Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 66 Tersadar Kembali


__ADS_3

Perginya Wisanggeni tanpa kabar berita membawa keberuntungan bagi kakak keduanya. Laki-laki memiliki kesempatan lebih untuk dekat dengan Larasati. Perempuan itu sudah tidak malu-malu lagi dalam memperlakukan Lindhuaji meskipun di depan anak buah dari Klan Bhirawa. Meskipun Larasati belum pernah mengucapkan kata atau kalimat jika dia juga menyukai putra kedua dari Ki Mahesa, tetapi tindak tanduknya sudah mengisyaratkan bahwa sudah ada chemistry antara keduanya.


"Kang Aji.., makanlah dulu! Laras sudah menyiapkannya untuk Akang di meja makan." suara merdu Larasati meminta Lindhuaji untuk makan pagi bersama.


"Baik Nimas Laras, tapi kamu temani Akang ya!" kata Lindhuaji tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


Perempuan itu menganggukkan kepalanya, kemudian Lindhuaji segera berdiri. Laki-laki itu merangkul pinggang Larasati dengan menggunakan tangan kanannya. Larasati menoleh kemudian tersenyum, kedua insan itu segera memasuki ruang makan secara bersama-sama.


"Pagi ini Laras masak nasi merah Akang, hasil kiriman dari keluarga yang ada di pojok kota. Beberapa waktu lalu, keluarga itu meminta pada kita untuk mengantarkan putranya pergi ke kota seberang untuk menuntut ilmu. Karena puas dengan kinerja anak buah kita, selain membayar mahar, mereka juga mengantar beberapa kebutuhan pokok." Larasati bercerita sambil menuangkan nasi beserta lauk dan sayur ke piring Lindhuaji.


Orang yang tidak tahu jika melihat mereka, seperti pasangan suami istri yang sedang menikmati makan bersama. Orang-orang yang tinggal di padhepokan itu sudah terbiasa melihat pemandangan itu setiap hari. Mereka membiarkannya, karena mereka juga paham dengan perasaan Lindhuaji untuk Larasati.


"Nimas.., apakah kamu sudah mempertimbangkan ajakanku?" di sela-sela makan, Lindhuaji meminta kepastian dari Larasati.


Semburat merah hinggap di pipi gadis itu, dia menundukkan kepalanya tidak menjawab pertanyaan Lindhuaji.


"Baiklah jika kamu tidak mampu menjawabnya Nimas. Aku akan setia untuk menunggumu, sampai kapanpun." ucap Lindhuaji sambil tersenyum pahit. Dia masih memandangi wajah Larasati dengan tatapan sayu.


"Aku takut mengecewakan kang Aji. Sampai saat ini, Laras belum tahu isi hatiku sendiri. Jujur Kang.., aku pernah mengharap dan berpikir jika Kang Wisang akan memilihku. Ternyata ada seorang gadis yang lebih bening, yang sudah hinggap lebih dulu di hati Kang Wisang." ucap Larasati lirih. Matanya menerawang jauh entah kemana.


Wisanggeni kembali menatap mata Larasati. Dia berusaha menelisik jauh ke dalam hati perempuan itu, tetapi Larasati masih belum mau membuka hati untuknya.

__ADS_1


"Hubungan kedekatan emosional antara Wisanggeni dengan Nimas Rengganis sudah terjalin sejak mereka kecil Laras. Mereka selalu bersama, dan tumbuh bersama sejak usia mereka 7 tahun. Meskipun ibunda pernah membuat janji pertunangan dengan Niken putri dari Ki Brahmana, tetapi ikatan batin antar mereka tetap kuat." Lindhuaji kemudian bercerita tentang kedekatan antara Wisanggeni dan Rengganis.


"Laras akan mencoba menghapuskan rasa untuk Kang Wisang. Maukah Kang Aji lebih sabar untuk menunggu Laras?" tanya Larasati sambil menatap mata Lindhuaji.


Putra kedua Ki Mahesa itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepala. Dia bertekad untuk menunggu perempuan itu,  sampai hatinya terbuka untuknya.


"Aku akan menunggu sampai kamu siap Nimas, tolong jangan patahkan semangatku!" ucapnya pelan.


***************


Di depan sebuah gua yang penuh dengan lumut, terlihat beberapa binatang merayap mondar mandir menjaga pintu gua dari jamahan makhluk asing. Jauh ke dalam, terdapat istana ratu ular yang penuh dengan kemewahan. Pada sebuah kamar, terlihat sebuah tubuh yang hitam terbakar sedang terbaring di atas badan seekor naga yang sedang melingkar. Persis terlihat seperti induk ayam yang sedang mengerami telurnya.Posisi itu sudah berlangsung selama berminggu-minggu.


"Kembalilah putraku.., belum saatnya kamu menuju ke tempat itu!" dalam matanya, Wisanggeni melihat wajah ibunya dengan senyum terhias di mulutnya berada di depannya.


"Tapi Wisang ingin pergi ke tempat ibunda, ingin merasakan hangatnya kembali dipeluk oleh ibunda." ucap Wisanggeni dengan tatapan memohon.


Perempuan itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Wisanggeni. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, tangan lembut ibunda membelai rambut Wisanggeni. Sesekali kecupan di kening Wisanggeni diberikan oleh wanita itu, yang masih terlihat cantik dalam masa tuanya.


"Kamu harus pulang Wisang.., pulanglah dulu! Keluarga kita masih menunggumu untuk kembali, dan ibu juga akan kembali ke tempat peristirahatan." setelah beberapa saat memeluk Wisanggeni, ibunda kembali berbicara pada laki-laki muda itu.


Wisanggeni mengangkat wajahnya perlahan, dia belum puas merasakan pelukan dan kasih sayang dari ibundanya. Ibunda menganggukkan kepala, sambil tersenyum perlahan tubuh ibunda semakin menjauh terbang ke belakang. Tangan Wisanggeni berusaha menggapainya, tetapi semakin lama tubuh ibunda tidak tampak lagi di depannya.

__ADS_1


Tanpa  daya, Wisanggeni menangis meraung-raung memanggil ibundanya. Dia kembali lemas terkulai, dan saat kesadarannya akan hilang, laki-laki muda itu merasa ada yang menepuk-nepuk punggungnya.


"Bangunlah anak muda.., buka matamu! Jalanan berliku masih jauh ada di depanmu, lewati jalan itu!" seorang laki-laki tua berada di belakang Wisanggeni.


Wisanggeni menoleh ke belakang, dan melihat Cokro Negoro berdiri dengan gagah di belakangnya. Dia langsung memberi hormat pada gurunya itu.


"Guru.., akhirnya kita bertemu lagi. Terimalah salam dari murid yang hina ini Guru." Wisanggeni langsung memberi hormat pada Cokro Negoro.


Laki-laki tua itu tersenyum,  dia meletakkan telapak tangannya di kepala Wisanggeni. Mulutnya berkomat-kamit, dan sesekali mengusap kepala laki-laki muda itu.


"Anak muda.., kamu belum bisa lebih jauh masuk ke dunia ini. Kembalilah dulu ke tempatmu, masih banyak tugas yang harus kamu selesaikan dengan tanganmu! Bukalah matamu, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Ingat janjimu untuk merawat binatang kesayanganku, rawat Singa Ulung." suara Cokro Negoro bergema di seluruh ruangan, yang terdengar seperti membuat hati Wisanggeni menjadi tenang dan tentram.


Tidak lama kemudian, mata Wisanggeni perlahan mengerjap dan akhirnya dia membuka matanya. Tetapi laki-laki itu tidak bisa menggerakkan badannya. Dia merasa seluruh badannya terasa keras dan terikat seperti dihimpit oleh kayu. Tetapi dia merasa kehangatan menyelimutinya.


"Ada dimana aku saat ini, kenapa seluruh tubuhku hitam seperti arang?" gumam Wisanggeni. Dia melihat sekelilingnya, dan dia baru menyadari jika tubuhnya berada di dalam lilitan seekor naga besar.


Laki-laki muda itu sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota badannya yang lain, hanya matanya yang mengerjap dan melihat kesana kemari.


"Siapapun kalian yang ada disini, sampaikan padaku. Ada dimana saat ini aku berada?" merasa tidak bisa menahan rasa herannya, laki-laki muda itu berteriak.


****************

__ADS_1


__ADS_2