Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 187 Tempat Tapa Brata


__ADS_3

Keesokan Harinya


Rengganis dibantu dengan Niken Kinanthi melakukan pembagian tugas, dari masing-masing orang yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan, serta melatih sekelompok orang dengan jumlah terbatas. Setelah selebaran selesai dibuat, anak-anak muda membagi pengumuman itu pada orang yang sudha mendapatkan penunjukan.


"Nimas..., sepertinya perguruan ini akan bertumbuh besar di wilayah timur. Orang-orang yang menuntut ilmu disini bukan hanya berasal dari kawasan timur saja, tetapi dari wilayah tengah dan wilayah barat juga ada." Niken Kinanthi berjalan mendekati Rengganis, kemudian mengajak berbicara pada Rengganis.


"Iya Niken.., keberhasilan Kang Wisang saat menumpas gerombolan Alap-alap, ternyata sudah tersebar di seluruh penjuru wilayah, Mereka berbondong-bondong ke padhepokan ini selain karena nama besar Ki Cokro Negoro, juga dari nama kang Wisang yang sudah menyebar karena omongan orang-orang." Rengganis menanggapi perkataan Niken Kinanthi. Saat ini mereka sedang berdiri di depan bangunan limasan, melihat-lihat murid yang sedang berlatih.


"Oh iya.., apakah Kang Wisang sedang dalam perjalanan jauh?? Sudah beberapa hari disini, aku merasa belum melihat keberadaan kang Wisang dan Maharani." tiba-tiba Niken Kinanthi menanyakan tentang keberadaan dari suami Rengganis. Sebenarnya bukan gadis muda itu yang tidak tahu, dia sudah mendapatkan informasi jika sudah beberapa waktu Wisanggeni tidak berada di padhepokan. Laki-laki itu sedang melakukan perjalanan untuk mengunjungi sesepuh di suku ular. Tetapi Niken Kinanthi ingin mendengarkan langsung dari Rengganis.


Mendengar pertanyaan dari Niken Kinanthi, Rengganis tersenyum kecut. Gadis itu sudah berusaha menekan rasa rindu untuk bertemu kembali dengan suaminya, tetapi dengan bersusah payah Rengganis mencoba untuk menahannya. Saat ini, Niken Kinanthi yang pernah membatalkan pertunangan dengan Wisanggeni, tiba-tiba bertanya tentang suaminya.


"Jika terasa berat untuk memberi tahuku, lupakan saja pertanyaanku Nimas. Aku akan ke luar bukit dulu untuk melihat-lihat keadaan disana." melihat reaksi diam yang ditunjukkan Rengganis, Niken Kinanthi mengalihkan perhatian.


"Kamu perlu mengetahuinya juga Niken, karena bagaimanapun kamu pernah memiliki sedikit cerita dengan kang Wisang. Suamiku sudah beberapa purnama meninggalkan padhepokan untuk mengantar Maharani bertemu dan menghaturkan bakti pada sesepuh di suku ular. Saat menjelang keberangkatan, Kang Wisang berjanji padaku untuk cepat kembali. Namun..., sampai sekarang bahkan kabar keberadaan kang Wisang tidak pernah aku dapatkan." ucap Rengganis lirih.

__ADS_1


Niken Kinanthi terkejut, gadis itu mendekat pada Rengganis. Tanpa tahu siapa yang memulai, kedua perempuan itu berpelukan. Tangan Niken Kinanthi mengusap punggung Rengganis yang meneteskan air mata.


"Tenanglah Nimas..., kang Wisnag bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku yakin, ada urusan yang lebih penting, yang sedang diurus oleh laki-laki itu. Tidak mungkin kang Wisang meninggalkanmu disini dengan Chakra Ashanka sendirian." Niken Kinanthi mencoba untuk menghibur Rengganis.


"Aku juga berpikiran sama sepertimu Niken.. Tetapi terkadang melihat bagaimana upaya Maharani untuk dapat memiliki Kang Wisang, hati ini sering terasa pedih." Rengganis mengungkapkan perasaannya.


"Ya sudah.., jika begitu kamu harus menghibur hati. Ayo ikutlah denganku, kita akan sedikit mencari hiburan di luar perbukitan ini. Aku akan mengajakmu untuk menengok murid-murid di cabang luar perbukitan." sambil tersenyum Niken Kinanthi mengajak Rengganis.


Rengganis mengusap air mata menggunakan hari tangannya, kemudian setelah merapikan pakaiannya, kedua perempuan itu segera melompat meninggalkan tempat itu.


***********


Setelah beberapa waktu berada di ruang bawah tanah, akhirnya Wisanggeni mempelajari pola ruangan tersebut. Melihat pada semut yang berjalan beriringan di dinding, laki-laki itu mendapatkan pencerahan untuk membebaskan diri dari tempat itu.


"Ulung..., lihatlah arah dari mana semut ini berjalan?? Sepertinya ada sumber makanan di balik tembok ini, lihatlah mereka membawa serpihan makanan ke dalam ruangan ini." Wisanggeni mengajak bicara SInga Ulung. Binatang itu seperti memahami perkataan laki-laki itu.

__ADS_1


Wisanggeni terdiam mengamati semut-semut yang semakin banyak masuk ke tempat mereka, melalui sebuah celah kecil di atas. Setelah memantapkan hati, Wisanggeni memusatkan pikirannya... kemudian melempat pisau belatinya dengan dilandasi aura kebatinan dan tenaga dalamnya ke lobang kecil tersebut.


"Clang..." sekali lempar, pisau seperti berbenturan dengan baja. Pisau belati itu terlempar balik. Wisanggeni kembali tersenyum kecut..,


"Cobalah kamu ke atas Ulung. Melihat dinding itu bisa menerima barisan semut yang ribuan jumlahnya, sepertinya dinding ini bersahabat dengan binatang." tiba-tiba Wisanggeni memiliki gagasan untuk menggunakan Singa Ulung menembus dinding tersebut. Tanpa menunggu pengulangan perintah, Singa Ulung langsung tanggap. Binatang itu dengan cepat terbang ke atas, dan berhenti di depan lobang tersebut. Beberapa saat, kaki Singa Ulung diketuk-ketukkan ke lubang kecil tersebut. Tidak berapa lama..., tiba-tiba Singa Ulung memundurkan tubuhnya ke belakang, dan...


"Bukkk...., byarr...." kepala Singa Ulung ditubrukkan dengan keras ke area lobang kecil tersebut. Tidak menunggu lama, tiba-tiba dinding itu terbuka lebar.. Mata Wisanggeni bersinar cerah, karena mereka berada di luar wilayah tebing dengan banyak pohon besar yang tumbuh disitu. Di kejauhan, Wisanggeni melihat sebuah puncak gunung yang terlihat jelas.


"Apakah puncak gunung itu merupakan tempat aku melakukan tapa brata untuk mendapatkan esensi energi ular." Wisanggeni berpikir sendiri. Tiba-tiba matanya menangkap sinar berwarna perak dari atas puncak gunung tersebut. Saat matanya di buka lebar, sekelebat Wisanggeni melihat bayangan sinar perak tersebut membentuk sebuah ular naga besar. Tetapi begitu laki-laki itu memperlebar pandangannya, bayangan sinar perak berbentuk ular itu tiba-tiba menghilang.


"Kita harus menuju ke puncak tersebut Ulung..., aku membutuhkan bantuanmu. Sepertinya tidak mungkin aku kesana dengan berjalan kaki dan melompat, akan banyak membuang waktu. Sedangkan aku sudah sangat merindukan Nimas Rengganis dan putraku Chakra Ashanka. Aku membutuhkan punggungmu untuk menerbangku kesana." dengan suara pelan, Wisanggeni meminta bantuan Singa Ulung.


Tanggap dengan kemauan laki-laki itu, Singa Ulung segera berjalan mendekati Wisanggeni. Binatang itu merendahkan badannya di samping Wisanggeni, dan tidak menunggu lagi, dengan cepat laki-laki itu melompat ke atas punggung Singa Ulung. Tidak lama kemudian, Wisanggeni dan binatang itu sudah berada di udara, dan Singa Ulung mengepakkan sayap menuju ke arah puncak bukit.


"Arahkan posisimu ke atas batu di atas puncak itu Ulung. Sepertinya aku bisa menggunakan tempat itu untuk melakukan tapa brata." sambil mengusap leher Singa Ulung dari belakang, Wisanggeni mengajak binatang itu menuju tempat yang dia tunjukkan.

__ADS_1


"Auuuummmm.." auman panjang dikeluarkan Singa Ulung, dan dengan cepat binatang itu mengarahkan posisi terbangnya menuju batu tersebut. Wisanggeni tersenyum, dan matanya terbuka lebar melihat hamparan hijau di bawah sana. Sedikitpun tidak dia temukan bangunan rumah di bawah sana, yang menandakan bahwa mereka berada di tengah hutan lebat,


****************


__ADS_2