Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 278 Turun ke jurang Sendirian


__ADS_3

Mata Pangeran Abhiseka dan Widayat terbelalak melihat tebing di bawah mereka yang seperti terbuat dari batuan besi. Warna hitam mengkilat terkena sinar matahari, menandakan jika dinding tebing sangat licin. Sedangkan daratan di bawahnya, terlihat sangat jauh dengan banyak tumbuhan di atasnya. Tidak hanya kelompok mereka yang berpikir, terlihat di sekitar jurang itu juga banyak kelompok lain yang melakukan hal yang sama.


"Pangeran.., apakah kamu memiliki pendapat agar kita dapat menuruni tebing ini..?" dari belakang Niken Kinanthi bertanya pada Pangeran Abhiseka. Orang-orang melihat ke arah mereka.


"Aku sedang berpikir tentang itu Nimas.., rasanya sangat mustahil kita bisa menuruni tebing dengan selamat. Lihatlah.., dinding besi itu sangat licin, dan dengan sinar panasnya matahari memancar di dinding itu, aku yakin tidak akan yang berani untuk menahan panasnya dinding tersebut, Bagaimana menurutmu sendiri Nimas,,?" Pangeran ABhiseka balik bertanya pada Niken Kinanthi. Perempuan itu tersenyum kecut...


"Nimas memiliki selendang untuk digunakan sebagai alasan ketika kita melompat turun, tetapi dinding ini sangat licin dan juga sangat dalam, Selendangku tidak mungkin akan dapat menggapainya sampai ke dasar tebing. Kita harus memikirkan cara lain.." ucap Niken Kinanthi sambil melirik ke arah Wisanggeni,


Mata Wisanggeni menyipit, laki-laki itu terdiam. Dalam tatapan matanya, laki-laki itu mencoba untuk mengamati apa yang dilakukan oleh kelompok lainnya. Tiba-tiba ada dua orang dari kelompok lain yang mencoba menuruni tebing dengan menggunakan tali tambang. Semua mata yang ada di sekitar tebing, melihat pada kenekatan orang tersebut sampai menahan nafas.


"Aaaaawww...." tetapi tidak sampai genap lima detik laki-laki itu menginjakkan kakinya, tubuh laki-laki itu sudah terpental jauh ke belakang.


"Aaaaakkh.. tolong..." suara laki-laki itu berteriak minta tolong membuat orang begidik mendengarnya.


"Benar yang Pangeran katakan. Dinding itu memang sangat licin.., bagaimana kita akan melakukannya?" gumam Niken Kinanthi.


"Jika kita melompat terjun, dasar jurang ini hanya warna hijau yang terlihat dari atas sini. Kalaupun kita melompat, kita tidak akan tahu akhir dari nasib kita ke depannya." beberapa saat Wisanggeni berpikir tentang keselamatan yang harus dia jaga bersama kelompoknya.

__ADS_1


Tidak diduga naga terbang menggesek-gesekkan kepalanya ke arah Chakra Ashanka, dan anak muda itu hanya mengusap kepalanya saja. Tetapi semakin lama.., gesekan itu semakin sering, dan membuat Chakra Ashanka memandang ke mata binatang itu. Melihat hal itu, muncul ide pada Wisanggeni.


"Putraku Ashan.., apakah kamu memiliki keberanian putraku..?? Sepertinya naga terbang itu mengenali tempat yang ada di dasar jurang sana, binatang itu ingin mengajakmu ke bawah untuk memasukinya. Jika kamu memiliki nyali dan berani untuk masuk ke jurang itu, lakukanlah..!" ucap Wisanggeni pelan. Chakra Ashanka menatap ke wajah ayhndanya, dan laki-laki yang lebih tua itu menganggukkan kepalanya,


"Lalu bagaimana dengan ayahnda dan teman-teman pada kelompok kita ini ayah.., jika Ashan turun ke bawah lebih dahulu?" tidak memikirkan dirinya, Chakra Ashanka malah bertanya tentang keselamatan teman-temannya.


Wisanggeni tersenyum kemudian mendatangi anak muda itu. Sebuah elusan dilakukan laki-laki itu ke atas kepala anak muda itu, kemudian memberi ciuman di pucuk kepalanya, Meskipun putranya sudah besar, tetapi Wisanggeni masih sering memberikan perlakuan-perlakuan kecil seperti itu.


"Kami laki-laki yang dewasa, kami bisa berpikir bagaimana cara untuk dapat turun ke bawah. Hanya saja waktunya akan sedikit lebih lambat dari saatnya kamu turun ke bawah." ucap Wisanggeni pelan. Chakra Ashanka melihat satu persatu ke arah orang-orang yang ada di sekitarnya, dan mereka semua tersenyum menganggukkan kepalanya,


"Pergilah putraku..., ayahnda hanya menutup penglihatan orang-orang untuk beberapa saat saja." ucap Wisanggeni lirih.


Tidak membuang waktu, naga terbang merendahkan tubuhnya ke bawah. Tanpa pikir panjang, Chakra Ashanka langsung melompat ke atas punggung binatang kecil itu, dan tidak lama kemudian naga terbang sudah membawa putra Wisanggeni itu turun menukik ke bawah.


***********


Di atas punggung naga terbang, Chakra Ashanka yang sudah terbiasa terbang di atas punggung Singa Ulung maupun Singa Resti segera dapat menyesuaikan diri. Sesaat meninggalkan orang tua dan harus berada di tempat yang baru sendirian membuat hatinya sedikit was-was. Tetapi begitu menatap naga terbang yang membawanya, tiba-tiba hatinya  menjadi hangat, Binatang kecil itu terlihat menguasai daerah di bawah sana.

__ADS_1


"Kemana kamu akan membawaku naga terbang..., aku harap kamu tidak akan menyesatkanku.." ucap lirih Chakra Ashanka sambil berpegang erat pada tubuh binatang itu.


"Ssshhh..., roarr..." seperti memahami apa yang diucapkan oleh anak muda itu, naga terbang itu membalas perkataan Chakra Ashanka. Anak muda itu tersenyum, dan rasa hangat mengalir di dadanya.


Naga terbang itu terus menuruni ke bawah jurang, dan sebuah kabut asap menghalangi pemandangan di depan Chakra Ashanka. Anak muda itu tidak bisa lagi melihat ke arah atas, dia betul-betul hanya sendiri bersama dengan naga terbang. Tetapi keyakinan tumbuh dalam hatinya, jika binatang itu tidak akan mencelakakannya,


Tidak lama kemudian, naga terbang mendaratkan kakinya di atas sebuah batu besar yang datar. Sambil mengucek matanya, Chakra Ashanka mengucek-ucek matanya. Dari atas batu, anak muda itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Hanya tampak sebuah hutan dengan banyak pepohonan, tetapi begitu anak muda itu membalikkan badannya, matanya menatap sebuah goa yang berada di belakang tempatnya berdiri. Mata Chakra Ashanka mencoba memindai apa yang di temukan di dalamnya,


"Naga terbang..., apakah kamu akan membawaku masuk ke dalam goa itu...?" dengan berbisik, anak muda itu bertanya pada binatang di depannya.


Naga itu menganggukkan kepalanya, kemudian tubuhnya dengan gesit menuruni batu besar dan melata menuju ke arah goa. Setelah menengadahkan tangan ke atas sebentar untuk meminta perlindungan pada Hyang Widhi;..., perlahan Chakra Ashanka menapakkan kaki mengikuti binatang itu. Pada saat anak muda itu mengikuti naga terbang mendekati goa, anak muda itu seperti merasakan banyak tatapan mata yang mengikutinya dari sekelilingnya.


"Siapa mereka naga terbang..., aku merasa ada yang melihatku dari sekitar tempat ini. Tetapi aku tidak berani untuk memberi mereka tatapan balik." Chakra Ashanka mempercepat langkahnya, bergegas berjalan di samping naga terbang itu.


Naga terbang tidak menjawab, binatang itu terus maju ke depan. Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di depan pintu goa tersebut. Naga terbang terdiam beberapa saat, tidak langsung memasuki goa itu. Lidahnya menjulur keluar seakan memeriksa apakah tempat itu bisa mereka masuki.


***********

__ADS_1


__ADS_2