Wisanggeni berbicara.., Singa Ulung sudah menggelengkan kepala.


"Kamu harus menggunakan kekuatanmu sendiri untuk mendaki puncak candi itu Wisang. Kamu tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekuatan orang lain untuk mendakinya." Singa Ulung tanpa ditanya, langsung menyampaikan persyaratan untuk dapat menaklukkan puncak candi.


"Baiklah Ulung.., aku akan mengikuti pesanmu. Turunkan aku sekarang juga, aku akan mencobanya dengan menggunakan kekuatanku sendiri." Wisanggeni meminta binatang itu untuk segera menurunkannya. Tanpa menunggu perintah dua kali dari laki-laki muda itu, Singa Ulung langsung menukik turun  dan menghentikan terbangnya tepat di depan anak tangga pertama.


"Terima kasih Ulung.., tolong doakan aku. Titip Rengganis, jagalah keselamatannya!" merasa tugas berat yang akan dia lalui, Wisanggeni menitipkan Rengganis pada Singa Ulung. Binatang itu tidak menjawab, dia hanya menggesek-gesekkan kepalanya ke bagian tubuh samping Wisanggeni. Perlahan laki-laki muda itu mendaki anak tangga satu per satu.


Meskipun rasa berat dan penekanan pada kekuatannya ketika menaiki anak tangga, tetapi dengan cepat laki-laki muda itu bisa naik ke atas dengan mudah. Kekuatan itu terbentuk saat dia dan istrinya bermeditasi di bawah air terjun. Ternyata tanpa laki-laki itu sadari, cucuran air berwarna ungu yang bergabung dengan derasnya air, telah membantunya untuk lebih menguatkan otot dan kekuatan tenaga dalamnya.


Sampai dua anak tangga di bawah Jalak Geni, Wisanggeni masih kuat untuk terus mendaki. Tetapi di depannya, Jalak Geni juga tidak berhenti berusaha. Laki-laki berjubah itu, dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa, terus berusaha menguatkan pegangannya,  dan terus berusaha naik.


"Jangan kamu pikir, dengan mudahnya kamu bisa melampauiku bocah. Aku ternyata telah meremehkan kekuatanmu, pada saat Tumbak Seto menceritakan tentang kemampuanmu." Jalak Geni berbicara sambil mencibir Wisanggeni.


Wisanggeni tidak menanggapi perkataan itu, dia terus berusaha untuk melampaui Jalak Geni. Saat tinggal satu tangga terakhir, tiba-tiba..


"Swoosh..., brakkk.." terdengar suara batu candi yang menutupi puncak, tiba-tiba terbang dan terjatuh ke arah tanah. Melihat sinar merah keunguan yang memancar keluar dari semburan puncak candi, mata Jalak Geni menjadi bersinar. Dengan cepat.., laki-laki itu menyepak Wisanggeni dan segera mempercepat langkahnya untuk menyerap energi yang tersembur keluar dari dalam candi. Tetapi dengan kekuatannya, Wisanggeni dengan cepat berhasil menyusul Jalak Geni.., dan saat laki-laki berjubah itu sudah memegang pinggiran puncak candi, tiba-tiba..

__ADS_1


"Siutttt.." tubuh Wisanggeni melayang melampaui Jalak Geni, dan tubuh bagian depan laki-laki muda itu langsung menerima semburan energi dari puncak candi.


Berbagai formula, ilmu kanuragan mengalir cepat ke pikiran Wisanggeni. Dengan cepat dan mudah, Wisanggeni langsung mengingat dan menyimpannya di sisi otaknya. Dari bawah Jalak Geni melihat dengan tatapan rasa iri pada laki-laki muda itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu berhasil untuk membawa semua karomah itu anak muda." saat pikiran itu mengalir ke otak Jalak Geni, dengan segera laki-laki berjubah itu memusatkan pikiran dan ilmu kanuragannya ke tangan-tangannya.


"Akang Wisang..., tingkatkan kewaspadaanmu. Laki-laki jahat di belakangmu akan mengirimkan serangan padamu." dari samping Rengganis berteriak memperingatkan suaminya. Sebenarnya dia bisa menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyerang laki-laki berjubah itu, tetapi karena puncak candi itu sangat rawan akan getaran, maka gadis muda itu menahannya.


Karena terlalu konsentrasi dan fokus dengan meditasinya, Wisanggeni tidak mendengar teriakan dari istrinya. Saat laki-laki berjubah itu mengangkat tangannya untuk mengirimkan serangan pada laki-laki muda itu.., tiba-tiba...


"Blegarrrr...., duarrr.." terjadi ledakan di atas puncak candi. Tubuh Jalak Geni yang sedang dalam kondisi mengirimkan serangan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, tiba-tiba terpelanting dan serangannya itu langsung membalik mengenai tubuhnya sendiri.


***************


Di bawah, tampak para sesepuh mengkhawatirkan keadaan Wisanggeni yang masih berada di atas. Wajah Ki Mahesa terlihat pucat, saat melihat tubuh putranya terangkat dan menerima semburan energi yang berasal dari puncak candi. Keadaan yang tidak lebih baik juga dialami oleh Rengganis.., dengan mengusap perutnya gadis muda itu memanjatkan doa untuk keselamatan suaminya.


"Tenanglah Mahesa.., putramu Wisanggeni adalah laki-laki muda yang kuat. Aku pernah melihatnya sendiri, bagaimana putramu dengan cerdas bisa menyingkirkan lawan-lawan mainnya." Ki Sasmita berusaha menenangkan perasaan Ki Mahesa. Ki Brahmana, Ki Singolodra juga berjalan mendekati Ki Mahesa.

__ADS_1


"Aku tidak mau kehilangan putraku.., aku ingin menyelamatkannya." ucap Ki Mahesa lirih, matanya tidak lepas memandang ke arah puncak candi yang masih mengeluarkan energi.


"Tidak akan ada yang terjadi dengan putramu. Warisan yang diinginkan oleh Jalak Geni, sepertinya sudah menentukan siapa yang diinginkannya untuk menjadi pewarisnya. Kita hanya bisa menunggu Wisanggeni, sampai proses pemindahan ilmu kanuragan itu berhasil masuk ke tubuhnya. Jikapun kita nekat untuk membantunya, hal itu tidak akan memberikan hasil apapun, yang ada kita malah akan mencelakakan anak itu." Ki Sasmita terus berusaha menetralisir suasana. Diapun sebenarnya juga khawatir melihat bagaimana putrinya tanpa berkedip melihat ke arah suaminya.


Tiba-tiba terdengar keributan dari berbagai arah. Para sesepuh melihat ke sumber arah, dan terlihat anak-anak muda generasi penerus mereka berdatangan ke tempat itu.


"Apa yang terjadi dengan Dimas Wisanggeni ayah..?" Wijanarko kakak tertua Wisanggeni menanyakan keadaan adiknya pada Ki Mahesa.


"Kamu lihatlah sendiri bagaimana adikmu berjuang Janar. Aku juga tidak bisa menjelaskannya padamu. Marilah kita bersama-sama mendoakan pada Sang Hyang Widhi Wasa untuk keberhasilan adikmu itu." Ki Mahesa menjelaskan pada putra pertamanya itu.


Wijanarko memandang Wisanggeni yang terlihat sedang menahan diri, dengan menerima energi yang sangat besar mengalir ke tubuhnya. Dari sudut reruntuhan candi.., terlihat Lindhuaji sedang berjalan memapah Niken Kinanthi. Di belakangnya Atmojo mengikuti. Melihat putrinya terluka, Ki Brahmana segera datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaanmu Nimas.., sepertinya kamu terluka?" Ki Brahmana bertanya pada putrinya.


"Hanya luka-luka kecil saja ayah. Kang Aji sudah membantu Niken untuk mengobatinya dengan ramuan herbal yang dibuatnya sendiri." Niken menjawab pertanyaan Ki Brahmana. dia ingin ayahndanya untuk tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Syukurlah jika begitu. Ayo kita doakan Wisanggeni, agar anak itu berhasil melalui masa-masa sulitnya."

__ADS_1


***************


__ADS_2