
Setelah Wisanggeni menyiapkan racikan untuk rangkaian pengobatan, dia memasukkan ke dalam bak kayu. Dia memanggil Bisma untuk menambahkan air hangat, dan segera meminta Ki Brahmono untuk segera masuk di dalamnya. Dengan dibantu Bisma, Ki Brahmono segera berendam di dalam bak kayu tersebut. Wisanggeni segera menyalurkan energi dan tenaga dalam air rendaman tersebut.
"Paman.., tahanlah rasa sakit yang akan muncul saat paman masuk ke dalam air. Setelah satu dupa habis, rasa sakit itu baru akan muncul dan terasa." Wisanggeni berpesan pada Ki Brahmono.
"Baik Ki Sanak.., aku akan menahannya. Kemudian apa lagi yang harus saya persiapkan?" sahut Ki Brahmono pasrah.
"Paman bisa mengalirkan tenaga dalam yang masih bisa paman kendalikan dengan baik. Karena jamu ini akan meresap ke dalam tubuh, jadi dengan adanya tenaga dalam yang dialirkan akan membantu proses peresapannya."
Ki Brahmono mengangguk.
Setelah memberikan arahan pada Ki Brahmono, Wisanggeni menoleh ke Bisma dan Niken putri dari Ki Brahmono.
"Paman Bisma.., jangan tinggalkan paman Brahmono sendirian di dalam kamar. Usahakan air rendaman agar terjaga dalam keadaan hangat suam-suam kuku. Jika sudah terasa mendingin, paman bisa menambahkan air panas ke dalamnya, atau mungkin bisa meminta Nimas Niken untuk menyalurkan energi ke dalamnya." ucap Wisanggeni.
"Baik Den.., saya akan ada disini menemani Ki Brahmono." sahut Bisma patuh.
"Berapa lama Kang, ayahanda harus berendam dalam ramuan ini?" Niken bertanya dengan suara lirih. Wisanggeni tersenyum.
"Tunggu sampai lima dupa habis Nimas. Ingat pesan yang tadi saya sampaikan, salurkan energi pada air rendaman agar proses peresapan racikan jamu ke rasa sakit yang diderita paman dapat lebih efektif hasilnya."
"Kemudian selama proses perendaman ini, mohon ijin saya tidak bergabung dulu. Karena saya harus melakukan meditasi untuk sementara waktu, karena harus mengembalikan energi saya kembali." lanjut Wisanggeni.
__ADS_1
"Maafkan saya Ki Sanak.., keadaan yang saya derita ini jadi membuat repot nak Wisanggeni. Semoga dengan meditasi dan istirahat sebentar, nak Wisang kembali pulih tenaganya." dengan rasa sungkan, Ki Brahmono meminta maaf pada Wisanggeni.
"Tidak perlu begitu paman, sebagai sesama manusia kita memang harus saling menjaga dan membantu. Ada hal yang harus kita jaga, termasuk salah satunya agar kita tidak sengaja menyakiti hati manusia lainnya." ucap Wisanggeni kembali tersenyum.
Mendengar perkataan terakhir Wisanggeni, Niken menundukkan kepala. Rasa malu menyergap hatinya, dia teringat, saat bersama dengan tetua Klan Suroloyo dan Guru Muda di perguruan Kilat Merah, mereka berkunjung ke Klan Bhirowo. Bahkan tanpa persetujuan dari Ki Brahmono, secara sepihak dia sudah memutuskan pertunangan antara dia dengan Wisanggeni. Waktu itu dia tidak berpikir jika akan banyak hati yang tersakiti dengan keputusan yang dia ambil. Semua itu hanya demi ambisi pribadinya, ingin menjadi pendekar perempuan di wilayah situ.
"Hatimu sungguh mulia nak.., alangkah senangnya jika saya bisa mengenal kedua orang tuamu. Sungguh sangat beruntung mereka memiliki putra yang sangat berbudi sepertimu." ucap Ki Brahmono tulus, dia berandai-andai jika laki-laki muda itu bisa menjadi menantunya. Tetapi melihat wajah lembut dan cantik Rengganis yang selalu menemani dan mengawal Wisanggeni, dia hanya bisa tersenyum kecut.
"Baiklah paman.., saya akan kembali dulu ke kamar." Wisanggeni kemudian berpamitan untuk istirahat. Dia sengaja belum mau membuka identitas siapa dirinya untuk menjaga rasa dari laki-laki tua itu.
**************
Keringat sebesar butiran jagung mengalir di sepanjang tubuh Ki Brahmono, dengan sekuat tenaga dia menahan rasa sakit yang sangat sulit untuk dialihkan. Rasa pedih, rasa seperti ditusuk-tusuk jarum, bahkan seperti ada batang bambu yang menusuk belakang punggungnya. Ki Brahmono mengalirkan tenaga dalam yang masih dapat dia kendalikan, dibantu Niken yang juga membantu mengalirkan energinya untuk menguatkan ketahanannya.
"Tenanglah Nimas.., ayah masih bisa untuk menahannya. Auwww..." Ki Brahmono kembali berteriak. Meskipun dia merasakan sakit yang teramat sangat, laki-laki tua itu bersyukur. Karena sebelumnya dia tidak bisa merasakan apapun, karena hampir seluruh badannya mengalami kelumpuhan dan mati rasa.
Niken dengan perasaan was-was ingin membantu meredakan derita yang dialami ayahndanya, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Ki Brahmono masih terus menggigit bibir dan memejamkan matanya. Sebentar kemudian matanya dibuka, dan dipejamkan lagi.
"Paman Bisma.., ambilkan air panas!! Airnya sudah mulai terasa dingin." Niken meminta Bisma. Dengan sigap pelayan itu segera mengambilkan termos, kemudian Niken memasukkannya ke dalam bak kayu.
Semakin siang, ayahnda Niken semakin kesakitan. Tubuhnya semakin lemas, dan teriakan kesakitan sudah tidak mampu dia keluarkan lagi.
__ADS_1
"Sssshh..," Ki Brahmono mendesis kesakitan, dia mengigit bibirnya.
"Sabarlah ayah.., sebentar lagi berakhir. Ini ikhtiar untuk kesembuhan ayahnda.." terdengar Niken membesarkan hati Ki Brahmono. Beberapa tabib sudah didatangkan untuk kesembuhan ayahndanya, tetapi mereka menyerah kalah setelah beberapa kali mencobanya. Baru kali ini, Niken merasa yakin dengan upaya pengobatan yang diberikan mantan tunangannya itu.
"Nimas..., istirahat dan makanlah dulu, biar paman Bisma yang mengawasi dan mengalirkan energi untuk Ki Brahmono!" Bisma meminta Niken untuk istirahat. Dia tidak tega melihat Niken semakin was-was melihat penderitaan ayahnya.
"Nanti saja paman, Niken masih kuat. Niken mau mendampingi ayahnda dalam menjalani pengobatan, apalagi Kang Wiraga juga belum datang kesini untuk mengunjungi ayahnda." Niken menolak permintaan Bisma.
"Mungkin Den Wiraga masih ada kesibukan atau pekerjaan yang belum bisa untuk ditinggalkan Nimas." Wiraga adalah putra pertama dari Ki Brahmono, yang sejak memiliki pasangan hidup, memutuskan untuk hidup sendiri di kota lain.
"Iya paman, Niken juga paham. Apalagi mbakyu Mayang juga baru saja melahirkan keponakan Niken." Niken menimpali perkataan Bisma sambil tersenyum.
Bisma akhirnya membiarkan putri kedua dari pemimpin Klan Suroloyo ikut mengawasi langsung pengobatan ayahndanya, paling tidak ada yang membantunya untuk melayani Ki Brahmono.
Menjelang sore hari, akhirnya dupa keempat habis terbakar. Ki Brahmono sudah merasakan lemas, dan dengan dibantu Bisma, pemimpin Klan itu diangkat dan didudukkan di atas kursi.
"Ayah sekarang minum dulu ya!" Niken menyerahkan cangkir berisi air rebusan serai dan jahe merah, yang dia campur dengan gula aren. Ki Brahmono menerima cangkir kemudian meminum air hangat yang diberikan oleh putrinya.
"Bagaimana ayah.., mau istirahat dulu atau sudah bisa makan?" Niken bertanya pada Ki Brahmono.
"Ayah istirahat dulu saja nak..., nanti jika sudah ingin makan, ayah akan meminta Bisma untuk menyiapkannya." Ki Brahmono mencoba menggerakkan kakinya tetapi belum bisa. Dia kembali meminum wedang serai jahe sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
__ADS_1
*********************