
Bhadra Arsyanendra tiba-tiba tersedak ketika menikmati makan siang. Pengawal pribadi anak muda itu segera mengambilkan air minum dan memberikan pada anak muda itu. Dengan cepat, Bhadra Arsyanendra mengambil cangkir kayu dari tangan pengawal, kemudian meminum sampai habis minuman yang ada di dalam cangkir tersebut. Setelah cangkir kosong, anak muda itu mengembalikan cangkir pada pengawalnya.
"Raden.. sampai berapa lama lagi kira-kira Raden akan berada di perguruan ini? Apakah Raden tidak memiliki keinginan untuk kembali ke kerajaan Logandheng..?" sambil menerima cangkir dari tangan pangeran itu, pengawal pribadi dengan hati-hati bertanya pada anak muda itu. Bhadra Arsyanendra mengalihkan pandangan matanya, kemudian..
"Paman.. bukankan paman sudah mengenal dan mengetahui siapa diriku ini. Aku tidak akan mudah untuk berpaling dari janji yang sudah aku pegang dan sepakati. Aku sudah membuat janji pada Kang Ashan dan Bibi Rengganis, jika aku akan menunggu kedatangan mereka berdua kembali ke perguruan ini kembali. Aku tidak akan mengingkari janji itu paman.." dengan suara tegas, Bhadra Arsyanendra menanggapi perkataan pengawal pribadinya.
"Maksud saya bukan seperti itu Raden. Sudah berpurnama-purnama, belum ada yang kembali ke perguruan ini kembali, namun Raden Bhadra masih bersikukuh untuk menunggunya. Kita bahkan tidak mengetahui bagaimana kabar dan keadaan di kerajaan Logandheng." pengawal itu masih terus berusaha mempengaruhi laki-laki muda iitu.
Anak muda itu tersenyum, kemudian pikirannya menerawang. Bukan hanya wajah Chakra Ashanka yang diingatnya dalam terawangannya itu, namun juga wajah lembut dan kecantikan Parvati yang muncul dan berada dalam bayangannya.
"Paman.. aku percaya pada takdir paman. Jujur paman.. aku tidak merindukan posisi jabatan di kerajaan Logandheng. Aku lebih menyukai dapat menggapai sendiri mimpi-mimpiku. Jika memang kerajaan Logandheng ditakdirkan untuk menjadi milikku paman, maka akan lari kemanapun, kerajaan itu akan tetap berada dalam genggamanku. Namun jika bukan.. maka sekuat apapun aku berusaha, maka kerajaan itu juga akan terlepas dari tanganku. Paman jangan terlalu banyak berpikir.." Bhadra Arsyanendra menanggapi kekhawatiran pengasuhnya itu.
"Tetapi Raden.. ingatlah amanah dari Kanjeng Sinuhun.. yang menginginkan Raden Bhadra untuk menduduki posisi raja. Juga ingatlah wajah rakyat dari kerajaan Logandheng, yang selalu mengharapkan kehadiran Raden Bhadra untuk memegang tampuk kepemimpinan." pengawal itu terus menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Bersabarlah paman.. aku yakin jika kakang Ashan tidak akan mengingkari janjinya kepadaku. Tidak lama lagi, firasatku mengatakan jika kang Ashan akan segera kembali." sambil tersenyum, Raden Bahdra berusaha menenangkan perasaan pengawalnya itu.
"Huh... baiklah Raden.. Saya akan kembali ke belakang, semoga Raden segera bisa menetapkan hati untuk kembali ke kerajaan Logandheng." merasa tidak berhasil mempengaruhi junjungannya, akhirnya pengawal itu berpamitan untuk undur diri dari tempat itu.
Bhadra Arsyanendra tersenyum menatap punggung pengawal pribadinya itu, atau lebih tepatnya menyebut sebagai pengasuhnya. Sejak dia terlahir ke dunia ini, laki-laki itu dan istrinya yang selalu berada di sisinya. Laki-laki itulah yang mengenalkannya pada dunia, dan bahkan menyelamatkannya dengan membawanya pergi dari kerajaan Logandheng ketika terjadi kerusuhan di kerajaan tersebut. Bahkan sampai saat ini, pasangan suami istri itu masih setia mendampingi dan melayaninya.
"Kakang Ashan.., Nimas Parvati.. aku harap kalian segera kembali ke perguruan ini. Aku sangat merindukan kedatangan kalian berdua.." Bhadra Arsyanendra bergumam sendiri. Anak muda itu berdiri kemudian melangkahkan kaki menuju keluar dari dalam pendhopo.
*********
"Ada apa kang.. apa ada yang mengganggu pikiranmu." melihat wajah berlipat dari suaminya, perempuan itu dengan suara pelan bertanya pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.
"Hah.. sangat susah untuk merubah pikiran anak muda itu. Rakyat kerajaan Logandheng sudah sangat mengharapkan Raden Bhadra untuk mengambil alih tampuk kerajaan Logandheng. Namun.. sedikitpun hati anak muda itu belum tergoyahkan." laki-laki itu mnegeluhkan tentang jawaban dari Bahdra Arsyanendra.
__ADS_1
Perempuan istri pengawal itu tersenyum, kemudian meletakkan tangannya di atas punggung suaminya. Menjalani hidup dengan pengawal laki-laki itu, perempuan sudah mengenal luar dan dalam dari sifat serta karakter pasangan hidupnya itu.
"Kang.., Raden Bhadra belum menginjak ke usia dewasa. Masih banyak kebimbangan dan kebingungan pada anak itu dalam menetapkan sebuah keputusan. Kita tidak akan bisa masuk terlalu dalam, dan memaksakan kehendak kita pada anak muda itu. Kita tunggu dulu sampai kedatangan Rayi Chakra Ashanka putra dari pemilik perguruan ini. Aku sangat yakin, jika anak muda itu tidak akan mengecewakan kita.." perempuan itu memberikan pandangan pada suaminya.
"Begitukah pendapatmu Nimas.. Aku menjadi ketakutan melihat keadaan Raden Bhadra saat ini. Sebagai penerus kerajaan Logandheng, anak itu tidak pernah mempelajari tata krama kehidupan di kraton. Harusnya kemana-mana, anak muda itu mendapatkan perlindungan dari para pengawal, namun malah memilih memisahkan diri dari kehidupan kerajaan di perguruan ini. Sebagai orang yang mendapatkan amanah untuk mengarahkan dari Kanjeng Sinuhun prabu.. sangat berat bagi kita Nimas.." pengawal laki-laki itu menyampaikan kembali pendapatnya.
Perempuan itu kembali tersenyum mendengar keluh kesah dari suaminya, kemudian pengawal perempuan itu menyandarkan kepalanya di pundak pengawal laki-laki itu. Keduanya menatap ke bawah, ke arah lembah yang hijau di bawah sana, mencoba merenungi hal-hal yang telah mereka lakukan.
"Kang.. jika aku boleh berpendapat. Tidak masalah untuk saat ini, apakah Raden Bhadra berada di kerajaan Logandheng, ataukah sedang berada di perguruan ini. Kita hanya menunjukkan kesetiaan kita pada anak itu, sesuai dengan janji kita pada Kanjeng Sinuhun. Kita akan mengabdikan hidup kita pada anak itu, sampai maut menjemput kita." perempuan itu mengucapkan pendapatnya pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.
Pengawal laki-laki itu melihat ke arah samping, menengok wajah istrinya. Tidak sedikitpun terlihat kekecewaan di wajah istrinya, apalagi penyesalan mengikuti Raden Bhadra sampai di perguruan itu. Laki-laki itu menjadi terdiam, dan mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
"Baik Nimas.. terima kasih atas masukanmu untukku. Kangmas akan menerima hal yang sudah ditakdirkan untuk kita, meskipun kita harus mengorbankan anak kita yang saat ini berjuang sendiri di tlatah kerajaan Logandheng. Yang terpenting untuk kita adalah bagaimana kita harus melayani dan menunjukkan sumpah setia pada Raden Bhadra." akhirnya setelah beberapa saat, pengawal laki-laki itu bisa menerima keputusan Bhadra Arsyanendra.
__ADS_1
Perempuan yang duduk di sampingnya itu mengangguk, menyetujui ucapan suaminya.
*******