
Semua yang berada di pendhopo kerajaan Logandheng menjadi berkasak-kusuk sendiri mendengar pertanyaan Maharani. Anggoro yang berada di samping perempuan itu juga turut terkejut, karena memang dia juga belum mengetahui identitas sebenarnya dari Maharani. Raja Logandheng dengan mata tajam, melihat dan mengamati perempuan itu.
"Jangan didengarkan perempuan pengacau itu Sinuhun.. Jika Sinuhun berkehendak tahu semuanya, perempuan itu yang menyulut kekacauan di wilayah perbatasan kerajaan Logandheng.." terdengar suara Patih Wirosobo memotong perkataan Maharani.
Maharani mengarahkan tatapan matanya ke arah Patih Wirosobo, dan tersenyum melecehkan laki-laki tersebut. Sedangkan Anggoro terdiam, tidak berani untuk berpendapat. Dalam hati, laki-laki muda itu merasa menyesal telah membawa perempuan yang baru dikenalnya itu untuk menghadiri jamuan kerajaan. Melihat bagaimana romonya Patih Wirosobo menatap Maharani dengan pandangan marah, Anggoro hanya tertunduk dan diam.
"Diamlah Patih Wirosobo.., apakah kamu tidak mendengar titahku..!" tidak diduga, raja Logandheng memberikan teguran pada Patih Wirosobo.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu Nimas.. Jika mereka terlihat lemah dan sangat butuh pertolongan, aku akan menolongnya. Setelah memberi pertolongan aku akan mengkonfirmasi apa alasan yang mendasari kejadian itu. Karena sesungguhnya, pilihan yang aku pilih akan lebih membawa kedamaian di antara kita.." semua terkejut dengan jawaban yang diberikan raja Logandheng, terutama Patih Wirosobo dan Senopati Dananjoyo.
"Bagus Sinuhun.., jawaban yang Sinuhun berikan sangat melegakan hati hamba. Karena sejatinya, hal itulah yang melandasi hamba untuk memberikan pertolongan pada warga desa di perbatasan kerajaan Logandheng. Mereka berlumuran darah, berlari untuk menyelamatkan diri, sehingga tanpa sadar mereka memasuki tlatah wilayah tapal batas perguruan kami. Atas dasar kemanusiaan, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di belakangnya, kami berpikir untuk menyelamatkan warga desa tersebut. Tetapi apa yang terjadi sesudahnya Sinuhun..., Sinuhun bisa bertanya sendiri dengan tindakan apa yang sudah dilakukan oleh Senopati Dananjoyo." tanpa sedikitpun rasa takut, Maharani menanggapi perkataan raja Logandheng.
"Apakah yang dikatakan perempuan ini benar Patih Wirosobo, dan kamu Senopati Dananjoyo. Kalian sudah memerintahkan untuk melakukan penyerangan pada rakyatku, yang seharusnya menjadi tugas kita untuk melindungi dan mengamankannya." tidak diduga, raja Logandheng mengalihkan pertanyaan pada penanggung jawab terjadinya perang tersebut.
"Ampuni kami Sinuhun..., tapi mohon Sinuhun juga bertindak dengan arif dan bijaksana. Alasan kami melakukan penyerangan, karena mereka menyembunyikan keberadaan Raden Bhadra Arsyanendra, dan maksud kami adalah untuk menyelamatkan putra mahkota tersebut. Tetapi sepertinya rakyat sudah salah paham, mereka malah menyerang kami Sinuhun..." Patih Wirosobo membuat alasan untuk menjawab pertanyaan raja Logandheng.
"Hmm.., apakah benar itu Patih Wirosobo? Bagaimana rakyat lemah itu akan berani melakukan penyerangan kepada pasukan kerajaan. Darimana mereka memiliki senjata untuk berperang.., apakah hal itu bukan merupakan alasan untuk menutupi kebusukan kalian..?" Maharani memotong perkataan Patih Wirosobo. Kembali semua pasang mata yang ada di ruang perjamuan itu terarah pada perempuan itu.
"Tutup mulutmu perempuan ******..., atas hak apa kamu berani memotong perkataan Patih Wirosobo..?" tiba-tiba terdengar teriakan dari Senopati Dananjoyo pada Maharani.
__ADS_1
"Aku hanya akan meluruskan apa yang sudah terjadi Senopati.., tidak akan menambahi, dan juga tidak akan menguranginya." dengan senyum licik, Maharani menjawap perkataan Senopati Dananjoyo.
"Kurang ajar.., lancang sekali mulutmu berbicara ******. Terimalah ini... bang... bang..." tiba-tiba sebuah bola api panas, dikirimkan Patih Wirosobo ke arah perempuan itu, tetapi dengan sigap Maharani melompat ke samping, dan berlari ke halaman kerajaan.
"Bang.. bang.. jueglarr..., brakk" serangan bertubi-tubi yang dikirimkan Patih Danajoyo membentur pagar pembatas pendhopo, dan seketika pagar itu menjadi hancur bercerai berai.
Seketika terjadi kekacauan di tempat itu, suasana menjadi riuh. Beberapa orang melompat untuk mengejar Maharani, dan yang perempuan berlarian untuk menyelamatkan diri.
***********
Melihat kekacauan yang terjadi di acara perjamuan, pasukan bayangan pengaman raja segera berlari melompat untuk membawa pergi raja dan permaisuri. Tetapi sebelum dibawa pergi dari pasugatan, raja Logandheng berteriak memberi peringatan pada para bawahannya..
"Sinuhun.., ikuti kami dulu. Nanti akan kita bicarakan lagi, hamba yakin Patih Wirosobo dan para Senopati yang lain, akan menangani masalah ini dengan baik. Mereka pasti tidak akan membiarkan perempuan itu mati terbunuh. Mari Sinuhun..." orang-orang dari pasukan bayangan, berusaha untuk membawa pergi raja Logandheng. Akhirnya dengan berat hati, laki-laki itu menuruti ajakan para pengawalnya.
Sebelum pergi melangkahkan kaki, raja Logandheng melihat ke arah halaman kerajaan. Terlihat beberapa orang sedang mengepung Maharani.
***********
Di halaman kerajaan
__ADS_1
Maharani memegang kembali punggungnya, terasa ada basah di punggungnya. Ternyata luka sebelumnya mengeluarkan darah lagi, karena terlalu banyak bergerak. Tetapi perempuan itu tetap mencoba tidak menghiraukan luka-luka tersebut. Dengan senyum sinis, Maharani mengarahkan pandangannya ke arah orang-orang yang sudah membuat lingkaran untuk mengepungnya.
"Huh... hanya begini ternyata nyali yang kalian miliki. Beraninya hanya mengeroyok seorang perempuan.." Maharani tersenyum, kemudian mengajak orang-orang itu berbicara.
"Tutup mulutmu perempuan.., meskipun raja Logandheng sudah mengeluarkan perintah untuk mengamankanmu, tetapi keputusan akhir tetap ada di tanganku. Bukan di tangan raja itu.." dengan tatapan membunuh, Patih Wirosobo menanggapi perkataan Maharani.
Terlihat empat Senopati kerajaan Logandheng dengan empat tempat untuk penugasan mereka masing-masing, menatap kebingungan dengan adegan yang ada di depan mereka. Hanya dua Senopati yang terlihat memiliki pemikiran yang sama dengan Patih Wirosobo, dan yang dua lainnya terlihat tidak begitu peduli dengan ucapan patih tersebut.
Maharani memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian tubuh perempuan itu berputar, dan seekor naga besar dengan sisik hitam licin dan kepala Maharani berada di tengah halaman tersebut.
"Kurang ajar.. ternyata kamu adalah manusia ular.. yang terkenal dengan nama Maharani.." terdengar teriakan dari para senopati yang berada di tempat tersebut.
"Segera kita kirimkan serangan pada perempuan ular ini. Kita tidak akan disalahkan, karena anggap saja kita kali ini tidak bertarung dengan manusia. Kita bertarung untuk melawan siluman ular.." dengan berteriak. patih Wirosobo berusaha membakar semangat anak buahnya.
"Blaam. blamm..." serangan demi serangan terarah ke tubuh Maharani. Tetapi dengan gesit, perempuan itu berkelit dengan tubuh ularnya. Ekor Maharani dikibaskan secara memutar, dan beberapa anak buah Patih Wirosobo terlempar ke belakang.
"Sssshh..., bluarr..." semburan api panas berwarna merah, keluar dari mulut Maharani. Orang-orang yang berada di halaman kerajaan menjadi kalang kabut menyelamatkan diri, berusaha untuk menghindari jilatan api tersebut.
***********
__ADS_1