
Ki Bawono yang sudah bisa duduk bersandar di dinding kayu dalam pendhopo tersebut, terkejut melihat kedatangan laki-laki dan perempuan di depannya. Orang tua itu mengusap matanya, kemudian kembali melihat kedua orang itu. Laki-laki itu ingin memastikan keawasan pandangannya, merasa khawatir jika terjadi halusinasi di depannya saat itu.
"Ijin yang muda memberi salam Ki Bawono. Bagaimana keadaan Ki bawono saat ini, apakah sudah merasa lebih baik." suara Wisanggeni terdengar memberi sapaan pada laki-laki tua itu, dengan senyum laki-laki itu mengiringi kata-kata yang keluar dari bibirnya.
"Apakah saat ini.. aku sedang tidak berhalusinasi. Benarkah di depanku saat ini adalah pendekar pilih tanding Den Bagus Wisanggeni, dan istrinya Den Ayu Rengganis.." Ki Bawono menanggapi perkataan Wisanggeni dengan bertanya tentang pasangan suami istri itu.
Rengganis berjalan lebih mendekat, kemudian berdiri di samping suaminya. Pasangan suami istri itu menganggukkan kepalanya memberi hormat pada laki-laki tua di depannya.
"Benar Ki.. Ki Bawono tidak salah. Selamat bertemu kembali dengan Ki Bawono, dimana sudah beberapa warsa setelah kejadian dulu.. kita dipisahkan oleh waktu dan keadaan. Rupanya Hyang Widhi berkehendak untuk menjodohkan kita, sehingga kali ini kita masih bisa dipertemukan kembali, meskipun dengan keadaan seperti ini." Wisanggeni memberi tanggapan pada laki-laki itu.
Wisanggeni mengajak Rengganis duduk di depan ki Bawono, kemudian mereka duduk berhadapan dengan laki-laki tua itu. Orang-orang ki Bawono saling berpandangan, mereka merasa heran dimana Guru mereka bisa bertemu dengan pasangan suami istri itu. Laki-laki tua itu tampak gugup, kemudian akan meluruskan kakinya ke bawah. Namun dengan cepat, Wisanggeni menghalangi laki-laki tua itu dan membiarkannya untuk tetap bersandar pada dinding kayu tersebut.
"Bagaimana anak mas berdua bisa sampai ke kerajaan Logandheng ini.. Merupakan kehormatan bagi kerajaan ini, bisa mendapatkan kanugrahan dikunjungi oleh Nak mas berdua.." Ki Bawono dengan tulus memuji pasangan suami istri itu di depan orang-orangnya.
"Ki Bawono terlalu merendah, kami yang lebih muda jadi malu mendengarnya. Kedatangan kami ke kerajaan ini tidak sengaja Ki bawono. Kami bermaksud untuk menyaksikan putra kami Chakra Ashanka, mendapatkan karahayon untuk menerima wahyu sebagai Patih mendampingi Raja Bahdra Arsyanendra di kerajaan ini." dengan tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, Wisanggeni menanggapi perkataan Ki Bawono.
__ADS_1
Mendengar perkataan laki-laki itu, raut wajah Ko bawono menjadi berubah. Tampak penyesalan dan ketakutan muncul di wajah tuanya.
"Apakah nak Wisanggeni bisa mengulangi perkataan tadi. Yang tua ini sering salah mendengar dan membuat simpulan dari perkataan orang-orang.." untuk memastikan lagi kebenaran dari pendengarannya, Ki Bawono meminta Wisanggeni untuk mengulang kembali perkataannya.
"Ulangi kata-kata kang Wisang tadi.. paman Bawono ingin mendengarnya sekali lagi." melihat ada keraguan di pandangan suaminya, dengan cepat Rengganis menegaskan permintaan dari laki-laki tua itu.
"Iya Ki Bawono, kedatangan kami ke kerajaan ini, dengan maksud untuk menyaksikan putra kami Chakra Ashanka. Kebetulan putra kami, mendapatkan karahayon untuk menerima wahyu sebagai Patih mendampingi Raja Bhadra Arsyanendra di kerajaan ini." mendengar perkataan yang disampaikan laki-laki itu, muka Ki Bawono menjadi pucat.
Tanpa diduga, laki-laki itu menundukkan wajahnya ke bawah dengan kedua tangannya membuat gerakan meminta maaf. Wisanggeni dan Rengganis saling berpandangan, kemudian tanpa bicara Wisanggeni mengangkat kembali pundak laki-laki tua itu dan menegakkan kembali ke atas.
"Jangan bersikap seperti ini Ki Bawono.. kami yang muda tidak siap untuk menerima karma dan hukumannya. Yang muda yang harus menundukkan diri di hadapan pihak yang lebih tua.." Wisanggeni kembali mengajak bicara laki-laki tua itu. Ki Bawono tiba-tiba memeluk erat tubuh Wisanggeni sambil mengeluarkan tangisan. Merasa tidak enak, Wisanggeni membiarkannya untuk beberapa saat kemudian melepaskan dan menegakkan tubuh tua itu kembali.
Wisanggeni tersenyum, demikian juga dengan Rengganis. Orang-orang Ki Bawono saling berpandangan melihat panutan mereka menangis dan meratap. Tetapi setelah mengetahui penyebabnya, mereka kemudian duduk menjatuhkan tubuh mereka di bawah. Tampak ketakutan dan kekhawatiran di wajah mereka.
"Bangunlah kalian semua... ini semuanya hanya salah paham. Putra saya Chakra Ashanka sangat layak untuk mendapatkan ujian seperti itu, agar bisa membantu dirinya sadar jika sesuatu tidak mudah untuk dapat langsung diraih. Melainkan butuh sebuah upaya dan usaha untuk meraih dan mendapatkannya." Wisanggeni meminta pada para pengawal ki Bawono untuk bersikap biasa.
__ADS_1
"Benar sekali Ki Bawono.. Kami berdua malah berterima kasih, dimana putra kami akhirnya bisa mendapatkan pengujian sebelum menerima karahayon itu." dari samping suaminya, Rengganis turut memberikan tanggapan.
Kembali Ki Bawono menatap Wisanggeni dan Rengganis secara bergantian. Kedua orang pasangan suami istri itu, tidak banyak mengalami perubahan dari saat terakhir mereka bertemu. Kedewasaan dan kematangan tampak jelas terlihat pada tindak tanduk mereka berdua. Sifat tergesa-gesa yang masih tampak pada saat terakhir mereka bersama, untuk kali ini semua sikap itu sudah tidak ada.
"Aku dan semua orang-orangku mengundang kalian berdua.. datanglah ke padhepokan kami nak mas.. den Ayu.." setelah bisa menguasai perasaannya, Ki bawono menyampaikan undangan pada pasangan suami istri itu.
"Kami berdua akan sangat merasa senang untuk berkunjung ke padhepokan itu Ki Bawono. Setelah putra kami selesai melangsungkan upacara, kami pastikan jika kami bertiga dengan putri kami Nimas Parvati.. akan datang berkunjung ke padhepokan itu." Wisanggeni menerima undangan itu.
Ki Bawono tersenyum, dan merasa bersyukur dengan kebesaran hati orang-orang itu. Tetapi tiba-tiba.. dada laki-laki tua itu kembali merasa sesak. meskipun Ki Bawono berusaha untuk menahannya, namun tidak terlewat dari tatapan laki-laki yang ada di depannya itu.
"Ijinkan saya untuk melihat dada dan punggung Ki Bawono sebentar.." Wisanggeni berniat untuk membantu laki-laki tua itu pengobatan.
"Jika nak mas tidak keberatan, saya sangat berterima kasih sekali.." Ki Bawono sangat senang mendengarnya.
Wisanggeni segera mengusap lembut dada ki Bawono yang terlihat gosong. Senyum pias menyesali sikap putranya tergambar jelas di wajahnya, karena seharusnya anak muda itu tidak menggunakan tenaganya sebesar ini. Wisanggeni memejamkan mata sebentar, kemudian menyalurkan energi melalui tangan kanannya kemudian mengusapkan di dada laki-laki itu.
__ADS_1
"Hoek... hoek.." ki Bawono memuntahkan darah hitam kebiruan dari mulutnya. Melihat warna darah itu, kening Wisanggeni berkerut. Namun laki-laki itu tidak membuat suara.. tangannya kembali mengusap punggung laki-laki tua di depannya itu.
***********