
Di dalam istana kerajaan Laksa
Pangeran Abhiseka terlihat sangat puas mengamati para prajurit kerajaan, yang sudah menyelesaikan tugas untuk membersihkan kerajaan dari puing-puing, akibat pertarungan dengan prajurit Pangeran Prakosa. Niken Kinanthi dengan beberapa orang yang dikirim dari Trah Suroloyo, juga mengatur beberapa orang untuk melakukan pembenahan dan menjadikan istana kembali menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, dan membawa kepemimpinan kerajaan itu kembali.
"Terima kasih Nimas Niken Kinanthi.., atas kesediaan untuk membantu menjadi istana ini kembali terlihat indah." kemunculan Pangeran Abhiseka mengagetkan Niken Kinanthi yang sedang berdiri mengarahkan beberapa orang. Gadis muda itu menoleh ke belakang, kemudian tersenyum menyambut kedatangan Pangeran Abhiseka.
"Jangan dianggap menjadi sesuatu yang besar Pangeran. Semua aku lakukan, karena kita adalah sebagai seorang teman. Rencana beberapa hari ke depan, aku dan beberapa orang dari Trah Suroloyo akan kembali ke asal kami Pangeran. Setelah mengunjungi Trah Bhirawa, aku juga akan kembali ke padhepokan di perbukitan Gunung Jambu, untuk membantu Nimas Rengganis mengembangkan padhepokan itu." mendengar penjelasan Niken Kinanthi, Pangeran Abhiseka mengerutkan kening. Laki-laki itu teringat kata-kata yang diucapkan oleh Niken Kinanthi saat mereka bertarung dengan Pangeran Prakosa. Tanpa diminta, gadis muda itu dengan lantang sudah mengenalkan dirinya sebagai suami dari dirinya. Tetapi, saat ini.., Pangeran Abhiseka menjadi ragu, karena sedikitpun Niken Kinanthi belum menyinggung tentang hal tersebut dengan dirinya.
"Apakah tidak ada hal penting lainnya di pikiranmu Nimas Niken..?" Pangeran Abhiseka kembali bertanya pada gadis muda itu.
"Tidak ada Pangeran.., keputusanku untuk mengabdi di padhepokan Gunung Jambu, sudah aku bicarakan dengan ayahnda. Hal itu kami lakukan, untuk menebus kesalahan yang pernah aku lakukan beberapa warsa yang lalu terhadap kang Wisang. Hanya inilah yang kami yakini untuk membuatku dapat mengobati luka di hati Kang Wisang dan keluarga, Pangeran." sambil tersenyum kecut, Niken Kinanthi menyampaikan pemikirannya,
__ADS_1
"Hanya itukah yang sebenarnya kamu harapkan..?? Apakah tidak terselip keinginan untuk juga dipinang Wisanggeni menjadi pendamping hidupnya?" tiba-tiba terselip rasa cemburu dalam perkataan Pangeran Abhiseka.
Niken Kinanthi kembali menoleh ke arah Pangeran Abhiseka dengan kening berkerut. Gadis muda itu heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki tersebut. Jika pertanyaan itu dilontarkan oleh orang luar, mungkin tidak segan, Niken Kinanthi akan menghajar orang tersebut. Tetapi kali ini. seorang pangeran yang menanyakan hal tersebut kepadanya.
"Pangeran Abhiseka..., untuk saat ini, perasaan untuk dimiliki Kang Wisang sebagai istri darinya, perlahan mulai luntur. Melihat bagaimana kesetiaan dan pengorbanan Nimas Rengganis, seorang putri kebanggaan Trah Jagadklana mendampingi laki-laki itu, melunturkan niat itu dari hatiku. Apalagi selain Nimas Rengganis, masih ada Maharani yang juga memiliki status yang sama dengan Nimas Rengganis. Aku tidak akan menjadi seorang perempuan yang serakah Pangeran.." senyuman muncul di bibir Pangeran Abhiseka mendengar perkataan Niken Kinanthi tersebut. Tidak diduga, tanpa meminta ijin dari perempuan di sampingnya itu, tangan Pangeran Abhiseka meraih kedua tangan Niken Kinanthi kemudian memberikan ciuman di punggung tangannya. Gadis muda itu terlihat sangat kaget dengan perlakuan yang diberikan Pangeran kepadanya. Tetapi ketika gadis itu akan menarik tangannya, dengan erat Pangeran ABhiseka malah menggenggamnya.
Melihat perlakuan tersebut, orang-orang yang berada disitu segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka memberikan kesempatan pada Pangeran, untuk mengutarakan kata hati pada Niken Kinanthi.
************
"Jika memang apa yang kamu katakan saat itu merupakan hal serius, aku ingin memintamu untukku Nimas. Kita harus segera memberitahukan hal ini kepada romo prabu dan ibunda ratu. Bersediakan Nimas Niken Kinanthi menemaniku untuk menjadi istriku sepanjang waktu. Jika kamu menginginkanku untuk meminta ijin palilah dari Wisanggeni, aku akan melakukannya. Meskipun untuk saat ini, kita belum tahu bagaimana kondisi teman kita tersebut." Pangeran Abhiseka kembali menegaskan keinginannya tersebut.
__ADS_1
"Pangeran.., seperti yang tadi aku katakan. Keinginanku saat ini adalah bagaimana mendapatkan pengampunan secara penuh atas kesalahanku di masa lalu. Hanya hal itu yang aku inginkan, dan dengan mengabdikan hidupku di perguruan yang dikelola keluarga Kang Wisang, aku merasa mereka akan mengampuniku secara mutlak." tidak mau menimbulkan harapan terus menerus pada Pangeran Abhiseka, Niken Kinanthi menyampaikan pemikirannya.
Pangeran Abhiseka tersenyum, sesuai dengan apa yang juga menjadi keinginannya, laki-laki itu juga tidak memiliki minat atau ambisi tetap bertahan di kerajaan Laksa. Bahkan dengan adanya pemberontakan yang akan dilakukan Pangeran Prakosa dan berhasil digagalkan, diapun tetap merasa keberatan untuk menggantikan romo prabu memegang tampuk kekuasaan. Ketika Raja Achala memaksanya untuk menggantikan, Pangeran Abhiseka sudah memiliki gagasan tersendiri.
"Nimas..., jangan terlalu banyak berpikir untuk saat ini. Aku akan menerima persyaratanmu.., tetapi terlebih dahulu.., kita harus menemukan keberadaan dari saudara kita Wisanggeni. Menurut informasi dari para prajurit, ada dua laki-laki yang membawa pergi Wisanggeni. Harapan kita, dua laki-laki tersebut merupakan orang yang dikenal dengan baik oleh saudara kita." Pangeran Abhiseka membuat sebuah keputusan, yang juga merupakan keinginan dari Niken Kinanthi.
"Baik Pangeran.., ijin saya meninggalkan istana terlebih dahulu. Saat ini juga saya akan menuju ke Trah Bhirawa untuk bertemu dan sowan pada Ki Mahesa, untuk menyampaikan pesan dari ayahnda. Orang-orang dari Trah Suroloyo dalam beberapa hari ke depan, juga akan kembali menuju Trah kami, karena berdasarkan pengamatan kami, istana sudah bisa dibuka kembali seperti sebelum terjadi pemberontakan. Raja Achala dan permaisuri, mungkin secepatnya segera bisa kembali ke istana.. Pangeran." dengan sikap hormat, Niken Kinanthi sekaligus melakukan pamitan pada Pangeran Abhiseka.
"Aku mengijinkanmu Nimas.., sampaikan salam dari romo prabu dan diriku sendiri untuk semua yang ada di Trah Bhirawa, Aku tidak bisa mengantarmu Nimas.., karena masih banyak yang harus diurus dan diselesaikan di kerajaan. Untuk orang-orang dari Trah Suroloyo, istana akan memberi mereka hadiah untuk ucapan terima kasih karena sudah membantu kerajaan menumpas pemberontak." Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan yang diutarakan Niken Kinanthi.
Perlahan Niken Kinanthi berjalan meninggalkan Pangeran Abhiseka, dan laki-laki itu mengikuti gadis muda itu di belakangnya. Di depan gerbang istana kerajaan, Niken Kinanthi menganggukkan kepala, kemudian melompat meninggalkan Pangeran Abhiseka yang masih berdiri di tempatnya. Laki-laki itu hanya tersenyum masam, kemudian berbalik arah kembali ke istana kerajaan.
__ADS_1
************