
Melihat Gayatri dan Niluh mengikat tubuh selir kerajaan, laki-laki yang tadi berhubungan intim dengan perempuan tersebut menatap kedua gadis muda itu dengan tatapan membunuh. Dengan cepat tangannya membentuk simbol, dan tanpa peringatan sedikitpun, laki-laki itu mengirimkan serangan ke arah Gayatri dan Niluh...
"Ajian Tapak Maut..., keluarlah.." tapak tangan laki-laki tersebut tiba-tiba membesar dan memanjang, Tidak ada yang mencegah.., tangan tersebut mengarah ke dua gadis muda yang sedang mengikat tangan selir kerajaan.
"Blaamm..., blamm..." benturan tapak tangan itu beradu dengan perisai api yang muncul di depan Wisanggeni. Tanpa banyak bicara, melihat kedua saudara perempuannya berada dalam ancaman bahaya.., Wisanggeni langsung melompat dan menerima tapak tangan itu dari tangan laki-laki punggawa kerajaan itu.
"Shuttt..., bang..., bang..." punggawa kerajaan itu menarik kembali tangannya ke belakang, kemudian kembali mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni.
"Apa lagi yang akan kamu kirim padaku Ki Sanak.., blasssh..." sambil tersenyum sinis, Wisanggeni kembali menahan serangan punggawa itu, dan tidak lama..
"Aduh..., keparat kamu.." punggawa kerajaan itu tiba-tiba mundur dan terjatuh ke belakang. Orang-orang yang dibawa punggawa itu, maju menghalangi ke depan punggawa tersebut. Mereka khawatir jika Wisanggeni akan mengirimkan serangan ke arah punggawa tersebut.
Pangeran Abhiseka tersenyum, laki-laki itu berjalan mendatangi Wisanggeni dan akhirnya berdiri di samping putra Ki Mahesa itu. Tatapannya menatap ke sekeliling, dan melihat siapa saja orang-orang dari kerajaan yang ikut berembug untuk melakukan tindakan makar pada ayahndanya. Beberapa orang dari selir kerajaan menundukkan kepala, mereka tidak menyangka jika dalam waktu singkat Pangeran Abhiseka sudah mencium gelagat dan rencana mereka.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya Pangeran..., apakah kita akan menghabisi semua orang ini disini, ataukan akan kita seret semuanya ke hadapan Baginda raja?" Wisanggeni bertanya pada Pangeran Abhiseka sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Jika mereka mati di tempat ini, terlalu mudah bagi mereka untuk menjalaninya Wisang. Aku ingin menyeret dan mempermalukan mereka di hadapan rakyat. Mereka harus menerima pelajaran yang setimpal dari perbuatan mereka, dan sekaligus memberi pelajaran pada semua rakyatku." ucap Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan Wisanggeni, dan orang-orang yang dibawa selir kerajaan terlihat pucat pasi. Mereka hanya tergiur tawaran kenikmatan sesaat, dan belum sampai mereka merasakan kenikmatan itu, tingkah laku mereka sudah diketahui oleh Pangeran Abhiseka.
"Apakah kalian ada yang mau bertobat.., atau akan mengikuti orang yang sudah menyengsarakan kalian semua?" suara keras Wisanggeni terdengar di telinga orang-orang yang ada disitu. Beberapa orang saling berpandangan, dan tidak lama kemudian sebelas orang maju dan berlutut di depan Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka.
"Bang.., bang..., bang..., dasar pengkhianat kalian semua." punggawa kerajaan mengirimkan serangan kepada sebelas orang yang berlutut di depan Pangeran Abhiseka. Tampak kemarahan menguasai wajah laki-laki itu..,
"Jangan berani bermain api denganku..., blaaammm.." tanpa ditahan sedikitpun, serangan Wisanggeni digunakan untuk menghalau serangan tersebut. Punggawa kerajaan langsung memegang dadanya, dan darah segar muncrat dari mulutnya. Dua orang di depan punggawa langsung menghunus pedang di tangannya, dan berlari ke arah Wisanggeni. Dengan cepat, Pangeran Abhiseka melemparkan cemeti dan pedang dua orang itu tiba-tiba terbelit cemeti itu dan tidak bisa digerakkan.
"Krek.., aaww..." tangan Wisanggeni meraih tangan kedua orang itu, dan terdengar bunyi suara tulang yang patah dari dua orang tersebut.
"Lepaskan mereka Pangeran..., mereka tidak bersalah. Hiks..." terdengar jeritan menyayat hati dari selir kerajaan meminta pengampunan untuk punggawa dan orang-orangnya.
"Seret mereka semua.., kita akan segera melanjutkan perjalanan kita ke kerajaan." suara Pangeran Abhiseka menyadarkan mereka. Dengan cepat, orang-orang yang bersama dengan Pangeran, langsung mengikat punggawa dan tiga orang yang masih membandel. Orang-orang yang semula berada di pihak selir kerajaan membantu orang-orang Pangeran Abhiseka.
************
__ADS_1
Tidak memperhatikan wajah kelelahan dan ketakutan dari Selir kerajaan beserta orang-orangnya, Pangeran Abhiseka bersikeras melanjutkan perjalanan. Gayatri dan Niluh tanpa bersuara mengawal di belakang selir kerajaan, yang terlihat berantakan di wajahnya. Rambut yang semula tergelung dengan rapi, saat ini berubah menjadi awut-awutan, dan pakaian yang banyak kotor terkena darah dan tanah.
"Berapa lama lagi kita akan bisa melewati hutan ini Wisang..?" dengan suara pelan, Pangeran Abhiseka bertanya dengan Wisanggeni.
"Tidak lama lagi Pangeran, sebelum malam kita sudah akan sampai di desa terawal yang paling dekat dengan hutan ini. Jika kita melanjutkan perjalanan, tengah malam kita akan bisa memasuki kerajaan." Wisanggeni menjawab pertanyaan Pangeran Abhiseka. Mereka terus berjalan kaki, tanpa istirahat sedikitpun. Bahkan mereka mengunyah makanan kering dan meneguk minuman, mereka lakukan sambil berjalan kaki. Untungnya keberadaan Singa Ulung bersama dengan mereka, telah menekan kekuatan binatang magic yang ada di hutan itu. Sehingga mereka bisa melintasi hutan itu, tanpa ada gangguan dari binatang buas.
"Kita tidak akan beristirahat di desa itu Wisang. Aku yakin, ayahnda sudah mengirimkan kereta kuda untuk menjemput kita di desa terdekat dengan hutan. Pengawalku sudah mengirim kabar ke ayahnda melalui merpati di desa terakhir yang kita jumpai." Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan Wisanggeni.
"Baik Pangeran.., aku dan saudaraku akan mengikuti titah yang Pangeran sampaikan. Dan aku sampaikan dari sekarang, jika aku dan saudaraku mohon ijin untuk langsung menuju kota Laksa, untuk segera bertemu dengan keluarga kami. Jadi di desa tersebut, kita akan berpisah." Wisanggeni menyampaikan keinginannya untuk berpisah di desa yang akan mereka jumpai setelah keluar dari dalam hutan. Pangeran Abhiseka menoleh ke wajah Wisanggeni, dan setelah melihat keseriusan pembicaraan yang disampaikan oleh laki-laki muda itu, Pangeran menghela nafas panjang.
"Terserah jika itu sudah menjadi keinginanmu Wisang. Sebenarnya aku ingin, kalian mampir dulu di kerajaan, baru aku sendiri yang akan mengantarkan kalian mengunjungi Klan Bhirawa." ucap Pangeran Abhiseka kemudian. Wisanggeni tersenyum kecut..,
"Maaf Pangeran.., keluarga kami sudah menunggu. Semoga di lain waktu dan kesempatan.., kita masih ada waktu untuk bertemu dan bersama kembali." Wisanggeni menolak dengan halus tawaran yang diberikan oleh Pangeran Abhiseka. Sejak dari dulu, Wisanggeni memang kurang menyukai kemewahan dan sambutan meriah yang diberikan kepadanya. Apalagi kedua istri dan putranya sudah menunggunya di Klan Bhirawa. Dia sudah sangat merindukan mereka, meskipun belum segenap satu hari mereka berpisah.
Pangeran Abhiseka melihat Wisanggeni dalam diam, putra mahkota kerajaan itu sudah menduga jika Wisanggeni pasti akan menolak ajakannya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam, begitu juga dengan orang-orang yang berada di belakangnya.
__ADS_1
*********