
Wisanggeni masih berendam dengan ember kayu yang berisi ramuan obat, untuk mengembalikan kekuatan yang hilang dan juga lebih memperkuatnya. Tanpa sengaja, dia menemukan bubuk obat berwarna jingga di dalam tas kulit. Berjam-jam dia masih berada di dalam kamar mandi, dia merasakan bagaimana obat warna jingga itu terserap dengan cepat di tubuhnya sampai dia tertidur. Dia berada dalam kondisi terbaik istirahatnya.
Setelah merasa emosinya hilang, dan tubuhnya kembali tenang, Wisanggeni perlahan bangun dan keluar dari ember. Air yang semula berwarna jingga, saat ini menjadi bening dan warna jingga terserap habis melalui pori-pori kulitnya. Setelah mengeringkan tubuhnya, dia segera mengambil baju dan mengeringkannya.
"Kretek..kretek.." bunyi tulang-tulang terdengar di telinganya, saat dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Perlahan dia juga meregangkan badannya, sehingga dia merasakan tulang-tulangnya segar kembali.
"Tok.., tok.., tok...," Wisanggeni bergegas menuju ke arah pintu, dan membuka pintu dari dalam. Terlihat di depannya Suko dan Sentono berdiri di balik pintu.
"Kalian berdua?? Ada apa Suko, Sentono kok sudah berada disini?"
"Aku pikir kamu pergi kemana Wisang.., karena dari semalam aku mengetuk pintu kamarmu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam." sahut Sentono merasa lega.
"Semalam aku di kamar Sentono..., aku memang merasa kecapaian sehingga tidur dari sore. Kemudian pagi tahu aku sudah keluar untuk jalan-jalan saat matahari masih bersembunyi. Jadi wajarlah.., kalau kamu ketuk, aku tidak mendengarnya." Wisanggeni sengaja membohongi mereka, dia belum siap jika harus berbicara jujur.
"Oh begitu..., ya sudah. Ini aku sama Suko mau melihat-lihat ke Pilar kekuatan. Jika kamu ada waktu luang, ayolah kita pergi kesana sama-sama!" Sentono mengajaknya untuk ke Pilar kekuatan.
"Baik.. aku ikut. Ayo!" Wisanggeni segera menutup pintu kamarnya, kemudian mereka bertiga segera menuruni teras depan kamar Wisanggeni.
Dalam diam mereka berjalan menyusuri jalan yang ada di pinggir Akademi, untuk menghindari bertemu dengan murid akademi lainnya. Karena sebagai murid baru, mereka cenderung untuk melihat dulu situasi yang ada di dalam akademi, dan mengurangi konflik dengan murid yang lain.
"Teman-teman yang lain kemana Suko, kenapa kamu tidak mengajak mereka?" tanya Wisanggeni memecah kesunyian.
"Mereka masih istirahat, katanya merasa lelah dengan perjalanan kemarin. Kita dulu saja yang kesana, setelah kita memahami lokasinya, segera kita memberi informasi pada mereka." sahut Suko.
"Baguslah kalau begitu, mereka sudah dapat mengukur kapan mereka membutuhkan istirahat."
__ADS_1
Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba terlihat halaman yang dijaga oleh beberapa murid senior di pintu gerbang kecilnya. Di dalam gerbang tersebut, berdiri dengan gagahnya sebuah bangunan mirip menara tinggi.
"Apakah bangunan ini yang dinamakan sebagai pilar kekuatan?" tanya Sentono dengan rasa ingin tahu.
"Aku juga baru pertama kali datang kesini Sentono. Mungkin kita bisa menanyakannya pada petugas di depan itu." sahut Suko dengan tatapan mata yang diarahkan pada bangunan yang tinggi menjulang di depannya.
"Kalau kita bertanya pada murid senior, apakah tidak menandakan jika kita ini murid baru yang udik. Khawatirnya mereka malah akan mengerjai dan membully kita. Itu disana ada papan nama, kita dekati papan itu saja! Siapa tahu di papan itu tertulis nama bangunan ini." kata Wisanggeni sambil tangannya menunjuk ke papan nama yang ada di samping bangunan menara itu.
***********************
"Nama Bangunan Pilar kekuatan, terdiri dari 7 lantai. Setiap lantai akan ada tantangan tersendiri, dan bagi setiap orang yang dapat mencapai pada Lantai ke-7, menandakan level kekuatannya sudah di atas level 5." Suko membaca tulisan yang tertulis di atas papan penunjuk.
"Bagaimana.., apakah kita hanya melihat-lihat dulu disini, ataukah kita akan melihat-lihat ke dalam?" tanya Wisanggeni pada dua rekannya. Kedua temannya itu terlihat berpikir.
"Kita sekalian masuk ke dalam dulu, mumpung sudah berada disini. Jadi saat kita balik ke pesanggrahan, dan teman-teman bertanya kita bisa menceritakannya pada mereka." ucap Suko, karena dia kesini dengan keempat orang temannya.
"Baiklah.., ayo kita segera menuju ke gerbang depan!" kata Wisanggeni sambil melangkahkan kakinya menuju meja pendaftaran. Kedua temannya mengikuti di belakangnya.
"Hei kalian.., mau kemana?" tiba-tiba suara tegas murid senior bertanya pada mereka bertiga.
"Ingin masuk ke dalam bangunan menara pilar. Tidak bolehkah?" Wisanggeni menjawab dan balik bertanya.
__ADS_1
"Baca dulu tata tertibnya!" murid senior membagikan selembar daun lontar.
Tertulis di dalamnya, bahwa untuk dapat masuk ke dalam pilar, mereka harus membayar uang pemeliharaan senilai 3 keping koin perak. Wisanggeni tersenyum kecut, kemudian melihat pada dua temannya.
"Bagaimana kalian berdua?? Aku ada sih beberapa keping, tapi dalam waktu yang tidak lama juga akan cepat habis." tanya Wisanggeni pada Suko dan Sentono.
"Aku kebetulan bawa beberapa Wisang. Betul apa yang kamu katakan, tidak lama jika kita tidak memiliki sumber penghasilan disini, maka kita betul-betul hanya menjadi gelandangan disini." sahut Suko.
"Iya.., sekarang kita masuk dulu ke dalam! Nanti aku pikirkan, agar kita bisa bersama tinggal dalam satu rumah. Termasuk Niluh dan Larasati, kita akan memikirkan bagaimana agar kita bisa mendapatkan penghasilan disini." Wisanggeni segera menyerahkan 3 keping koin perak pada murid senior, kemudian Suko dan Sentono segera mengikutinya.
"Tunjukkan plat ini pada petugas di depan pintu masuk! Jangan berisik saat berlatih, karena banyak murid yang ingin mendapatkan hasil saat mereka berlatih." petugas menyerahkan plat baja, dan memberikan pesan pada Wisanggeni dan kedua rekannya.
Ketiga laki-laki itu segera memasuki pintu pilar, kemudian menunjukkan plat pada petugas jaga. Petugas itu langsung mengijinkan mereka masuk, dan ketiga laki-laki itu takjub melihat isi di dalam menara tersebut. Tekanan berat mengalir ke tubuh mereka, dan segera badan menjadi cepat merasa lelah.
"Ayo..kita segera mencari tempat untuk berlatih. Pertama kita harus menstabilkan pernafasan kita agar menjadi lebih ringan dalam bernafas." Wisanggeni segara mengajak kedua temannya. Mereka melihat bilik-bilik yang ada di tempat itu sebagian sudah terisi, dan akhirnya mereka mendapatkan tempat di pojokan dekat tangga ke lantai atas.
"Mari berlatih, silakan posisikan kalian di tempat masing-masing. Udara di pojok sini memiliki aura yang lebih berat dibandingkan dengan tempat lain. tetapi akan mempercepat latihan dna kultivasi kita" lanjut Wisanggeni, kemudian dia duduk di pojok bilik, Sentono dan Suko akhirnya mengikuti apa yang dikatakan laki-laki itu.
Tidek menunggu waktu lama, mereka tenggelam dalam meditasi mereka masing-masing. Tekanan berat sangat menekan leher Wisanggeni, tetapi dengan mudah dia bisa mengendalikannya dan kembali bernafas dengan normal.
*************************
__ADS_1