Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 103 Perjalanan Awal


__ADS_3

"Jangan bunuh kami Ki Sanak.., kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi! Anak-anak kami masih sangat kecil." terdengar tangisan warga desa yang berusaha mengharap iba dari orang-orang yang menekannya.


"Ha..., ha.., ha..., serahkan semua harta benda kalian! Atau jika kamu memiliki anak usia 10 tahun keatas, serahkan juga padaku." dengan tertawa terbahak-bahak, beberapa orang itu terus menindas warga desa.


"Romo..., biyung... selamatkan kami! Kami tidak mau dipisahkan dengan kalian berdua. Mereka orang-orang jahat.." kembali terdengar teriakan ketakutan dari anak-anak usia 10 tahunan yang ditangkap oleh orang-orang tersebut.


"Duak..., diam!" sebuah tendangan bersarang di pinggang seorang anak muda.


"Aawww.., sakit. Hentikan jangan sakiti kami!" terdengar teriakan dari seorang anak yang menolak dibawa mereka.


"Berani kalian untuk menolak perintah kami, akan aku ratakan semua rumah kalian disini." dengan nada tinggi orang-orang dari gerombolan Alap-alap berusaha menekan warga desa.


"Jleb .., jleb..." tiba-tiba beberapa orang dari gerombolan Alap-alap tiba-tiba terjengkang karena anak panah yang bersarang di punggung mereka.


"Akh ., aaww.." jeritan kesakitan warga digantikan oleh jeritan anggota kelompok penyerang itu.


Sudiro memimpin orang-orangnya segera melompat dan menyerang gerombolan Alap-alap yang menindas warga desa.


"Siapa kalian..? Apakah kalian tidak tahu siapa kami, berani-beraninya menyerang kami?" dengan nada pongah, pemimpin gerombolan menghadang Sudiro.


"Clap.." Sudiro langsung melompat dan berdiri di depan pemimpin gerombolan itu.


"Kalian adalah gerombolan cecurut yang berusaha mencuri makanan-makanan dari para penduduk desa. Dan kami yang akan menghabisi cecurut-cecurut itu, ha.., ha.., ha.." sambil tertawa, Sudiro menjawab pertanyaan dari pemimpin gerombolan tersebut.


"Kurang ajar ., tajam sekali lidahmu. Serang mereka semua!" dengan berteriak keras, pemimpin meminta anak buahnya untuk menyerang kelompok yang dibawa Sudiro.


"Bang..., bang..." serangan demi serangan dari kedua belah pihak segera diluncurkan. Para warga desa berlarian untuk menyelamatkan diri. Para perempuan segera menyelamatkan putra-putri mereka yang masih di bawah umur, sedangkan yang sudah diatas sepuluh tahun dengan menggandeng senjata seadanya ikut bertempur dengan Gerombolan Alap-alap.


"Ternyata kamu tidak hanya bisa menyombongkan diri saja anak muda. Terimalah Aji Rowo Rontek... bang..!" pemimpin gerombolan Alap-alap mengirim serangan ke Sudiro. Dengan gesit, Sudiro berlari menghindar dengan melompat.

__ADS_1


Pemimpin itu terus mengejar.., dan Sudiro menghentikan langkahnya, kemudian dengan cepat laki-laki Muda itu membalikkan badannya.


"Aji Pemusnah Raga.., bang.., bang.." keluar teriakan keras dari mulut Sudiro. Sekejap gulungan api berwarna merah dikirimkan Sudiro dengan cepat, dan pemimpin yang sedang dalam posisi mengejar itu tidak dapat menghindari serangan.


"Bukk.., bukk.." bertubi-tubi gulungan api itu menyerang ke dada pemimpin gerombolan Alap-alap.


Tubuh pemimpin itu terhempas ke belakang, tapi sebelum tubuh itu terjatuh, sebuah serangan balasan sempat dikirimkannya. Saat Sudiro terkejut melihat serangan itu, seseorang dengan kecepatan kilat menyelamatkannya dari belakang. Orang tersebut menyambar dan mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.


"Terima kasih Wisang.., untung dengan cepat kamu menyelamatkan aku. Jika tidak.., aku akan dapat menjadi korban penyerangan pemimpin itu." ucap Sudiro setelah dia mengetahui jika Wisanggeni sudah menyelamatkannya.


"Hadapi anak buah orang itu! Aku akan menuntaskan pemimpin itu!" Wisanggeni memberi perintah pada Sudiro, dengan cepat dia melompat kembali ke hadapan pemimpin yang masih kesakitan memegangi badannya.


"Kekuatan tenaga Pasopati keluarlah...!" teriak keras keluar dari mulut Wisanggeni, dan sebuah kekuatan deras yang tidak bisa dibendung mengalir deras menuju ke arah pemimpin gerombolan Alap-alap itu.


Mata pemimpin itu terbelalak, saat matanya melihat adanya aliran kekuatan menuju ke arahnya.


Sudiro terpana melihat kekuatan Wisanggeni, tetapi setelah tersadar laki-laki itu langsung mengumumkan kemenangan mereka pada anak buah pemimpin itu.


"Dengar kalian semua! Pemimpin kalian sudah hancur lebur tanpa sisa. Apakah kalian masih mau bertahan untuk melakukan penyerangan pada kami, ataukah mau sadar dan bergabung dengan kami?" dengan suara lantang, Sudiro berteriak.


Beberapa anak buah Gerombolan Alap-alap terdiam dan saling memandang. Tapi,..


"Duarr.., duarrr.., duarr.." ternyata para anak buah itu langsung menghancurkan diri semua tanpa ada yang selamat.


Wisanggeni dan Sudiro hanya menatap kehancuran mereka tanpa bisa berkata-kata.


******


Di sisi lain, terlihat Niken Kinanthi bertemu dengan orang-orang dari perguruan lain yang juga akan menyerang Gerombolan Alap-alap. Setelah terlibat pembicaraan di antara mereka, Niken Kinanthi mengajak mereka untuk bergabung.

__ADS_1


"Apakah kamu tahu dimana sebenarnya posisi keberadaan mereka Niken?" tanya laki-laki muda yang bernama Anggoro.


"Menurut batu yang diberikan pemimpin kami, saat ini Gerombolan Alap-alap berada disini." Niken Kinanthi menunjukkan batu identitas penunjuk arah pada Anggoro.


Anggoro terkagum-kagum melihat kelompok yang dipimpin Niken Kinanthi ternyata mengetahui arah yang akan mereka tuju dan datangi. Tidak seperti mereka yang hanya bermodal tekad saja.


"Hebat juga pemimpin Aliansi Waspodho. Dia memiliki batu ini, aku yakin pemimpinmu memiliki kekuatan tidak terbatas." Anggoro memuji Cokro Negoro, meskipun dia belum mengetahui identitas dari laki-laki itu.


Niken Kinanthi hanya tersenyum menanggapi kekaguman laki-laki itu. Dia kembali mengambil batu itu, kemudian menyimpannya kembali.


"Kita akan berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh batu tadi. Dengan kamu yang sudah memutuskan bergabung dengan kami, maka berarti kamu dan semua anak buahmu akan mengikuti aku. Apakah kamu sanggup kakang Anggoro?" tanya Niken Kinanthi.


Dengan mantap, Anggoro menganggukkan kepala.


"Jika begitu.., atur dan arahkan pada semua anak buahmu! Aku yakin mereka akan lebih mendengarkanmu..., daripada mendengarkan suaraku." lanjut Niken Kinanthi. Perempuan muda itu kemudian memberi isyarat pada semua anggota kelompoknya dengan menggunakan tangannya, dan orang-orang yang dia bawa langsung bergegas mengikuti kepergian Niken Kinanthi.


Melihat Niken Kinanthi sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya, Anggoro segera mengumumkan pada semua anak buahnya untuk bergabung dengan kelompok yang dipimpin perempuan tersebut.


"Syuttt.." dengan sekali lompat, Anggoro sudah berjalan disamping Niken Kinanthi.


"Sudah beres kakang?" tanya Niken pada laki-laki itu.


Anggoro tersenyum dan menganggukkan kepala. Laki-laki itu merasa bangga bisa menempuh perjalanan dengan gadis secantik itu.


"Anak buahku sudah mengetahui kehebatanmu Niken.., mereka langsung menyetujui untuk bergabung dengan kelompokmu." ucap Anggoro sambil mensejajarkan langkahnya dengan putri dari Klan Suroloyo itu.


Niken Kinanthi hanya tersenyum, kemudian mereka berjalan cepat menuju arah yang ditunjukkan oleh batu identitas itu. Anak buah Anggoro kemudian bergabung dengan kelompok Niken Kinanthi, dan mereka segera mengikuti langkah para pemimpinnya.


********

__ADS_1


__ADS_2