
Raja Bhadra Arsyanendra terhenyak mendengar cerita yang disampaikan oleh Chakra Ashanka. Tiba-tiba muncul kekhawatiran laki-laki muda itu terhadap keadaan Parvati, Meskipun Chakra Ashanka sedikitpun tidak menyinggung Parvati, tetapi mengatahui kepergian gadis muda yang diincarnya itu dengan kedua orang tuanya, membuat hati laki-laki muda itu turut merasa penasaran.
"Kakang.. meskipun aku terlahir di kerajaaan Logandheng ini, tetapi aku tidak dapat mengenali setiap sudut kerajaan ini. AKu akan mencoba untuk menanyakannya pada sesepuh kerajaan, sejak ayaknhda prabu masih hidup, sesepuh itu sudah mendampingi ayahnda. Siapa tahu sesepuh pernah mendengar atau paling tidak mengetahui tempat yang kakang ceritakan tadi." Bhadra Arsyanendra memberi tanggapan pada cerita Chakra Ashanka.
"Baik kanjeng SInuhun... hanya saja, aku akan meminta ijin palilahmu. AKu akan pergi untuk mencari tahu keberadaan ayahnda dan juga ibunda, serta keberadaan Nimas Parvati. Karena dengan mendapatkan mimpi itu tadi malam, aku tidak dapat membohongi perasaanku Sinuhun.." dengan sikap sopan, meskipun sudah ada perjanjian di antara mereka, untuk tetap berhubungan seperti layaknya anggota keluarga, Chakra Ashanka masih belum bisa membedakannya.
"Akan kita bicarakan nanti kang Ashan..; sahut Bhadra Arsyanendra, dan tiba-tiba laki-laki itu melambaikan tangan memanggil sesepuh kerajaan yang kebetulan sedang melintas di depan pintu, dan melihat kepadanya.
Seorang laki-laki tua masuk ke dalam tempat mereka melakukan perbincangan. Dengan tangan kanannya, Bhadea Arsyanendra meminta laki-laki tua itu untuk ikut duduk di atas kursi.
"Duduklah paman, ada yang ingin kami perbincangkan denganmu.." ucap Bahdra Arsyanendra perlahan.
"Baik kanjeng sinuhun.. sesuai dengan titah kanjeng.." laki-laki tua itu segera menuruti keinginan dari raja kerajaan Logandheng itu. Chakra Ashanka mengangkat tubuh sesepuh kerajaan itu ke atas kursi, ketika melihat laki-laki tua itu akan duduk di atas lantai.
"Paman.. apakah paman pernah melihat, atau paling tidak pernah mendapatkan sebuah kabar tentang keberadaan padang rumput dengan beberapa goa di atasnya." tanpa menunggu, Bhadra Arsyanendra langsung bertanya pada laki-laki tua itu.
Sesepuh kerajaan terlihat terkejut dengan pertanyaan itu, dan tiba-tiba terbias rasa ketakutan di mata laki-laki tua itu. Chakra Ashanka memicingkan mata melihat perubahan jauh dari laki-laki tua yang ada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Katakanlah paman.. jika memang paman sesepuh mengetahuinya. Hal ini menyangkut keselamatan orang tua Chakra Ashanka.." melihat sesepuh kerajaan itu masih terkejut, dan belum mengeluarkan jawaban, dengan cepat Bhadra Arsyanendra memintanya untuk segera berbicara.
"Ampun.. ampun beribu-ribu ampun Kanjeng Sinuhun.. kanjeng Patih. Bukannya paman tidak mau menceritakan tentang keberadaan tempat itu, tetapi memang kanjeng prabu pernah berpesan untuk merahasiakan hal ini pada Kanjeng Sinuhun..": terlihat rasa sesak dan penyesalan dari laki-laki tua itu.
"Apa maksudmu paman.. Ayahnda saat ini sudah mangkat paman.. akulah Bhadra Arsyanendra yang memegang kuasa tertinggi di kerajaan Logandheng saat ini. AKu mencabut perintah dari ayahnda itu, ceritakan paman.." dengan tegas, Bhadra Arsyanendra meminta sesepuh kerajaan untuk berbicara.
Sesepuh kerajaan itu mengangkat wajahnya ke atas sebentar, tampak keragu-raguan dengan jelas masih terlihat di wajah tuanya. Namun tatapan tegas Bhadra Arsyanendra dan Chakra Ashanka tidak bisa membuat laki-laki tua itu berkutik. Sesepuh kerajaan kemudian mengambil nafas sebentar.., kemudian kembali memberanikan diri menatap dua laki-laki muda di samping dan depannya itu.
********
Chakra Ashanka dan bhadra Arsyanendra mengambil nafas dalam, setelah mereka mendapatkan cerita tentang padang rumput itu dari sesepuh kerajaan. Laki-laki muda itu tidak habis berpikir, ternyata tempat yang tiba-tiba muncul dalam mimpi yang dialami Chakra Ashanka itu memang benar-benar adanya. Kegelisahan dan kekhawatiran tiba-tiba semakin membuncah di dada Chakra Ashanka ketika teringat, suara ayahnda dan ibundanya merintih di dalam goa-goa tersebut.
Anak muda itu menoleh ke arah gadis muda yang berbicara kepadanya itu, dan Sekar Ratih mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"AKu ingin mempercayai kata-katamu Nimas.. tetapi kakang tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.. Nimas.. Aku yakin jika mimpi itu bukan hanya sekedar bunga tidur.." Chakra Ashanka berbicara lirih. Tampak keputus asaan terlihat di matanya. Hal ini menyangkut tentang keluarganya, ada ayahnda, ibunda, dan juga adik perempuannya.
Beberapa saat kelengangan terjadi di tempat itu, tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Akhirnya dengan tatapan prihatin,..
__ADS_1
"Kakang.. pergilah, aku sebagai raja kerajaan Logandheng memerintahmu untuk menyelidiki masalah ini. Apalagi seperti yang disampaikan oleh paman sesepuh kerajaan, tempat ini masih ada di tlatah kerajaan Logandheng. Jadi kepergian kakang, bukan untuk berlibur tetapi juga menjalankan perintah dari kerajaan." tidak berapa lama, keputusan disampaikan oleh Bahdra Arsyanendra.
Mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh penerus kerajaan saat ini, sesepuh kerajaan menjadi terkejut. Laki-laki tua itu tidak percaya, jika keturunan dari raja sendiri yang berani membantah perjanjian tersebut.
"Apakah paman tidak salah mendengarnya Kanjeng Sinuhun? Hal ini sama saja, Kanjeng SInuhun tidak mengikuti perkataan dari kanjeng prabu terdahulu.." ucap lirih sesepuh kerajaan berusaha mengingatkan Bhadra Arsyanendra.
"Paman.. jaman sudah berubah. Jika keputusan perjanjian yang dilakukan ayahnda prabu itu untuk kebaikan dan kesejahteraan warga masyarakat kerajaan Logandheng tanpa pandang bulu.. maka aku akan meneruskannya., Tetapi ada sebagian kecil dari rakyatku yang dikorbankan, maka aku harus segera menyelesaikannya." suara tegas Bhadra Arsyanendra memotong kekhawatiran sesepuh kerajaan.
"Ijin meninggalkan Kraton Kilen ini kanjeng Sinuhun.." tidak mau terlalu masuk dalam masalah kerajaan di masa lampau, dan karena kekhawatiran dengan keselamatan kedua orang tuanya, Chakra Ashanka segera meminta waktu untuk undur diri.
"Baiklah.. segeralah kalian bersiap. Bawa pasukan kerajaan, sebanyak yang kamu mau kakang.." Bhadra Arsyanendra mengijinkan.
"Terima kasih.." hanya menjawab singkat, Chakra Ashanka segera bergegas keluar diikuti oleh kedua gadis muda di belakangnya.
Dengan pandangan kecut, sesepuh kerajaan tidak lagi mengeluarkan kata-kata. Laki-laki tua itu membenarkan apa yang diucapkan laki-laki muda di hadapannya itu. Tetapi mengetahui sendiri bagaimana keganasan dan kehebatan Gerombolan Alap-alap saat itu, membuatnya tidak bisa mengesampingkan rasa khawatirnya. tanpa bicara, Bhadra Arsyanendra pergi meninggalkan laki-laki tua itu, dan tinggallah sesepuh kerajaan sendiri di tempat itu.
Kraton Kilen yang sempat ramai di pagi hari itu, akhirnya kembali menjadi sepi. Tanpa bicara lagi, Bhadra Arsyanendra segera kembali masuk ke dalam kamarnya. Sesepuh kerajaan juga tidak tahu apa yang dilakukan anak muda itu.
__ADS_1
**********