
Ki Mahesa melihat keberadaan Niken Kinanthi, laki-laki paruh baya itu perlahan berdiri kemudian berjalan menghampiri tempat keberadaan gadis muda tersebut. Untuk tidak mengganggu jalannya acara syukuran, Ki Mahesa sengaja tidak memberi tahu apa yang laki-laki itu lihat pada ketiga putranya. Mengira jika ayahndanya akan pergi beristirahat, Widjanarko dan Lindhu Aji tidak menanyakan tujuan dari Ki Mahesa.
"Selamat datang di Trah kecil kami Nimas Niken.., dengan siapa kedatanganmu ke Trah Bhirawa?" dari belakang Niken Kinanthi, Ki Mahesa bertanya pada putra sahabatnya itu. Terkejut, Niken Kinanthi menoleh ke belakang, dan melihat keberadaan sesepuh dari Trah ini, gadis muda itu langsung memberikan hormat. Niken Kinanthi membungkukkan badan, kemudian mencium punggung tangan Ki Mahesa.
"Ampun Ki Mahesa.., kedatangan saya telah mengganggu Ki Mahesa dalam menikmati acara syukuran ini." dengan suara pelan, Niken Kinanthi meminta maaf. Laki-laki paruh baya itu, meraih bahu gadis muda itu, kemudian membawanya ke pendhopo yang lain di Trah Bhirawa. Tempat itu bisa digunakan untuk menerima tamu yang datang berkunjung ke Trah tersebut.
"Tidak ada yang terganggu Nimas.., kami malah tersanjung mendapatkan kunjungan dari trah sebesar Trah Suroloyo. Bagaimana kabar ayahnda dan semua saudara-saudaramu Nimas..?" tidak lupa Ki Mahesa menanyakan kabar dari Trah Suroloyo. Melihat ada seorang perempuan paruh baya lewat di tempat itu, Ki Mahesa memberi isyarat untuk menyiapkan jamuan kedatangan tamu. Perempuan itu langsung menganggukkan kepala, kemudian pergi dari tempat tersebut.
"Ayahnda baik dan dalam kondisi sehat paman.., demikian dengan saudara-saudara yang lain. Sebenarnya untuk beberapa waktu. saya belum kembali dan melihat keadaan Trah Suroloyo. Karena sudah beberapa saat terakhir, saya membantu Nimas Rengganis dan padhepokan Gunung Jambu. Ketika ada kabar jika terjadi pemberontakan di kerajaan Laksa, dan Pangeran Abhiseka memiliki hubungan dekat dengan Kang Wisang juga saya sendiri, akhirnya saya menuju ke kerajaan ini Paman." Niken Kinanthi menceritakan keberadaannya di tempat ini.
"Ketika perang sudah berakhir, dan terlihat ada dua orang yang membawa pergi Kang Wisang ketika cidera, saya bermaksud untuk mencarinya di Trah ini. Ternyata memang benar apa yang ada di pikiran saya, kang Wisang betul-betul sudah berada di Trah ini. Yang membuat saya kaget, Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka juga sudah berada disini. Hal ini membuat saya mengakui, betapa dekat hubungan emosional yang terjadi antara kang Wisang dengan nimas Rengganis." dengan suara lirih, Niken Kinanthi melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, yang seperti mengisyaratkan perasaan Niken Kinanthi, Ki Mahesa tersenyum sareh. Laki-laki paruh baya itu menatap gadis muda putra dari sahabatnya. Dulu ketika mereka masih kecil, Ki Mahesa dan ibunda Wisanggeni pernah mengusulkan perjodohan antara gadis itu dan putra bungsunya Wisanggeni. Tetapi karena godaan duniawi, gadis muda itu yang memutuskan perjodohan. Kali ini terlihat dari pengamatan Ki Mahesa, terlihat di mata Niken kinanthi jika ada penyesalan dalam dirinya, tetapi takdir tidak bisa dirubah.
"Nimas.., jangan mengulang-ulang apa yang sudah terjadi. Lupakanlah semuanya.., hanya paman akan memberi tahu kamu Nimas. Hati Wisanggeni sudah sejak kecil hanya terisi oleh nama Rengganis, demikian juga dengan perempuan itu. Munculnya nama Maharani saat ini, kita semua mengetahui apa yang menjadi penyebab dan asal mulanya. Itupun juga Rengganis sendiri yang mengusulkan dan meminta pada suaminya, dan untuk kepentingan orang banyak, Tetapi tidak mungkin akan terjadi untukmu Nimas.., lupakan putraku, jalinlah ikatan dengan laki-laki lain untuk saat ini Nimas. Paman memintamu.." dengan tulus, Ki Mahesa memberi nasehat pada Niken Kinanthi.
Mendengar perkataan laki-laki paruh baya itu, yang di saat dirinya masih kecil sering membelanya, hati Niken Kinanthi merasa tertotok. Gadis muda itu hanya bisa tersenyum perih,..
**********
"Nimas Niken.., kamu sudah kembali dan tiba di Trah ini..?" Rengganis menyapa perempuan muda itu. Mendengar suara Rengganis, Niken Kinanthi menoleh dan senyuman mengembang di bibirnya, melihat tiga perempuan muda dari Trah Bhirawa itu sudah berada di pendhopo untuk menyapanya, Perempuan itu segera berdiri, dan mendatangi ketiga perempuan dari Trah tersebut.
"Iya Nimas.., kebetulan perang sudah tidak ada lagi, dan aku yakin Pangeran Abhiseka akan bisa membereskan sisa-sinya. Aku berpamitan pada pangeran untuk pergi ke Trah Bhirawa ini. Mbakyu Laras, mbakyu Kinara.., terima salamku.." setelah menjelaskan alasan keberadaan di tempat ini, Niken Kinanthi memberi salam pada Larasati dan Kinara. Mereka kemudian berpelukan, dan ketika melihat keakraban keempat perempuan muda itu, Ki Mahesa kemudian berdiri dan berpamitan untuk kembali ke acara.
__ADS_1
"Sudah.., silakan para perempuan-perempuan berkumpul disini. Ayahnda akan kembali ke pendhopo besar, menemani suami-suami kalian." ketiga menantu perempuan itu tersenyum, mengantarkan kepergian laki-laki paruh baya itu. Setelah Ki Mahesa sudah tidak terlihat, Rengganis mengajak mereka untuk duduk di atas kursi kayu.
"Bagaimana Nimas Rengganis sudah berada di Trah ini.."?" dengan heran, Niken kinanthi menanyakan keberadaan Rengganis. Istri dari Wisanggeni itu tersenyum mendengar pertanyaan tersebut..
"Singa Ulung yang membawaku kesini Nimas.. Kondisi Kang Wisang telah menggerakkan hati binatang tersebut, tanpa ijin dari suamiku, Singa Ulung terbang ke perbukitan Gunung Jambu, dan membawaku serta Chakra Ashanka kemari. Syukurlah.., di malam kedatanganku, Kang Wisanggeni sudah kembali pulih seperti sedia kala.." ucap Rengganis, dan terdengar seperti ada nada sarkasme dalam perkataanya. Mendengar hal itu, Niken Kinanthi hanya menelan ludah, dan tersenyum getir.
"Kalian berdua memang ditakdirkan Hyang Widhi untuk selalu bersama Nimas.. Bahkan dalam keadaan tidak sadarnya kang Wisang.., seperti sudah digariskan.. Nimas Rengganis yang menjadi penawar dan penyembuh dari kondisinya. Bukan dan tidak ada yang lain.." ucap Niken Kinanthi lirih.
Melihat kegamangan hati Niken Kinanthi, Larasati yang sering masih merasakan hal yang sama berusaha menetralisir suasana. Tangannya memegang poci yang terbuat dari tanah, kemudian menuangkan isinya ke dalam cangkir-cangkir yang sudah tersaji di atas meja.
"Nimas.. ayo hangatkan perutnya dulu. Keburu minuman ini dingin..., sangat menyegarkan jika malam ini kita hangatkan dengan minuman jahe serai ini." Larasati segera memberikan cangkir pada Niken Kinanthi. Tanpa menolak, perempuan dari Trah Suroloyo itu langsung menerima tawaran tersebut, dan perlahan mulai menyesap minuman tersebut dari cangkirnya. Kinara yang bisa memaklumi tindakan adik iparnya, tersenyum dan kemudian ikut mengambil cangkir dan mulai menikmati minuman tersebut.
__ADS_1
************