
Di penginapan
Wisanggeni menatap putrinya Parvati yang berjalan keluar penginapan mendatangi seorang peminta-minta. Gadis muda itu memberikan beberapa keping koin pada peminta-minta tersebut, kemudian melihat penjual hiasan rambut yang ada di depan penginapan tersebut. Mata gadis muda itu mengerjap, melihat berbagai bentuk dan warna hiasan rambut, dan bross yang sangat menarik untuk dipandang.
"Apakah Nimas Rengganis juga tertarik untuk memiliki hiasan rambut tersebut?" melihat istrinya tanpa berkedip ikut memandangi Parvati, Wisanggeni bertanya pada istrinya.
"Tidak kakang.. sudah bukan masanya lagi jika Nimas akan mengenakan pernak-pernik itu. Hiasan itu hanya pantas untuk gadis-gadis seusia putri kita Parvati, bukan untuk perempuan tua sepertiku.." Rengganis menolak halus tawaran dari suaminya.
Wisanggeni tersenyum dan memandangi istrinya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kemudian mata laki-laki itu berpindah menatap seorang gadis yang juga berada di penginapan itu. Melihat sikap yang ditunjukkan suaminya, Rengganis menjadi penasaran. Perempuan itu menepuk lengan Wisanggeni, dan laki-laki itu menoleh pada istrinya.
"Kakang melihat apa.., atau melihat dan lebih tertarik pada yang masih segar-segar.." Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Nimas.. istriku masih jauh lebih cantik, masih jauh lebih segar dari gadis-gadis yang ada di penginapan ini, kecuali Nimas Parvati. Apapun yang Nimas kenakan, akan memperindah dan mempercantik dirimu Nimas.. jangan terlalu mengecilkan usia." sambil tersenyum, Wisanggeni mengambil hati Rengganis.
"Aaaaaw.." tiba-tiba Wisanggeni menjerit, dan beberapa orang melihat ke arah pasangan suami istri itu. Bahkan Parvati yang sedang berada di depan penginapan, berlari masuk ke dalam ketika mendengar suara jeritan itu,
"Ayahnda .. apa yang terjadi. Apakah ayahnda terluka?" dengan khawatir, Parvati bertanya pada Wisanggeni, ketika gadis kecil itu sudah sampai di depan mereka. Tetapi gadis muda itu merasa heran, karena ibundanya Rengganis sedikitpun tidak merasa khawatir, dan bahkan terkesan tidak peduli dengan keadaan yang dialami suaminya.
__ADS_1
"Kamu mendengarnya Nimas.. ayahnda merasa kesakitan Nimas.. Ada dua jari dari satu telapak tangan membuat cubitan yang sangat menyakitkan di pinggang ayahnda. Orang yang melakukan itu, sedikitpun tidak memiliki rasa belas kasihan. Ayah begitu tersiksa dan menderita Nimas.. kamu harus membuat pembelaan untuk ayahndamu." Wisanggeni menjawab pertanyaan Parvati sambil melirik ke arah istrinya Rengganis. Namun, sedikitpun Rengganis tidak melihat dan mengabaikan pandangan suaminya.
Beberapa saat kemudian, Parvati baru menyadari apa yang sedang terjadi. Gadis muda itu tertawa terbahak-bahak melihat cara berinteraksi kedua orang tuanya,
"Bunda.. temani dan bantu Parvati saja ya. Tadi ada beberapa pilihan untuk hiasan rambut, dan Parvati bingung untuk memilihnya. Dengan bantuan bunda.. Parvati yakin akan mendapatkan pilihan hiasan yang bagus." Parvati mengajak Rengganis untuk membantunya memilih barang yang akan dia beli.
Tanpa berpikir panjang, perempuan itu kemudian merangkul putrinya, keduanya segera berjalan menuju ke depan penginapan. Penjual pernak-pernik hiasan tersenyum melihat gadis yang sejak tadi memilih barang kemudian berlari meninggalkannya, kembali lagi ke tempat itu.
"Monggo.., monggo.. dipilih Ki Sanak. Tidak hanya untuk anak muda saja, kami juga memiliki koleksi hiasan dan bross untuk digunakan oleh perempuan dewasa." tanpa diminta, penjual itu mengambil satu tempat dari kayu dari bagian bawah tempat penyimpanan. Di depan Rengganis, tersaji berbagai koleksi hiasan yang terbuat dari batu-batuan yang terangkai sangat indah. Mata perempuan itu seketika mengerjap melihat koleksi perhiasan tersebut, dan tanpa melupakan pilihan untuk putrinya Parvati.., Rengganis memilih beberapa untuknya. Bahkan perempuan itu juga memilih beberapa untuk diberikan pada Sekar Ratih dan Ayodya Putri sebagai bentuk oleh-oleh cindera mata darinya.
*******
"Nimas Rengganis.. benarkah ini dirimu. Tidak ada perubahan sedikitpun dari parasmu Nimas.." laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangan mengajak perempuan itu bersalaman. Dari dalam penginapan, Wisanggeni berjalan keluar menghampiri mereka.
"Tidak baik menggoda perempuan di depan suaminya paman Sudiro.." tiba-tiba tidak diduga, Wisanggeni menyebut nama laki-laki itu. Rengganis terkejut, dan menajamkan pandangannya pada laki-laki itu. Wajah laki-laki yang tertutup oleh brewok yang memenuhi paras wajahnya.
"Saudaraku Wisang... rupanya kamu masih tetap mengenaliku .." Sudiro dan Wisanggeni berpelukan di depan Rengganis yang tersenyum melihat kedua sahabat yang lama terpisah, akhirnya mereka bertemu lagi. Parvati menatap mereka secara bergantian, namun memang gadis muda itu tidak bisa mengenali laki-laki sahabat ayahnda dan ibundanya itu.
__ADS_1
"Ini putrimu bukan.. sangat cantik sekali. Tetapi seperti ada kemiripan dengan Nimas Maharani,.. apakah aku menyakiti hatimu Nimas Rengganis.." Sudiro dengan tepat menebak siapa Parvati.
"Tidak ada yang perlu dirahasiakan di antara sesama saudara kang Diro.. Benar ini putriku.. namanya Parvati, adiknya Chakra Ashanka. Dia putri Nimas Maharani dan kakang Wisanggeni.." tanpa ada sedikitpun rasa keberatan, Rengganis menjelaskan pada Sudiro. Wisanggeni mengiyakan penjelasan Rengganis.
"Turut berduka cita dengan kabar yang aku terima Wisang.. Semoga Maharani kekal di alamnya dengan penuh kedamaian.." ucap Sudiro sambil melirik pada Parvati yang terlihat tegar mendengar ucapan tentang ibundanya.
"Terima kasih simpatimu saudaraku.. Kita masuk saja ke dalam, tidak baik kita berbincang sambil berdiri di tengah jalan seperti ini. Di dalam penginapan aku lihat ada tempat lapang untuk kita saling berbicara.." melihat posisi mereka di depan pintu penginapan, Wisanggeni mengajak Sudiro masuk ke dalamnya.
"Apakah ini putramu Sudiro.. tampaknya anak ini sangat mengantuk. Tertidur pulas di pundakmu.." Rengganis mengusap pipi gembul anak kecil yang tertidur di pundak Sudiro.
Sudiro tersenyum, kemudian dengan tatapan prihatin melihat pada anak laki-laki yang sedang tertidur itu. Tanpa menjawab, laki-laki itu berjalan masuk ke dalam penginapan mengikuti Wisanggeni. Rengganis diam, mungkin ada alasan kenapa Sudiro merahasiakan tentang identitas anak itu. Parvati menggandeng tangan ibundanya, keduanya berjalan mengikuti kedua laki-laki itu masuk ke dalam penginapan.
"Duduklah disini Sudiro, letakkan bocah di pundakmu itu di atas kursi panjang ini. Agar dia bisa menyelonjorkan kakinya, dan tidak terlipat-lipat. Tidak baik untuk peredaran darahnya.." Wisanggeni sengaja memilih tempat yang terletak di pojokan. Seperangkat kursi lengkap dengan kursi panjang tersedia di tempat itu.
Sudiro menuruti kehendak sahabatnya itu, laki-laki itu dengan hati-hati menurunkan bocah laki-laki dari pundaknya, kemudian menidurkan di atas kursi panjang tersebut. Setelah memastikan bocah itu aman di kursi panjang tersebut, Sudiro perlahan duduk di samping bocah itu.
********
__ADS_1