
Manggala dan Prayudha saling berpandangan, mereka kemudian menganggukkan kepal dan berpencar. Matanya diedarkan ke sekeliling area, melihat-lihat apakah ada sesuatu yang pantas untuk mereka curigai. Tiba-tiba Prayudha menangkap sekelebat laki-laki muda yang sedang duduk santai di atas dahan pohon. Tanpa memberi tahu Manggala, laki-laki itu dengan cepat memanjat naik ke atas pohon tersebut.
"Siapa kamu..., budak dari Wisanggenikah?? Berani-beraninya kamu mendatangiku disini." tidak diduga, ternyata laki-laki muda itu mengetahui dan tampak menunggu kedatangan Prayudha untuk sampai diatas. Senyuman sinis tampak terlihat di bibir laki-laki tersebut.
"Apa maksudmu..., dan ceritakan tujuanmu untuk berada di atas pohon ini. Sepertinya aku tidak keliru, jika aku mencurigai keberadaanmu disini." Prayudha memberanikan diri bertanya balik pada laki-laki itu.
"Ha.., ha.., ha.., apa yang akan kamu andalkan untuk menangkapku anak muda?? Dari gerakan kakimu saat memanjat pohon ini saja, secuil dasar kekuatan kaki saja belum kamu kuasai. Berani-beraninya kamu menggertakku." ternyata laki-laki itu dapat mengetahui jika Prayudha memang hanya menggunakan tenaga saja, tetapi tidak dilandasi dengan pengetahuan tentang kanuragan. Tetapi imbalan yang ditawarkan Wisanggeni sangat menggiurkannya, sehingga pantang bagi Prayudha untuk berbalik arah dari laki-laki itu.
"Aku tidak membutuhkan landasan kekuatan kanuragan untuk mencurigaimu Ki Sanak. Tolong jangan mempersulitku.., apa tujuanmu berada disini. Apakah kamu tahu.., siapa yang sudah melempar pisau pada Ketua perguruan Gunung Jambu?" Prayudha kembali bertanya pada laki-laki itu. Tanpa diketahui.., tiba-tiba sekelebat pisau tajam tiba-tiba terlempar ke arah Prayudha, dan saat laki-laki itu terkejut, untungnya pisau itu menancap di batang pohon tempatnya berada. Wajah Prayudha menjadi pucat pasi, dia tidak berpikir akibatnya jika pisau tadi menancap pada kulitnya.
"Hanya segitu ya kemampuanmu, ternyata tidak salah aku menebakmu. Dasar kekuatanmu memang sangatlah rendah..., kamu memang layak untuk aku jadikan mainan. Pisauku membutuhkan tempat untuk menancapkan diri." laki-laki itu mendekat ke wajah Prayudha, dan jari-jari tangannya mengusap wajah anak muda itu. Prayudha semakin pucat, tetapi badannya sudah mentok menempel di batang pohon, dia sudah tidak dapat memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Clap.." ternyata laki-laki itu tidak melukai Prayudha.., dia hanya menarik kembali pisau yang tertancap di batang pohon. Melihat selendang berkelebat di belakang laki-laki itu, muncul ide di pikiran Prayudha. Tanpa diketahui laki-laki itu, dengan kecepatan tangannya, Prayudha mengikatkan selendang itu pada dahan yang digunakan sebagai pijakan kaki laki-laki itu.
Tanpa sadar, setelah mendapatkan kembali pisau di tangannya, laki-laki itu berniat untuk melompat ke dahan pohon yang ada di sebelahnya. Tetapi tiba-tiba...'
__ADS_1
"Sreet..., braak.." celana yang dikenakan laki-laki itu tiba-tiba tertarik ke bawah. Tanpa diduga laki-laki itu kembali melompat mundur ke belakang, dan kaki Prayudha mengirimkan tendangan ke betis laki-laki itu. Tubuh laki-laki itu terpental, untungnya ikatan selendang Prayudha pada dahan itu kuat, sehingga tubuh laki-laki itu tidak jadi terjatuh ke bawah.
"Kurang ajar..., kotor juga pikiranmu anak muda." laki-laki itu berteriak marah pada Prayudha, tetapi Prayudha hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menolong laki-laki itu. Tidak ada pilihan lain, laki-laki itu mengambil pergelangan tangan Prayudha kemudian kembali melompat ke atas.
***********
Merasa jika Prayudha bukan merupakan seorang musuh, laki-laki itu duduk di samping Prayudha. Mereka masih berada di atas dahan pohon tersebut. Keduanya terdiam, dan melihat seleksi pengumpulan murid baru masih berlangsung di bawah. Tidak berapa lama...,
"Kenalkan namaku.. Tunggul Amerta.. " tiba-tiba laki-laki itu menoleh pada Prayudha, kemudian mengenalkan dirinya. Genggaman tangannya diacungkan ke arah Prayudha, dan setelah menatap mata laki-laki itu yang tidak menunjukkan sikap bermusuhan, Prayudha juga mengacungkan genggaman tangannya. Kedua genggaman tangan itu saling beradu.
"Kenapa kamu melempar pisau pada Den Bagus Wisanggeni? Apakah laki-laki itu pernah berbuat salah padamu, atau pernah menyakiti anggota keluargamu??" Prayudha menanyakan alasan Tunggul Amerta melempar pisau ke arah Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum kecut.., tetapi setelah beberapa saat.
"Aku kecewa dengan laki-laki itu.., karena dia aku kehilangan kakak perempuanku." Prayudha terkejut mendengar perkataan laki-laki yang berada di sampingnya itu.
"Gara-gara laki-laki itu.., aku tidak dapat menemukan keberadaan kakakku. Sudah lama aku berkeliling wilayah ini untuk mencarinya, akhirnya aku menemukan informasi dimana keberadaan laki-laki ini. Dan ternyata.., saat ini laki-laki itu sudah menjadi pemimpin sebuah pesanggrahan yang diminati banyak orang untuk bergabung di dalamnya." tanpa diminta, Tunggul Amerta bercerita bagaimana dia sudah mencari Wisanggeni.
__ADS_1
"Tetapi menurutku.., tindakanmu juga tidak didasarkan pada akal sehat. Seharusnya kamu menemui Den Bagus secara baik-baik terlepas dari masalahmu, bukan malah menjadi seorang pecundang dengan mengirimkan serangan padanya." merasa meragukan cerita laki-laki itu, Prayudha mengarahkan agar Tunggul Amerta langsung menanyakan permasalahannya pada Wisanggeni, bukan malam mengirim sebuah serangan. Tunggul Amerta kembali terdiam..
"Apakah kamu bisa membantuku Yudha..., kamu membantuku untuk bertemu dengan laki-laki yang bernama Wisanggeni itu?" tiba-tiba Tunggul Amerta meminta Prayudha untuk membantunya. Tanpa berpikir, Prayudha menganggukkan kepalanya, dia menyetujui permintaan laki-laki itu. Prayudha merasa, ada kesalah pahaman antara pemikiran laki-laki itu dengan kejadian yang sebenarnya.
"Aku akan mengantarmu.., ikutlah denganku sekarang!" Prayudha langsung bersiap turun dengan merambat pada batang pohon itu. Tunggul Amerta tersenyum melihat cara Prayudha turun, tetapi dia tidak melakukan apa-apa. Setelah melihat Prayudha sudah berada di separuh batang pohon itu, Tunggul Amerta melompat turun dan sampai di bawah mendahului sampainya Prayudha.
"Lihat saja.., tidak lama lagi aku akan mengunggulimu, setelah aku bergabung dengan pesanggrahan Gunung Jambu." ucap Prayudha setelah dia sampai di bawah, dengan polosnya dia berkata pada Tunggul Amerta.
Baru saja Prayudha akan menggandeng tangan Tunggul Amerta, dan akan mengajaknya untuk menemui Wisanggeni, terlihat Manggala kakaknya berjalan menuju ke arahnya.
"Yudha..., dari mana saja kamu?? Aku gagal menemukan orang yang sudah melempar pisau ke arah Den Bagus." melihat Prayudha, Manggala langsung mengajak adiknya itu berbicara.
"Tidak masalah siapa yang bertemu dengan orang itu Kang.., salah satu dari kita saja, Den Bagus akan menerima kita. Ayo Kang..., temani aku untuk menemui Den Bagus." tanpa memberi tahu Manggala, Prayudha mengajak kakangmasnya itu untuk bersama-sama menemui Wisanggeni. Tunggul Amerta melihat ke arah dua laki-laki muda itu.
"Tunggul.., ini kakakku Manggala. Kang Manggala.., kenalkan ini temanku Tunggul Amerta." untuk mencegah Tunggul Amerta meninggalkannya, Prayudha mengenalkannya pada Manggala. Kedua laki-laki itu kemudian menyentuhkan genggaman tangan mereka.
__ADS_1
*************