Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 316 Keinginan Tinggi


__ADS_3

Wisanggeni tersentak dalam semedinya, terdengar suara mendayu-dayu menyerupai suara Rengganis dan Maharani memanggil namanya, sambil menangis. Beberapa saat kemudian, berganti suara Parvati dan Chakra Ashanka yang memanggilnya, meminta sebuah pertolongan. Laki-laki itu tetap terdiam, kemudian Wisanggeni mengambil nafas dalam, karena merasa belum bisa mencapai kesempurnaan dari ilmu yang sedang dipelajarinya, Wisanggeni mengabaikan perasaan itu. Laki-laki itu berpikir, jika ada gangguan dari dunia lain yang ingin menggoyahkan semedinya.


Hanya tinggal beberapa tahapan lagi, laki-laki itu sudah akan mencapai kesempurnaan dari ilmu kanuragan warisan Trah Bhirawa. Berbagai keinginan duniawi, bersedia laki-laki itu tinggalkan untuk pergi menjauh dari gemerlap dunia. Di sebuah bukit kapur terpencil, jauh dari jangkauan manusia, Wisanggeni berniat untuk menyempurnakan niatnya itu. Berkali-kali nafas kasar terhembus dari hidung laki-laki itu, yang dengan mata terpejam masih melakukan duduk bersila dengan kedua tangan diletakkan di atas lututnya.


"Apa yang kamu kejar manusia..., kesempurnaan hidup, kecukupan duniamu, atau gemerlapnya hidupmu? Aku bisa membantumu untuk mewujudkannya..." tiba-tiba terdengar de**sah suara perempuan, mencoba untuk menggagalkan semedi Wisanggeni. Perlahan perwujudan manusia cantik itu berjalan mendekati laki-laki itu. Tanpa mengucap kata permisi, perempuan itu duduk di pangkuan Wisanggeni dengan posisi tubuh menghadap pada laki-laki itu. Wisanggeni berusaha untuk menggeser tubuhnya dengan tetap memejamkan mata, tetapi laki-laki itu merasa berat untuk melakukannya.


"Hanya ada persyaratan yang mudah hai manusia..., jadilah budakku.., puaskanlah aku sekali saja. Maka semua keinginanmu akan aku penuhi. Mudah bukan..." sebuah belaian tangan halus, bermain di dada Wisanggeni. Laki-laki itu berusaha menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dari dalam perutnya. Ingatan untuk kembali bertemu dengan keluarganya, dan masa depan perguruan Gunung Jambu, tiba-tiba berkelebat dalam ingatannya,


Laki-laki itu tetap berusaha untuk terdiam, dengan terus berusaha menahan gejolak naf**su yang terus menderanya. Tangan halus perempuan itu merambat naik ke leher laki-laki itu, kemudian membuat lingkaran seperti membuat ukiran di belakang telinga laki-laki itu. Titik-titik sensitif yang ada di tubuh laki-laki itu, tiba-tiba menjadi sasaran perempuan itu untuk membuyarkan semedi yang dilakukan Wisanggeni. Nafas laki-laki itu sudah mulai menderu, beberapa purnama tidak mendapatkan sentuhan dari perempuan, membuat laki-laki itu seperti kehilangan akal sehat. Namun untungnya kesadaran kembali menguasai jiwa Wisanggeni, sekelebat, pikiran laki-laki itu kembali ke akal warasnya.


"Uuppss.... sssahh...." Wisanggeni menghembuskan nafas kasar, dengan salah satu tangannya memegang lengan halus perempuan itu. Tiba-tiba laki-laki itu menghempaskan tangan itu ke samping.


"Kamu akan menyesal karena telah menolakku manusia... banyak orang menginginkan tubuhku untuk memuaskannya. Tetapi tanpa perasaan, kamu telah berani menghempaskanku.. Aakkkh..." seperti merasakan sebuah rasa yang sangat menyakitkan, perempuan itu menyingkir dan menjauhi Wisanggeni. Kembali suasana di dalam goa itu menjadi sepi. Udara panas kembali masuk menyerbu ruangan goa tersebut, tetapi Wisanggeni sudah sangat hafal dan bersahabat dengan rasa panas itu.

__ADS_1


Kembali setelah godaan perempuan itu enyah dari wilayah tubuhnya, laki-laki itu kembali memfokuskan pikiran dan seluruh anggota tubuhnya untuk berkonsentrasi. Perlahan hembusan nafas berwarna hitam keluar dari hidung laki-laki itu, dan dengan mata terpejam, laki-laki itu terus melakukan proses semedinya.


************


Keesokan Paginya


Setelah membersihkan tubuh, dan mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih bagus, Maharani terlihat seperti seorang dewi yang sangat cantik. Dengan lemah gemulai, perempuan itu keluar dari dalam kamar, kemudian berjalan menuju tempat yang digunakan untuk sarapan paginya. Beberapa mata, terutama mata laki-laki menatap perempuan itu dengan penuh kekaguman, apalagi melihat jika perempuan itu keluar dari kamar penginapan yang memiliki bayaran paling mahal.


Melihat Maharani berjalan, pelayan penginapan langsung berlari untuk menghampiri Maharani. Laki-laki paruh baya itu juga terkejut, melihat perubahan dari perempuan yang tadi malam sempat bertemu dengannya.


Beberapa pasang mata melihat Maharani dengan penuh kekaguman. Meskipun sudah memiliki anak satu orang, tetapi bentuk tubuh Maharani tetap terlihat molek mengalahkan bentuk tubuh gadis-gadis muda. Selain tatapan kekaguman, banyak pula tatapan iri dari beberapa pasang mata perempuan, yang sangat panas melihat mata suami atau pasangan melihat tubuh dan kecantikan Maharani dengan penuh naf**su..


"Silakan duduk disini.., pelayan kami akan segera mengantarkan minuman panas, dan beberapa makanan untuk Nimas nikmati..." setelah sampai di sebuah meja kosong, pelayan meminta Maharani untuk segera duduk.

__ADS_1


"Terima kasih paman..., sediakan untukku minuman hangat dari campuran jahe dan serai." suara merdu Maharani terdengar di telinga orang-orang yang duduk disitu.


"Baik Nimas.., tunggulah sebentar. Pelayan akan segera mengantarkannya untukmu.." pelayan itu segera meninggalkan Maharani sendiri. Kemudian laki-laki itu menuju ke dapur, untuk menyampaikan pesanan Maharani.


Beberapa saat kemudian, terlihat seorang anak muda dengan berpakaian bangsawan membawa cangkir dari tanah dan sebuah kendi ke meja yang ditempati Maharani. Mengenal bagaimana modus laki-laki untuk menarik perhatiannya, perempuan itu pura-pura tidak melihat dan mengabaikan anak muda itu.


"Selamat pagi Nimas.., saya mengantarkan minuman yang sudah Nimas pesan. Kebetulan saja, aku pas lewat di depan meja saji, sehingga aku membawakannya untuk Nimas.." anak muda itu meletakkan cangkir dan kendi di depan Maharani. Laki-laki itu tetap berdiri di depan Maharani, dengan senyum mengembang di bibirnya.


Maharani tidak menanggapi perkataan anak muda itu, perempuan itu langsung mengambil cangkir dari atas meja, kemudian menyesapnya perlahan. Setelah rasa hangat mengalir di tenggorokannya, laki-laki itu kembali meletakkan cangkir dari tanah itu ke atas meja.


"Apakah saya diijinkan untuk menemani Nimas.., kebetulan saya juga sendiri. Tidak akan menjadi masalah, jika kita bergabung dalam satu meja.." merasa didiamkan oleh Maharani, laki-laki itu meminta ijin untuk bergabung di meja.


Maharani tetap diam tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sebagai tanda memberikan ijin pada laki-laki itu. Tetapi sepatah katapun tidak ada yang keluar dari bibir perempuan itu. Laki-laki berpakaian bangsawan itu, tetap duduk bergabung di meja Maharani, meskipun sejak tadi diabaikan oleh perempuan itu.

__ADS_1


"Namaku Anggoro, putra dari patih yang saat ini memimpin kerajaan Logandheng. Sepertinya Nimas merupakan orang baru disini, jika diperkenankan, mohon diijinkan saya untuk mengenal lebih dekat dengan Nimas.." seperti tidak tahu malu, laki-laki itu mengenalkan dirinya pada Maharani.


************


__ADS_2