
Sampai sore hari Wisanggeni masih tenggelam dalam kultivasinya, dia masih sanggup menerima tekanan berat dari aliran energi dalam ruangan itu. Sedangkan Sentono dan Suko, mereka berdua hanya mampu menahan diri dari tekanan energi tersebut sampai dengan siang hari. Melihat Wisanggeni masih bersila dengan mata terpejam, keduanya saling mengangguk kemudian memutuskan untuk keluar meninggalkan Wisanggeni sendiri. Mereka sudah tidak kuat dengan aliran energi yang terus mengalir seakan membanjiri ruangan tersebut.
"Wisang tidak akan marah kan Sentono, jika kita meninggalkannya keluar lebih dulu?" Suko bertanya pada Sentono, sesaat setelah mereka sampai di luar Menara Pilar kekuatan.
"Aku yakin tidak Suko, karena jika kita berdua tetap bertahan di tempat itu, yang ada kita malah akan mengalami lemas kehabisan energi. Kamu tahu sendiri kan, betapa sangat berat aliran energi yang terpancarkan di ruangan itu. Ayo.., kita cepat kembali ke pesanggrahan!" Sentono menjawab pertanyaan Suko.
Kedua orang itu kemudian bergegas meninggalkan menara, karena ingin segera merasakan istirahat di tempat tidur. Berlatih kultivasi di menara pilar kekuatan, seakan menyedot semua energi dan aura yang mereka miliki.
*********
Di ruang paling sudut di lantai 1 Menara Pilar Kekuatan, seorang pria muda masih memejamkan matanya. Perlahan dia membuka matanya, dan dia tersenyum saat melihat jika Suko dan Sentono sudah lebih dahulu meninggalkannya.
"Wow.., ternyata ada anak baru rupanya disini." tiba-tiba terdengar suara murid lainnya. Wisanggeni mendiamkan perkataan tersebut, karena dia tidak paham jika ternyata kalimat itu ditujukan padanya.
"Wah.., masih anak kemarin sore sudah sombong dia. Ayo kita datangi!" teriak temannya yang lain.
Wisanggeni mengangkat wajahnya, dan di depannya berdiri tiga orang dengan muka yang tidak bersahabat.
"Ada apa Kisanak.., apakah ada perlu dengan saya?" Wisanggeni langsung bertanya pada tiga anak muda itu.
"Murid tingkat berapa kamu? Apakah kamu tidak tahu siapa kami, sudah berani sombong di hadapan kami." salah satu orang bertanya pada Wisanggeni.
"Mohon maaf, saya masih baru di akademi ini, dan juga masih baru masuk ke menara pilar ini! Apa ada yang Kisanak bertiga perlukan terhadap saya?" Wisanggeni masih bertanya dengan nada sopan.
"Kebanyakan omong kamu, ayo kita bertarung! Kita ingin tahu, kekuatan apa yang sudah kamu miliki, sehingga tanpa teman satupun kamu sudah berani memasuki menara ini. Rahmanto..., hadapi dia, aku akan melihat sampai dimana kekuatannya!"
__ADS_1
"Baik Dirjo.., aku akan mencoba melihat sampai dimana kekuatannya." seorang pemuda yang gempal langsung melompat maju di hadapan Wisanggeni sambil mengacungkan genggaman tangannya di hadapan Wisanggeni.
"Hups." sekali lompat, Wisanggeni mulai berdiri di hadapan pemuda yang dipanggil Rahmanto itu.
Kedua tangan Rahmanto digerakkan ke atas dan muncul cahaya di atasnya, dan dia mulai meutar-mutarkan tangannya. Sejenak laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghentak lantai dengan keras dan mulai mengarahkan genggaman tangannya pada Wisanggeni dengan posisi menghantam.
"Tinju Gunung Tidar." teriak Rahmanto sambil berjalan merangsek ke depan lebih mendekat pada Wisanggeni, dan dengan cepat tinjunya diarahkan ke dada Wisanggeni.
Henbusan udara kencang yang timbul saat tinju diayunkan, menyebabkan rambut Wisanggeni yang menutup wajahnya tertiup udara tersebut. Dengan mata yang tajam dan gelap, Wisanggeni menyipitkan matanya dan melirik ke arah tangan yang mendekati dadanya. Ketika tangan itu hampir menyentuh dadanya, dengan cepat Wisanggeni menggeser badannya ke kiri, dan memutar tubuhnya dengan ringan. Dengan kecepatannya, Wisanggeni meraih bahu Rahmanto dengan mudah.
"Gerakan Alam Semesta." terdengar seruan Wisanggeni memanggil kekuatannya.
"Puang..!" saat suara terakhir terdengar ketika tangan Wisanggeni mendarat dengan tegas di bahu Rahmanto, yang dapat membuat wajah ketiga anak muda itu pucat dan menggigil. Rahmanti tiba-tiba memundurkan kakinya ke belakang, tetapi akhirnya dia kehilangan kekuatan kakinya, dan dengan cepat tubuhnya terjatuh ke lantai.
Wisanggeni tersenyum, tetapi dia tidak merasakan kepuasan sedikitpun. Dia ingin mendapatkan lawan yang memiliki kekuatan, bukan hanya dengan satu pukulan sudah jatuh lemas ke lantai. Kedua orang itu kemudian mendatangi Rahmanto, dan tidak diduga sama sekali seorang pemuda yang tadi dipanggil dengan nama Dirjo mendekat ke arah Wisanggeni.
"Ampuni kami Kisanak, apakah kita bisa menjadi seorang teman. Namaku Dirjo, yang tadi bertarung dengan Kisanak adalah Rahmanto, dan yang satu itu adalah Kandar." ternyata Dirjo mendatanginya adalah untuk menjalin pertemanan dengannya. Tidak mau menambah musuh, Wisanggeni mengambil nafas lega.
"Baiklah kita akan menjadi teman. Namaku Wisanggeni, dan panggil aku dengan sebutan Wisang, baru tingkat 1 di akademi ini." dengan tersenyum, Wisanggeni mengacungkan genggaman tangan di depan dadanya, sebagai tanda menjalin pertemanan.
"Aku tidak akan lama berada disini, aku harus segera kembali ke pesanggrahan karena tidak mau membuat teman-temanku mengkhawatirkan aku." lanjut Wisanggeni berpamitan.
Ketiga pemuda itu dengan cepat menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kembalilah Wisang, kami berharap kita akan cepat bertemu kembali." ucap Dirjo.
Wisanggeni segera membalikkan badannya kemudian melangkah keluar dari Menara Pilar Kekuatan.
__ADS_1
**************
"Suko..,Sentono.., apakah kalian melihat Wisang?? Dari menjelang siang aku mencarinya, tetapi kami belum juga menemukannya." terlihat Niluh dan Gayatri datang ke koplek pesanggrahan laki-laki untuk mencari Wisanggeni.
"Oh kalian mencari Wisang. WIsang dan kami tadi berlatih kekuatan di Menara Pilar, tetapi kami berdua tidak memiliki cukup kekuatan untuk menahan energi yang mengalir. Akhirnya di waktu siang, kami sudah menyerah dan meninggalkan menara tersebut. Sedangkan Wisanggeni masih berada di dalam menara." Suko menceritakan kegiatan yang mereka lakukan tadi siang.
"Begitukah.., aku juga ingin mencoba berlatih disana." kata Niluh penuh minat.
"Iya Niluh.., kita berdua bisa mencobanya kapan-kapan. Terus sekarang gimana, kita akan tetap disini sampai menunggu Kang Wisang kembali, atau kita balik ke pesanggrahan kita?" tanya Gayatri.
"Masuklah dulu kesini, kita bisa ngobrol-ngobrol dulu. Aku yakin, Wisang tidak akan sampai malam berada di dalam menara, kan menjelang malam, menara dibebaskan dari kunjungan." sahut Sentono.
"Gimana Niluh.., kita menunggu Kang Wisang disini, atau kembali pulang?" tanya Gayatri.
"Pulang dulu sajalah. Kasihan Kang Wisang, aku yakin saat sampai di pesanggrahan ini, dia sudah kecapaian dan kehabisan energi. Besok saja, kita kesini lagi, dan semoga Kang Wisang sudha kembali segar." kata Niluh menyarankan.
"Baiklah kalau begitu, Suko.., Sentono.., kami berdua balik dulu ya ke pesanggrahan. Sampaikan salam kami untuk Kang Wisang jika dia sudah kembali kesini!" Gayatri dan Niluh akhirnya berpamitan.
"Baik Niluh.., Gayatri. Hati-hati di jalan, akan kami sampaikan pesan kalian untuk Wisang." sahut Sentono.
Kedua gadis itu segera membalikkan badannya, kemudian berjalan meninggalkan pesanggrahan pria.
****************
__ADS_1