
Seekor ular besar dengan ukuran seperti batang pohon tampak menyingkir melihat kedatangan Wisanggeni dan kedua temannya. Mereka menatap dan memberi penghormatan pada suami dari ratu ular yang sekaligus sebagai raja ular itu. Tetapi dengan cepat, menggunakan matanya Wisanggeni memberi isyarat, agar ular tersebut memberi jalan untuk mereka menaiki tebing tersebut. Tanpa menunggu pengulangan perintah, ular itu segera menjauh dari situ.
"Wisang.., ada ular di atas sana.." Santosa menunjuk ular yang sedang berjalan menyingkir itu. Dia memperlihatkannya pada Wisanggeni dan Sumpeno. Wisanggeni tersenyum..,
"Sudahlah.. tidak perlu banyak berpikir. Percayalah padaku.., ular itu tidak akan mengganggu kita. Dia malah akan menunjukkan arah jalan pada kita." dengan suara lirih, Wisanggeni mengomentari perkataan Santosa.
"Apa kamu lupa Santosa..., siapa Wisanggeni ini? Istri dari Wisang adalah ratu ular.., ya pasti semua ular akan tunduk padanya. Ayo kita segera naik merambat ke atas.., jika kamuĀ masih ragu.., biarkan aku yang akan merayap ke atas lebih dulu." tanpa sabar, Sumpeno berkata pada Santosa. Mendengar perkataan itu, Santosa lalu bergeser memberi kesempatan pada Sumpeno untuk lebih dulu naik ke atas bukit.
Begitu Sumpeno mulai memanjat tebing itu, Santosa segera menyusul laki-laki itu. Di belakangnya, Wisanggeni mengikuti kedua laki-laki itu dengan hati-hati. Matanya jauh ke depan mengawasi ada tidak bahaya yang akan mengintai mereka.. Singa Ulung mengikuti merambat di belakang Wisanggeni..
"Aaawwww..." baru separo perjalanan tiba-tiba terdengar teriakan Sumpeno, dan tanpa sadar pegangan laki-laki itu terlepas. Tidak ayal lagi, tubuh laki-laki itu meluncur ke bawah.. Dengan cepat Wisanggeni mengayunkan kakinya untuk digunakan sebagai pegangan bagi Sumpeno, dan untungnya Sumpeno memahami maksud dari Wisanggeni.
"Tahanlah nafasmu Sumpeno.., aku akan melemparkanmu langsung ke atas, Karena tidak mungkin aku dapat menahanmu dengan membawamu di kakiku." Wisanggeni berteriak memberi peringatan pada Sumpeno, dan tanpa menunggu jawaban dari Sumpeno, dengan cepat Wisanggeni mengayunkan kakinya ke atas.
__ADS_1
"Siuuuuwwww.., aaaawwww..." Sumpeno memejamkan matanya, dia mengikuti kemana arah angin membawanya. Begitu laki-laki itu membuka matanya, ternyata dia sudah terjatuh di atas tanah. Dengan cepat Sumpeno bangkit dan berdiri, dia langsung berjalan menuju ke pinggiran tebing. Sambil tengkurap di atas tebing, tangan Sumpeno terulur ke bawah untuk menarik tangan Santosa dan membawanya ke atas. Melihat tangan Sumpeno yang terulur ke bawah, dengan cepat Santosa memegangnya dari bawah, dan sekali ayun tubuh Santosa sudah melayang ke atas. Dari bawah, melihat kedua rekannya sudah berhasil menaiki tebing, Wisanggeni langsung meloncat dengan satu loncatan, laki-laki itu sudah berada di atas. Sumpeno dan Santosa ternganga melihat kecepatan dan kegesitan Wisanggeni.
"Kenapa.., tatapan kalian melihatku seperti melihat hantu..?" Wisanggeni menaik turunkan telapak tangannya di depan kedua laki-laki itu.
"Kamu mengejutkan kami Wisang.. Baru saja aku akan menarikmu, ternyata kamu sudah melompat naik ke atas sendiri." dengan terheran-heran, Sumpeno menjawab pertanyaan Wisanggeni.
"Kalian bisa saja.., ayo kita segera melanjutkan perjalanan kita. Ternyata dengan menaiki tebing ini, kita bisa menyingkat waktu. Lihatlah di bawah sebelah sana.., bukannya itu adalah bagian tebing yang runtuh tadi malam." mereka melihat ke arah bawah di sisi sebelah kanan, terlihat dataran di pinggir tebing yang terdengar ambrol tadi malam. Mereka bersyukur, karena semalam tidak mengikuti mereka beramai-ramai menaiki bukit.
***********
Rengganis terlihat sedang menunggui Chakra Ashanka berlatih silat dengan murid-murid perguruan lainnya. Perempuan muda itu hanya mengamati putranya berlatih dari kejauhan, dia sengaja membuat putranya untuk berusaha mandiri. Perlahan Rengganis duduk, pikirannya menerawang. Tidak bisa dipungkiri, perempuan itu saat ini merindukan suaminya. Sudah beberapa pekan meninggalkannya bersama dengan Chakra Ashanka, sampai sekarang kabar dari suaminya belum terdengar lagi. Padahal perguruan ini sudah semakin maju dan berkembang. Kota kecil terbentuk di perbatasan arah masuk ke perguruan itu, karena banyaknya pendatang baru yang datang ke tempat itu.
"Mungkin masih ada urusan yang harus diselesaikan Kang Wisang.., tidak mungkin Kang Wisang akan meninggalkanku untuk waktu yang lama. Atau mungkin ada aral merintang di tengah jalan, sehingga menghambat perjalanan ayahnda Chakra Ashanka." Rengganis berbicara pada dirinya sendiri. Pikirannya tidak bisa beralih dari Wisanggeni.
__ADS_1
"Atau Maharani sengaja memperlama agar kang Wisang lebih lama berdua dengannya? Ah.., kenapa malah aku jadi memiliki pikiran buruk seperti ini." Rengganis segera menepis pikiran buruknya tentang Maharani. Perempuan itu kemudian duduk bersila, perlahan Rengganis memusatkan pikirannya. Dia berusaha untuk mengembalikan ketenangan pada dirinya.
"Ibunda..., kenapa ibunda melakukan meditasi di tempat ini. Kenapa ibunda tidak melakukannya di dalam senthong atau di dalam tempat latihan ayahnda." tiba-tiba suara Chakra Ashanka membuyarkan meditasi Rengganis. Perlahan perempuan itu membuka matanya, dan di depannya terlihat putranya sudah selesai berlatih. Rengganis langsung membuka tangannya, dan tidak lama kemudian, Chakra Ashanka sudah berada di pelukan perempuan itu.
"Putra ibunda sudah selesai berlatih nak...?? Jika begitu ayo kita istirahat dulu.., ibunda sudah menyiapkan makanan untukmu nak.." tidak menjawab pertanyaan putranya, Rengganis langsung menggandeng Chakra Ashanka dan membawanya masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam, Rengganis segera mengambilkan makanan dan minuman untuk putranya. Sambil melihat putranya makan, Rengganis duduk di depan laki-laki kecil yang sudah akan beranjak remaja itu. Tidak bosan, Rengganis melihat setiap kemajuan tumbuh kembang Chakra Ashanka, tidak pernah sedikitpun waktu dia berpisah jauh dengan putranya itu.
"Bunda..., apakah ibunda merasa rindu dengan ayahnda bunda..? Ashan sering melihat bunda sering melamun sendiri, jika bunda merindukan ayahnda, kenapa kita tidak meninggalkan perguruan ini dan menyusul ayahnda bunda..?" Rengganis kaget dengan pertanyaan putra kecilnya itu. Dengan mudahnya, putra semata wayang itu menebak apa yang ada di pikirannya. Sejenak Rengganis terdiam..
"Jika bunda mau.., Ashan akan menemani ibunda untuk mencari keberadaan ayahnda Bunda.. Ashan yang akan menarik ayahnda untuk kembali bersama dengan ibunda kembali.." Chakra Ashanka terus mencecar Rengganis dengan perkataan tentang ayahndanya. Ternyata bukan hanya Rengganis yang merindukan Wisanggeni, putra semata wayangnya ternyata juga merindukan laki-laki itu.
"Tidak semudah itu Ashan.., ada tanggung jawab besar untuk menjaga perguruan ini. Semua yang dititipkan ayahndamu adalah amanah, ibunda harus menjaganya. Kita harus bersabar beberapa purnama lagi, jika setelah waktu itu ayahndamu belum juga kembali, ibunda akan pulang ke Jagdklana. Kita akan mengunjungi eyangmu disana putraku." dengan suara lembut, Rengganis menanggapi perkataan Chakra Ashanka.
__ADS_1
"Baiklah ibunda.., Ashan akan mengikuti apa yang ibunda katakan. Jangan khawatir, jika tidak ada ayahnda.., maka Ashan yang akan menjaga dan melindungi ibunda." dengan suara kecilnya, Ashan berjanji pada Rengganis. Perempuan itu segera menarikĀ dan memeluk putranya dengan erat.
***********