Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 108 Bertemu Kembali


__ADS_3

Di atas sebuah pohon, Singa Ulung mengawasi dan menjaga orang-orang yang sedang beristirahat. Merasakan ada aura perempuan muda yang tidak merasa asing di hidungnya, binatang itu terbang ke arah aura tersebut. Terlihat di kejauhan dengan menggunakan kibaran selendang warna ungu, seorang perempuan muda tampak kelelahan terbang menuju ke arahnya. Tenaga dalam perempuan muda itu banyak terserap untuk mengendalikan selendang yang ada di tangannya.


"Swossh..." Singa Ulung dengan cepat, terbang menukik dan berada di samping Rengganis. Melihat kemunculan tiba-tiba binatang itu, Rengganis sontak kaget, tanpa menunggu lain, perempuan muda itu langsung melompat ke punggung Singa Ulung.


"Terima kasih Ulung.., kamu ternyata bisa mengenali aku." Rengganis mengusap tiga kali leher Singa Ulung.., kemudian menyandarkan kepalanya di punggung binatang itu.


"Auuuuummm." Singa Ulung mengaum panjang, dan tidak menunggu lama, binatang itu sudah terbang menuju ke tempat dimana Wisanggeni beristirahat.


Dari atas langit, Rengganis tidak bisa melihat apapun di bawahnya, hanya kegelapan dan titik-titik lampu yang dapat dia temui dari sana. Cahaya bintang di langit dan cahaya redup bulan sabit, tidak mampu menerangi seisi jagad raya. Kebahagiaan sangat melimpah di dadanya, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasih hatinya, suami yang sudah lama dia rindukan.


Di dekat gundukan sebuah bukit, Singa Ulung menukik turun. Tidak lama kemudian, binatang itu menjejakkan kakinya di atas sebuah batu datar.


"Terima kasih Ulung.., apakah kamu tahu dimana Kang Wisang istirahat?" merasa sudah berhenti dan sampai di tujuannya, Rengganis berbicara pelan pada Singa Ulung.


Kepala Singa Ulung diarahkan ke dalam sebuah gua, dan Rengganis dengan cepat dapat memahami apa yang dimaksud oleh binatang itu. Setelah mengusap dengan lembut sebanyak tiga kali di kepala binatang itu, Rengganis perlahan masuk ke dalam gua. Tatapan mata Rengganis mengelilingi sekeliling gua, perempuan muda itu tersenyum saat melihat beberapa orang tampak tertidur di halaman gua. Dengan berhati-hati.., perempuan itu segera masuk ke dalam.


"Itu Kang Diro yang tidur.., ada dimana Kang Wisang?" Rengganis membatin, karena di atas sebuah batu, perempuan muda itu hanya melihat Sudiro yang duduk sendiri. Dia tidak melihat adanya suaminya Wisanggeni.


Setelah menekan kekuatannya, agar tidak menimbulkan bunyi saat berjalan dan mencari Wisanggeni, Rengganis segera memasuki gua lebih dalam. Kejutan tampak jelas tergambar di raut wajah perempuan muda itu, saat telinganya menangkap suara gemericik air dari dalam gua. Rengganis terus berjalan masuk.., dan matanya terbuka lebar melihat di balik gemericik air dari sebuah pancuran kecil, terlihat tubuh Wisanggeni tidur di atas sebuah batu pipih. Tampak selendang warna hijau digunakan laki-laki itu sebagai selimutnya.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukanmu kang Wisang.." gumam Rengganis lirih, kemudian dengan berjingkat Rengganis segera mendekati tempat suaminya berbaring.


Rengganis duduk di samping Wisanggeni, matanya berbinar melihat suaminya yang tampak menikmati tidur dengan pulas. Telapak tangan Rengganis terulur di wajah Wisanggeni, tetapi tiba-tiba...


"Cup..." sebuah kecupan lembut mendarat di atas punggung tangannya. Belum sempat Rengganis bereaksi, tangan Wisanggeni sudah merangkul pinggangnya, dan hanya dengan sekali hentak wajah Rengganis sudah berada di atas wajah Wisanggeni, dengan posisi seluruh tubuhnya menindih bagian tubuh Wisanggeni  yang sedang telentang.


Tanpa bisa dicegah\, gai**rah kedua orang itu mulai naik dan memuncak. Bibir Wisanggeni dengan lembut mengeksplorasi bibir Rengganis. Pa**gutan..\, lu**matan dan re**masan keduanya mengisi malam yang sangat dingin. Gemericik suara air menyamarkan de**sahan dan lenguhan dari mulut perempuan muda itu. Akhirnya kedua orang pasangan suami istri itu menghabiskan malam\, dengan mengobati rasa kerinduan mereka.


***************


Wisanggeni berjalan menuju ke luar gua, dan terlihat di depannya Sudiro yang sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Sepupu Niken Kinanthi itu sama sekali tidak tahu, jika malam tadi Wisanggeni sudah bersama dengan Rengganis istrinya.


"Iya..., di luar beberapa orang yang bertugas untuk menyiapkan logistik untuk kita gunakan sebagi pengisi perut, dan juga sebagai bekal di perjalanan sudah selesai menyiapkannya. Kita bisa segera keluar, untuk bergabung dengan mereka." Sudiro menjawab pertanyaan Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum, kemudian laki-laki muda itu melangkah keluar. Di depan Gua.., beberapa orang sudah banyak yang sedang menikmati minuman panas. Mereka memberi salam dan hormat pada Wisanggeni, dan mengajak laki-laki muda itu bergabung bersama mereka.


"Pemimpin kelompok.., ayo turunlah kemari. Kita minum dan nikmati makanan bersama." ajak seseorang yang bertugas untuk menyiapkan logistik.


"Sudiro yang akan dengan kalian untuk menikmati secara bersama. Aku harus menemani seseorang di dalam sana. Aku minta tolong, bisakah kalian menyiapkan dua minumam hangat untukku?" dengan sopan, Wisanggeni berbicara dengan mereka.

__ADS_1


"Pasti bisa pemimpin kelompok. Tunggulah sebentar.., aku akan menyiapkannya terlebih dahulu." dengan cepat, petugas logistik mengambilkan dua cangkir minuman panas, dan dua bungkus makanan untuk dibawa Wisanggeni. Dalam hati dia membatin, untuk siapakah yang satunya. Tetapi dia hanya memendam pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Yang satu ini untuk istriku.." bisik Wisanggeni saat menerima minuman dan makanan dari petugas itu. Mendengar penjelasan dari Wisanggeni, petugas logistik itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Wisanggeni kemudian dengan cepat meninggalkan mereka dan kembali masuk ke dalam gua.


Sudiro yang berpapasan dengan Wisanggeni merasa heran, saat melihat laki-laki muda itu membawa dua minuman dan makanan di tangannya. Apalagi Wisanggeni hanya menyentuhkan bahunya ke bahu Sudiro, untuk menyapanya. Petugas logistik hanya tersenyum dan menutup mulutnya melihat kejadian itu.


*************


Wisanggeni tersenyum melihat Rengganis yang masih bergelung di bawah selendangnya. Perlahan laki-laki muda itu meletakkan minuman dan makanan di atas batu, kemudian duduk untuk membangunkan perempuan muda itu.


"Nimas.., bangunlah! Bersihkanlah dirimu dulu.., atau minumlah beberapa teguk minuman hangat dulu. Teman-teman sudah bersiap untuk meninggalkan tempat ini." dengan suara lirih, Wisanggeni membisikkan kalimat ke telinga Rengganis.


"Akang..," ucap Rengganis yang seperti tampak malas untuk mengangkat tubuhnya. Perlahan Wisanggeni membantu istrinya untuk duduk, kemudian satu tangannya meraih cangkir dan memberikannya pada istrinya.


"Minumlah dulu.., baru kita bicara." ucap Wisanggeni pelan. Rengganis menuruti apa yang diperintahkan suaminya, perlahan dia meraih cangkir itu, kemudian menyesapnya perlahan. Mata gadis itu langsung terbuka lebar, perempuan muda itu melihat suaminya sudah rapi dan siap untuk bepergian.


"Akang sudah siap? Kenapa tidak membangunkan Rengganis dari tadi?" Rengganis memprotes suaminya.


"Iya.., kita segera akan melanjutkan perjalanan memasuki hutan di depan itu. Mandilah dulu.., Akang akan menunggumu disini." sambil berbicara, Wisanggeni menegakkan tubuh Rengganis. Kemudian membawanya di sebuah mata air yang ada di belakang tempatnya beristirahat.

__ADS_1


****************


__ADS_2