Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 28 Singa Putih


__ADS_3

Malam hari seperti biasa saat orang-orang mulai terlelap, Wisanggeni keluar dari dalam kamarnya. Saat dia mengunci kamarnya, dia melihat sekelebat orang sedang melompat di atas pohon.


"Siapakah orang itu? Tetapi melihat ringannya kaki saat menapak di pohon tanpa menimbulkan suara sedikitpun, sepertinya orang itu memiliki keahlian yang tinggi." Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri.


Tetapi dia tidak memiliki waktu untuk mempedulikan sekitarnya, karena dia memiliki prinsip jika semakin banyak dia tahu, maka hanya sengsara dan celaka yang akan dia dapatkan. Perlahan dia berjalan menyusuri kegelapan malam, dia sengaja tidak menggunakan tenaga dalamnya di lingkungan Akademi, karena khawatir dari energinya akan menimbulkan kecurigaan penghuni yang lain. Setelah sampai di pagar samping akademi, dia langsung melompat keluar dan menerobos menembus kegelapan hutan.


Tapi baru beberapa langkah dia ambil, dia seperti mendengar suara orang-orang dalam jarak beberapa ratus meter di depannya.


"Sepertinya ada orang lain di dalam hutan malam ini, aku akan melihatnya." dengan cepat Wisanggeni mempercepat langkahnya, dan beberapa puluh meter di depannya terlihat 3 orang kakak seniornya sedang berjalan di depannya.


"Aku hanya mengikutinya saja, atau perlu menampakkan diriku ya? Tapi jika hanya mengikuti tetapi tidak menampakkan diri, jika ketahuan, aku malah akan dihajar oleh mereka." Wisanggeni berpikir untuk menunjukkan diri atau secara diam-diam mengikutinya dari belakang. Tetapi naas bagi Wisanggeni, karena salah satu dari mereka sudah menyadari kehadirannya.


"Hei siapa kau??" terdengar teriakan dari seseorang yang berdiri di depannya. Mendengar teriakan itu, tidak ada jalan lain, Wisanggeni berjalan pelan menghampiri mereka.


"Kenalkan saya murid junior tingkat satu dari Akademi!" Wisanggeni langsung mengenalkan dirinya.


"Apa yang kamu lakukan disini, apakah kamu mengikuti kami?" tanya salah satu dari mereka.


Wisanggeni tersenyum kemudian menggelengkan kepala. Ketiga laki-laki itu berjalan lebih mendekatinya.


"Sudah dari kemarin malam, saya menggunakan gua ini untuk berlatih. Enak disini, nyaman dan sepi, sangat berbeda dengan berlatih di dalam lingkungan Akademi. Dan saya juga mendengar saat pertama kali bergabung dengan akademi, para guru menyampaikan jika kita diperbolehkan untuk mencari sumber belajar yang lain, dan hutan ini sebagai salah satunya." dengan jelas, Wisanggeni berbicara alasan dia sampai di dalam hutan itu.


"Bagaimana.., kita biarkan saja dia atau sekalian kita ajak? Sepertinya melihat harimau putih itu, akan sangat kesulitan jika kita hanya bertiga." ketiga orang itu tampak berdiskusi.


"Tetapi apakah kita bisa mempercayai anak baru itu, dan sedikitpun kita belum mengetahui kekuatan yang dia miliki. Jangan sampai kita mengajaknya bergabung, ternyata malah menyulitkan posisi kita disini. Kita harus melindunginya." sahut salah satu.


"Kalau menurutku sih, dengan beraninya dia memasuki hutan ini seorang diri, berarti dia memiliki satu kekuatan lebih jika dibandingkan dengan murid lainnya. Kamu dengar kan, jika kemarin malam tadi dia menyampaikan jika sudah berlatih di hutan ini."

__ADS_1


"Baiklah.., kita akan ajak dia. Aku yang akan bicara dengannya." seseorang yang sepertinya menjadi pemimpin kelompok menyanggupi untuk berbicara dengan Wisanggeni. Kemudian mereka mengelilingi Wisanggeni.


"Bagaimana Kisanak.., apakah kedatanganku disini mengganggu kalian? Jika ya, maafkan karena ketidak sengajaan ini, aku akan memilih jalan lain untuk sampai di tengah hutan." dengan tersenyum dan nada tenang, Wisanggeni berbicara dengan mereka.


"Untuk apa tergesa-gesa. Kenalkan saya Joko, ini Laksito, dan dia Kodir. Kami pingin mengajak kamu untuk bergabung dengan kami menangkap singa putih." kata Joko.


"Singa Putih?? Untuk apa kita menangkap binatang itu, apakah ada khasiat yang tersembunyi dari raganya?" tanya Wisanggeni penasaran.


Joko tersenyum, kemudian perlahan dia lebih mendekat pada Wisanggeni, kemudian menepuk pundaknya pelan.


"Singa putih yang akan kita tangkap ini bukan singa sembarangan. Ada mustika yang tersimpan di kepalanya, juga semua yang ada di tubuhnya bermanfaat untuk membuat jamu-jamuan herbal. Kita bisa membagi hasilnya, jika kita berhasil menangkapnya." Joko lebih lanjut menjelaskan tentang apa yang dimiliki Singa Putih itu.


Karena Wisanggeni berniat untuk berlatih mengolah jamu herbal, maka dia kemudian bersedia bergabung dengan tiga orang itu.


 


***************


 


"Tempat apa ini Joko?" tanya Wisanggeni lirih pada Joko.


"Di dalam gua ini, singa putih itu sering menghabiskan waktunya untuk tidur dan beristirahat. Semoga malam ini, singa itu ada di dalam. Kita akan bersiap-siap mengatur strategi untuk menangkapnya, dan pastikan gunakan kekuatan kalian untuk menundukkannya." Joko mengarahkan mereka bertiga.


"Baik Joko..., kita harus berbagi tugas. Wisang, kamu sebagai orang baru kamu berjaga di pintu paling luar saja. Joko dan aku yang akan masuk ke dalam, sedangkan Kodir berada tepat di belakang kamu." ucap Laksito mengatur strategi.


"Mari.., kita jangan mengulur-ulur waktu. Kita harus secepatnya masuk ke dalam. Kodir gunakan sinar telapak saktimu untuk menerangi kami!" Joko langsung membuat perintah.

__ADS_1


"Baik." jawab Kodir singkat. Kemudian laki-laki itu mengambil kuda-kuda sebentar kemudian melingkarkan tangan di depan dadanya, tidka berapa lama, sinar seperti lampu keluar dari telapak tangannya. Joko dan Laksito segera masuk memimpin ke dalam gua, dengan Kodir menyinari dari belakang.


Melihat mereka bertiga sudah masuk ke dalam, sesuai arahan dari Laksito, Wisanggeni segera bersiaga di depan pintu gua. Sepeninggalan mereka, Wisanggeni kembali merasakan tekanan aura mistis di sekitarnya. Dia kemudian mengambil nafas panjang, menghembuskan keluar dan melatih konsentrasi di depannya.


"Clap..." sekelebat sinar lewat di depan Wisanggeni, dan saat dia melirik seperti sebilah keris terbang melayang di depannya. Tetapi sesuai instruksi dari teman-temannya dia mengabaikan apa yang berkelebat di depannya. Dia tidak meninggalkan tempatnya berdiri untuk mengejar keris itu.


"Siapa yang melempar keris itu, ataukah keris itu sengaja terbang untuk mencari siapa pemiliknya?" Wisanggeni berbicara sendiri dengan lirih.


"Wisaaaang.., datanglah kemari kamu!! Untuk apa kamu mengganggu singa putih itu, kamu hanya akan mencari celaka untuk dirimu. Ayo.., ikutlah dehganku! Kamu akan bahagia denganku." terdengar suara wanita yang merayu Wisanggeni untuk mengajaknya pergi dari situ. Tetapi dia tidak melihat suara siapakah itu. Dia tidak tergoyahkan tetap bertahan berdiri di tempat itu.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam.


"Brukk.."


"Tembak dengan kekuatanmu Laksito!" terdengar teriakan Joko.


"Awas.., aku tidak mampu menahannya. Jaga depan Wisang." teriak Kodir mengingatkan Wisanggeni.


"Auuummmmm." terdengar auman singa yang berlari keluar.


 


*******************


 


 

__ADS_1


__ADS_2