Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 142 Adu Kekuatan


__ADS_3

Ki Sasmita, Jagasetra dan orang-orangnya langsung datang menyelamatkan perempuan dan anak-anak. Mereka merupakan kaum lemah, yang hanya mengikuti apa yang sudah disuruh oleh Ketua. Ketidak mampuan mereka untuk menguasai ilmu kanuragan, menjadikan mereka seperti orang-orang jajahan.


"Amankan mereka di rumah-rumah penduduk..!" Jagasetra memerintahkan anak buahnya untuk memberikan pertolongan. Dengan sigap orang-orang Jagasetra menjalankan perintah itu, karena bagaimanapun mereka berpikir jika mereka adalah satu keluarga. Hanya karena ketamakan Laksito, mereka harus menjadi korban ketidak adilan.


"Terima kasih Ki Sanak.., kami akan mengingat jasa baik Ki Sanak." perempuan-perempuan itu kemudian menggandeng anak-anak mereka, segera mengikuti orang-orang Jagasetra. Setelah memastikan perempuan dan anak-anak terlindungi dengan baik, Jagasetra dan beberapa orang yang masih tersisa segera menyisir tempat pertempuran yang sudah dilakukan oleh orang-orang Sentono. Melihat banyak tubuh bergelimpangan, laki-laki muda itu hanya menghela nafas. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun, karena dalam kondisi perang, jatuh korban dari kedua belah pihak memang tidak akan dapat dihindarkan.


"Sisir tempat ini, selamatkan orang-orang yang masih bisa diselamatkan! Obati dan rawat mereka dengan baik." Ki Sasmita memerintahkan orang-orang untuk menyelamatkan orang-orang yang masih hidup. Wajahnya yang tua semakin bertambah tua, rasa prihatin akan mengadu domba orang-orang Jagadklana jika ada peperangan benar-benar terjadi di depan matanya. Asalkan warga masyarakat tetap hidup aman dan sejahtera, sebenarnya Ki Sasmita akan merelakan posisinya sebagai Ketua Trah. Tetapi karena penindasan dan kesewenang-wenangan Laksito, menjadikannya harus mengambil alih posisi.


"Baik Ketua.." orang-orang yang datang bersama mereka, segera berpencar untuk mengecek orang-orang yang bergelimpangan. Mereka yang sudah tidak memiliki nafas, dikumpulkan menjadi satu, dan yang masih terdeteksi ada kehidupan, segera dialirkan tenaga dalam.


Setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu dan tenaga disitu, Ki Sasmita diikuti Jagasetra di belakangnya segera memasuki pendhopo utama.


"Apakah kamu berpikir jika Laksito akan berada di pendhopo utama ini Setra?" Ki Sasmita berbicara perlahan pada Jagasetra. Laki-laki paruh baya itu memiliki keraguan jika Laksito akan mau bertempat tinggal di kamar yang biasanya dia gunakan untuk istirahat.


"Tidak Ketua.., lihatlah kamar yang biasa digunakan Ketua untuk beristirahat saat ini sudah hancur. Tidak mungkin, orang-orang kita dapat semudah itu mengalahkan Laksito." Jagasetra menanggapi perkataan Ki Sasmita, sambil menunjuk dinding yang berlubang. Ki Sasmita segera mendatangi kamar tempat peristirahatannya yang dulu, kemudian masuk di dalamnya. Meskipun dinding kamar itu sudah hancur, aroma wewangian masih jelas dapat terendus disitu.

__ADS_1


"Sepertinya kamar ini ditempati perempuan Setra.., kita harus memeriksa tempat-tempat yang lain. Siapa tahu ada bangunan baru di tempat ini, yang digunakan Laksito untuk beristirahat." ucap ki Sasmita pelan. Jagasetra menengok keluar dinding yang jebol, matanya terbelalak melihat Cempluk teman Rengganis terbaring di atas tanah. Laki-laki itu kemudian keluar dan menundukkan badannya. Jari tangannya dia letakkan di depan hidung Cempluk, kemudian memegang pergelangan tangannya. Tetapi sudah tidak ada nafas kehidupan di tubuh perempuan itu, dan Jagasetra hanya menghela nafas.


"Siapa yang kamu temukan Setra?" suara Ki Sasmita di belakangnya, sedikit mengagetkan Jagasetra.


"Cempluk Ketua.., tetapi sayang nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Sepertinya Cempluk terkena kekuatan Bayu Manunggal dari Nimas Rengganis Ketua." Jagasetra melaporkan hasil temuannya. Ki Sasmita tersenyum kecut, laki-laki tua itu tidak bisa menyalahkan putrinya. Dalam keadaan seperti ini, tidak bisa dicari yang benar dan yang salah.


*************


"He..., he..., he.., ternyata calon istriku sudah mengantarkan tubuhnya kemari untuk menemuiku." Laksito tersenyum, melihat kedatangan Rengganis di tempat peristirahatannya. Ternyata benar seperti yang dipikirkan Ki Sasmita, Laksito tidak menempati ruang beristirahatnya dulu. Tetapi laki-laki itu malah menempati bangunan ruang, biasa digunakan untuk putrinya Rengganis jika putrinya kembali ke Jagadklana.


"Wah ternyata rejeki benar-benar mendatangiku. Bukan hanya Nimas Rengganis putri Ki Sasmita yang menyerahkan dirinya dengan suka rela, ternyata ada gadis muda yang cantik yang ikut di belakang Nimas Rengganis." dengan tertawa menjijikkan, Laksito berbicara pada Rengganis dan Maharani.


"Kekuatan Inti Naga..." dengan mata berkilat, tanpa diduga Maharani mengirimkan kekuatan pada Laksito. Sebuah serangan berwarna api.. yang terlihat merah mengarah pada Laksito. Dengan perasaan marah, Laksito menggeser tubuhnya ke samping, dan..


"Blamm...., pyarrr..." tanpa Rengganis dan Maharani ketahui, ternyata Laksito mengirimkan serangan ke arah Maharani. Tetapu serangan itu langsung hancur, karena langsung dihadang kekuatan Wisanggeni. Dengan tatapan marah, Wisanggeni berdiri di depan Maharani.

__ADS_1


"Jangan hanya berani bertingkah di depan perempuan Laksito.. Hadapi aku.., akulah yang akan menjadi lawanmu." dengan nada tinggi Wisanggeni berbicara pada Laksito. Tatapan matanya dengan tajam melihat pada laki-laki itu. Rengganis langsung menempatkan dirinya di samping Maharani, sehingga keduanya saat ini berada di belakang suaminya.


"Ha..., ha..., ha... ternyata kamu lagi, kamu lagi.. Wisanggeni. Urusi sendiri Trahmu Bhirawa.., dengar-dengar nama Bhirawa saat ini hanya tinggal nama ya?? Makanya kamu petentang petenteng berkeliaran di Jagadklana. Ha.., ha.., ha..." dengan tertawa terbahak-bahak, Laksito mengejek Wisanggeni.


Merasa tidak bermanfaat melakukan pembicaraan dengan laki-laki itu, kedua tangan Wisanggeni langsung membentuk segel dan langsung diarahkan ke tubuh Laksito. Ledakan keras terjadi, meskipun Laksito bisa menghindari serangan itu, tetapi lengan kirinya langsung gosong terserempet serangan Wisanggeni. Dengan mata merah, Laksito langsung melompat ke depan Wisanggeni, sambil mengirimkan serangan ke belakang laki-laki muda itu.


"Sretttt..." Singa Ulung tiba-tiba datang dan menyambar Rengganis dan Maharani dengan keempat kakinya. Binatang itu menyelamatkan kedua perempuan itu, saat Laksito akan mengirimkan serangan pada keduanya.


"Kamu berani memancing masalah denganku Laksito... terimalah ini!! Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku selamatnya. Telapak Naga Membelah Daratan.... blammmm." sambil berteriak keras, Wisanggeni melompat sambil mencoba kekekuatan ajian yang dipelajarinya di gua Maharani.


"Kraaaakkkkk... uukh.., tinju petir..." sambil menahan dadanya yang terkena serangan Wisanggeni, Laksito mengeluarkan kekuatannya untuk menahan gempuran serangan dari Wisanggeni.


"Duaarr..., boom....." kembali benturan dua kekuatan beradu menjadi satu. Bangunan yang digunakan sebagai tempat beristirahat  Laksito, seketika hancur terkena dampak dari benturan kekuatan tersebut. Orang-orang menjauh dari lokasi pertarungan, tidak ada yang berani untuk melihat di dekatnya.


Wisanggeni masih tegak berdiri, tampak pusaran panas masih berada di genggaman tangannya, sedangkan Laksito mundur beberapa langkah ke belakang. Dari sudut mulut Laksito menetes darah ke bawah.

__ADS_1


*************


__ADS_2