
Semakin ketiga orang itu berjalan ke depan, mereka semakin merasakan kekaguman. Di tengah hutan lebat seperti ini, juga di dalam sebuah jurang, mereka betul-betul menemukan sebuah tempat seindah Nirwana.
"Kakang.. apakah kamu menemukan kehidupan di tempat ini..?" merasa sudah semakin jauh mereka masuk ke dalam, namun belum menemukan seorangpun disitu, Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Belum Nimas... tapi hawa di dalam area ini terasa hangat. Jadi kakang yakin, ada kehidupan lain di alam ini. Hanya saja, bisa jadi karena sebuah alasan, pemilik tempat ini sengaja merahasiakan keberadaanya." ucap Wisanggeni lirih. Mata laki-laki itu terus berkeliling mengedari tempat dimana mereka berada saat ini.
Rengganis dan juga Parvati terdiam. Mereka betul-betul terkesiap dengan apa yang .mereka lihat di depannya. Tempat yang ada disitu sedemikian rapi dan tertata, seperti sengaja dijaga dan dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Tiba-tiba di kejauhan mereka seperti melihat sebuah atap dari kayu, dan mereka ingin segera mengetahuinya.
"Kakang.. lihatlah ke arah sana. Aku dan Parvati seperti melihat sebuah atap bangunan dari kayu. Tidakkah kakang ingin melihatnya kesana." perlahan Rengganis memberi tahu apa yang mereka lihat di depan.
Wisanggeni menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Rengganis.. kemudian..
"Ayo kita lihat kesana Nimas. Tetap berhati-hatilah dan berjalan di belakang kakang. Awasi Parvati.. kita akan segera melihat bentuk asli dari atap kayu itu." Wisanggeni segera mengajak kedua perempuan itu untuk bersama menuju ke arah bangunan itu.
Ketiga orang itu segera berjalan dengan hati-hati. Untungnya binatang yang ada di sekitar mereka segera melarikan diri meninggal mereka bertiga. Para binatang itu sepertinya sudah merasakan kekuatan energi dari ketiganya, sehingga mereka memilih untuk pergi dari tempat itu.
"Luar biasa Nimas... sebuah pendopo kecil dengan bangunan rumah di belakangnya. Tempat ini benar-benar terlihat asri, dan mengundang ketertarikan orang untuk datang menyambanginya." Wisanggeni berbicara dengan rasa kagum.
Rengganis berjalan menuju ke arah padasan, kemudian mengambil batang kayu kecil untuk mengalirkan air dari dalam padasan tersebut. Rasa dingin air dirasakan oleh perempuan itu, ketika Rengganis menggunakan air yang ada di tangannya untuk membasuh wajahnya.
"Segar sekali Nimas .. lakukan seperti yang sudah ibunda lakukan.." Rengganis meminta putrinya Parvati Melaku hal yang sama dengan apa yang dilakukannya.
__ADS_1
Kesegaran yang sama juga dirasakan oleh Parvati,. ketika gadis muda itu membasuh wajahnya menggunakan air tersebut.
"Hentikanlah sejenak apa yang kalian lakukan Nimas.. Kita belum meminta ijin pada yang memiliki Pesanggrahan ini, tapi kalian sudah mengambil airnya tanpa ijin." Rengganis terkejut dengan teguran halus dari suaminya, dan akhirnya perempuan itu tersenyum malu menyadari kekeliruan mereka.
"Iya kakang.. Nimas terlupa. Melihat air jernih dan segar, Nimas seperti terlupakan. Bahkan mengajak putri kita Parvati untuk melakukan hal yang sama." ucap Rengganis lirih.
Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu menangkap kesedihan dalam pandangan mata istri. Perlahan laki-laki itu merangkul istri dan putrinya, kemudian mengajak mereka naik ke atas pendhopo.
"Nanti kakang akan membantu kalian minta maaf pada pemilik Pesanggrahan ini. Ayo kita ketuk pintu wisma itu, untuk memberi tahu pada pemilik wisma." Wisanggeni mengajak kedua perempuan itu berjalan mendekati pintu.
Ketiganya berhenti tepat di depan pintu masuk rumah, dan mengetuk pintu kayu itu perlahan. Wisanggeni mengetuk pintu kayu tiga kali, namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Sepi kang, Nimas tidak mendengar ada sahutan ataupun langkah kaki dari dalam. Mungkinkah rumah ini dalam keadaaan kosong.." Rengganis mengajak bicara suaminya.
"Benar apa yang dikatakan ayahnda.. ibunda. Parvati juga merasa ada suara lirih seperti memanggil-manggil nama Parvati tadi.. Nimas yakin, pemilik ini sudah menerima kedatangan kita. Hal ini terbukti, dengan mudah kita bisa masuk ke dalam tempat ini." dari belakang, Parvati turut andil bicara.
Rengganis mengangguk pelan, mencoba menerima pemikiran suami dan putrinya. Wisata kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu, namun laki-laki itu belum berhasil menemukan sebuah petunjuk apapun.
Tiba-tiba laki-laki itu tanpa sadar menguap, rasa kantuk berat melanda laki-laki itu. Menyadari hal itu, Rengganis mengajak suaminya untuk beristirahat.
"Sepertinya sudah datang peringatan untuk kakang dan kita semua. Tubuh kita memberi isyarat agar kita segera istirahat kakang. Sejak pagi kita keluar dari penginapan, belum sekalipun kang Wisanggeni istirahat." ucap Rengganis sambil menyentuh pundak laki-laki itu.
__ADS_1
"Hmm.. sepertinya ucapanmu ada benarnya Nimas. Kita tidak boleh memaksa pada anggota tubuh kita. Sudah seharusnya kita harus beristirahat." Wisanggeni menyetujui usulan perkataan Rengganis.
Laki-laki itu kemudian berjalan menuju pinggiran pendhopo. Setelah duduk, Wisanggeni memanggil Rengganis dan Parvati untuk duduk di sampingnya.
"Nimas Rengganis, Parvati kemarilah. Kita bisa istirahat sejenak, jangan khawatir.. tidak akan ada yang akan berani mengganggu kita. Tidurlah di atas lantai ini, kakang sudah melihatnya. Tidak ada debu di lantai ini, semuanya dalam keadaan bersih." ucap Wisanggeni meyakinkan istri dan putrinya.
Laki-laki itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas lantai, memberi contoh Rengganis dan Parvati. Gadis muda itu melakukan hal yang sama, Parvati tidur di sebelah kiri Wisanggeni. Namun.. terlihat Rengganis masih memiliki keraguan, perempuan muda itu tidak segera membaringkan tubuhnya.
"Kakang... Nimas Parvati..., kalian berdua istirahatlah terlebih dahulu. Aku akan berjaga-jaga semenjak kalian tidur." ucap Rengganis pelan.
Di awal, Rengganis yang meminta suaminya untuk beristirahat terlebih dahulu. Tetapi begitu gilirannya, perempuan itu seperti ragu-ragu untuk melakukannya.
"Bunda... kita tidak perlu penjagaan. Tidak akan ada yang sanggup untuk masuk ke dalam Pesanggrahan ini, jika tidak mendapatkan ijin dari pemilik Pesanggrahan. Jadi.. tidurlah bunda.., Nimas tahu jika ibunda juga terlihat sangat lelah." Parvati ikut berbicara meyakinkan ibundanya.
"Bagaimanapun kita tahu Nimas... jika kedatangan kita ke Pesanggrahan ini sudah diterima oleh pemiliknya." terlihat masih ada keraguan pada diri Rengganis
Wisanggeni sudah terlelap, entah apa sebabnya laki-laki itu langsung tidak dapat menahan kantuknya begitu kepala dan badannya bersentuhan dengan lantai pendhopo.
"Bunda... jika pemilik Pesanggrahan ini tidak mengijinkan kita, mustahil kita bisa masuk dan berada di dalam sini ibunda. Bahkan binatang peliharaan di dalam pagar batu ini, tidak ada satupun yang mengganggu kita. Mereka seakan mengantarkan kita masuk, kemudian menyingkir dengan sendirinya ketika kita sudah sampai di pendhopo ini." ucap Parvati menjelaskan.
Rengganis akhirnya bisa menerima penjelasan dari putrinya, perempuan itu segera mengikuti suami dan putrinya berbaring.
__ADS_1
******