Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 329 Biaya Peperangan


__ADS_3

Kerajaan Logandheng.


Dari halaman istana kerajaan, sesosok laki-laki membawa lari Maharani yang terluka parah. Bahkan perempuan itu sudah terkulai lemas, mengalami pingsan. Luka-luka dalam pertarungan di tapal batas, belum sepenuhnya menutup, sudah terkena senjata yang dikirimkan para Senopati kerajaan Logandheng dan patih Wirosobo. Beberapa orang yang memutuskan untuk mengejar perempuan itu, kehilangan jejak karena cepatnya sosok yang membawa lari Maharani.


"Bagaimana kakang Patih..., akankah kita biarkan perempuan itu melarikan diri, atau kita kejar sampai kemana sosok itu membawa Maharani?" Senopati Dananjoyo bertanya pada Patih Wirosobo dengan nada tinggi.


"Melihat kecepatan, sosok itu membawa pergi Maharani, kita tidak akan mampu menemukannya. Dengan kecepatan setinggi itu, aku yakin sosok itu juga memiliki kekuatan yang tidak akan kalah dengan kecepatan yang dimilikinya. Lukaku sangat parah.., sebaiknya kita segera memanggil dukun untuk mengobati luka-luka kita" dengan terbata-bata karena menahan sakit, Patih Wirosobo menjawab pertanyaan Senopati Dananjoyo.


"Baiklah kakang Patih.., kami akan mengikuti saran dan perintahmu. Mari kita istirahat dulu, untuk memulihkan kondisi kita, sambil kita menanti kabar dari Dhimas Senopati Wiroyudho, yang menggantikanku di tapal batas Perguruan Gunung Jambu. Aku harap, ada kabar baik yang akan kita dapatkan." akhirnya Senopati Dananjoyo, mengajak semua Senopati lainnya untuk mundur dari halaman istana. Beberapa pengikut ketiga senopati dan patih Wirosobo mengikuti junjungan mereka.


Patih Wirosobo menatap keberadaan Anggoro yang terpekur di emperan istana. Laki-laki muda itu dengan penuh ketakutan menatap ayahndanya. Perlahan sambil menahan sakit karena luka-lukanya, Patih Wirosobo mendatangi anak laki-lakinya itu.


"Apakah kamu sudah bisa melihat dampak yang sudah kamu timbulkan Anggoro...? Kamu sudah membawa orang yang salah ke dalam Kepatihan. Dan yang perlu kamu ingat, perempuan itu bukan merupakan perempuan yang sembarangan untuk bisa diganggu. Dia itu istri dari Wisanggeni, pemiliki perguruan Gunung Jambu, salah satu pendekar pilih tanding. Romo yakin, kamu sudah pernah mendengar nama besar laki-laki itu..." kata Patih Wirosobo dengan sorot mata kecewa kepada putra bungsunya.


"Maafkan sikap kekanak-kanakan Anggoro Romo. Di masa depan, Anggoro berjanji untuk tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu." ucap Anggoro lirih. Melihat keadaan luka-luka pada tubuh Patih Wirosobo, anak muda itu segera memegangi ayahndanya, kemudian membawanya pulang ke kepatihan,


*********

__ADS_1


Di dalam kegelapan, Maharani mencoba membuka matanya perlahan. Meskipun luka-luka pada tubuhnya sangat banyak, dan darah terus menetes, perempuan itu memaksakan diri untuk membuka matanya. Dari aroma tubuh, dan cara membawanya, perempuan itu bisa mengenali sosok laki-laki yang sudah membawanya pergi dari halaman istana.


"Kang Wisang..., kakang sudah kembali..?" dengan terbata-bata, Maharani menyapa laki-laki yang membawanya sambil berlari.


"Jangan banyak bicara..., kita harus mencari tempat untuk mengobati lukamu. Telanlah pil penghilang rasa sakit ini.." sambil mengangkat tubuh Maharani, dan terus meloncat, Wisanggeni memasukkan pil ke dalam mulut perempuan itu. Tanpa kesulitan, Maharani menelan pil herbal tersebut. Perlahan-lahan rasa nyeri pada luka-luka di tubuhnya, mulai berkurang rasa sakitnya. Tetapi sekujur tubuhnya masih terasa sakit untuk digerakkan.


"Bawa Maharani pulang ke padhepokan Kang..., Maharani ingin ketemu dengan Parvati. Nimas Rengganis saat ini, juga mengalami hal yang sama denganku, karena Patih Wirosobo masih mengirimkan Senopati Wiroyudho untuk memberi peringatan pada perguruan kita.." ucap Maharani lirih, dan tidak lama kemudian, mungkin dikarenakan efek dari pil herbal yang diminumnya, Maharani kembali memejamkan matanya. Perempuan itu kembali pingsan dalam dekapan Wisanggeni.


"Aku tidak mungkin hanya membiarkan Nimas Maharani seperti ini. Luka-lukanya sangat parah, dan darah mengalir terus dari sekujur tubuhnya. Tidak mungkin aku merawat perempuan ini hanya di dalam hutan.." Wisanggeni berpikir sendiri. Niatnya untuk mempelajari ilmu kuno dari trah Bhirawa, tidak diduga akan mengorbankan istri dan putra putrinya. Tampak raut kekecewaan membayang di wajah laki-laki itu.


"Sabarlah Nimas.., aku akan membawamu pulang ke perguruan Gunung Jambu, aku akan menemanimu untuk menemui Parvati putri kita.." ucap Wisanggeni pelan. Sambil tetap membawa Maharani dalam dekapannya, tangan laki-laki itu menarik SInga Resti keluar dari dalam kepis. Tidak lama seekor singa besar sudah berdiri di depan pasangan suami istri itu.


"Auuuummm..." auman panjang keluar dari mulut Singa Resti.., merasa turut prihatin melihat kondisi Maharani dalam gendongan Wisanggeni.


"Tap.. tap.." Wisanggeni segera melompat ke punggung binatang itu, tidak lama kemudian, Singa Resti sudah terbang tinggi dengan kecepatan tinggi.


*********

__ADS_1


Kepatihan Logandheng


Malam yang sepi, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan sebuah kereta memasuki halaman kepatihan. Patih Wirosobo yang masih beristirahat, setelah mendapatkan pengobatan dari dukun, memaksakan diri untuk bangun dari istirahatnya karena kepanikan istrinya, melihat kereta tersebut. Laki-laki itu kemudian dengan dipapah, pelayan kepatihan berjalan menuju ke pendhopo depan.


"Nimas.., siapakah yang terbaring di atas lincak pendhopo?" dengan suara tercekat, Patih Wirosobo bertanya pada istrinya. Perempuan itu tidak dapat menahan air matanya, langsung berlari meninggalkan Patih Wirosobo, dan langsung menubruk laki-laki yang terbujur di atas lincak pendhopo kepatihan.


"Putraku.., Wiroyudho.. apa yang terjadi dengan dirimu nak,,? Kenapa tubuhmu membujur kaku seperti ini..?" jeritan histeris keluar dari mulut perempuan itu, meratapi keadaan yang terlihat jelas di depannya.


Mendengar lengkingan perempuan itu, suasana di kepatihan menjadi diselimuti rasa panik, semua orang di bangunan itu berlari menuju pendhopo utama. Patih Wirosobo terhenyak, laki-laki itu tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun. Matanya nanar menatap tubuh putra pertamanya, yang masih dipeluk erat oleh istrinya. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana mereka selalu bercengkerama bersama di kepatihan, tetapi kali ini Patih Wirosobo hanya menatap putranya terbujur kaku di depannya.


"Kanjeng Patih.., sepertinya keadaan Senopati Wiroyudho sudah tidak bisa diberikan pertolongan. Tubuh Senopati sudah terbujur kaku, hal ini menandakan jika roh sudah keluar dari raga Senopati Wiroyudho. Harap kanjeng Senopati merelakan kepergiannya." sesepuh kepatihan mendatangi Patih Wirosobo, dan mengatakan kenyataan yang terjadi dengan anak muda itu.


Perlahan dengan kepedihan dalam hati, laki-laki paruh baya itu menundukkan kepala. Mencoba untuk menerima kenyataan pahit dalam hatinya. Sebagai seorang patih, laki-laki ini memang harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dalam kehidupannya.Obsesi dan harapan muluknya, harus dibayar dengan biaya yang sangat tinggi nilainya.


"Apakah Kanjeng Patih siap untuk melihat raut wajah Senopati Wiroyudho untuk terakhir kalinya? Saya sudah mengundang pramurukti untuk menyiapkan agar jasadnya segera kita larungkan." sesepuh itu kembali berbisik dengan suara pelan pada patih Wirosobo.


Perlahan laki-laki itu menganggukkan kepala, kemudian dengan menguatkan hati berjalan menuju ke arah jasad putra sulungnya,

__ADS_1


************


__ADS_2